Saturday, 14 February 2026
Selular.ID -

SMIC Terjepit Kelangkaan DRAM, Ambisi Chip Tiongkok Hadapi Tembok Baru

BACA JUGA

Selular.id – Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), produsen chip terbesar asal Tiongkok, kini tengah menghadapi tantangan serius akibat kelangkaan pasokan memori dinamis akses acak atau DRAM yang melanda pasar global.

Meskipun pemerintah Tiongkok telah menyuntikkan dana besar-besaran untuk memperkuat kemandirian teknologi, ketergantungan pada komponen memori kelas atas ternyata masih menjadi titik lemah yang sulit dihindari.

Krisis pasokan ini mengancam lini produksi berbagai perangkat elektronik, mulai dari ponsel pintar hingga infrastruktur pusat data yang sedang berkembang pesat di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Kondisi ini mencerminkan dinamika industri semikonduktor yang sangat kompleks, di mana kemampuan memproduksi prosesor saja tidak cukup tanpa dukungan ekosistem memori yang stabil.

SMIC, yang selama ini menjadi ujung tombak Tiongkok dalam menghadapi sanksi perdagangan Amerika Serikat, harus memutar otak untuk mengamankan stok DRAM agar operasional pabrik tetap berjalan optimal.

Kelangkaan ini bukan sekadar masalah logistik, melainkan dampak dari ketidakseimbangan antara permintaan perangkat kecerdasan buatan (AI) yang melonjak dengan kapasitas produksi vendor memori global yang masih terbatas.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa para pemasok utama DRAM dunia, seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron, cenderung memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan server AI global.

Hal ini menyebabkan produksi DRAM standar, yang biasa digunakan dalam perangkat elektronik konsumen dan industri umum, menjadi terbengkalai.

SMIC yang banyak melayani pabrikan perangkat menengah di Tiongkok pun merasakan dampak langsung berupa perpanjangan waktu tunggu pengiriman (lead time) dan lonjakan biaya pengadaan komponen yang cukup signifikan.

Sejarah mencatat bahwa Tiongkok telah berupaya membangun raksasa memori lokal seperti ChangXin Memory Technologies (CXMT) untuk mengurangi ketergantungan pada pihak luar.

Namun, teknologi yang dimiliki produsen domestik saat ini masih terpaut beberapa generasi di belakang pemimpin pasar global. SMIC berada dalam posisi yang sulit karena produk chip buatan mereka sering kali harus dipasangkan dengan unit memori yang memiliki spesifikasi presisi.

Ketika stok memori tersebut menipis di pasar internasional, produk akhir dari pelanggan SMIC tidak dapat diselesaikan, yang secara otomatis menghambat siklus pendapatan perusahaan.

Dinamika bisnis semikonduktor di Asia Timur juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang membuat aliran alat produksi chip ke Tiongkok semakin diperketat.

SMIC tidak hanya berjuang melawan kelangkaan material fisik, tetapi juga hambatan akses terhadap teknologi manufaktur terbaru.

Tanpa akses ke mesin litografi paling canggih, SMIC terpaksa memaksimalkan node yang ada, namun tetap saja efisiensi produksi mereka sangat bergantung pada ketersediaan komponen pendukung dari rantai pasok global yang saat ini sedang mengalami disrupsi.

Beberapa analis industri melihat bahwa situasi ini bisa memaksa SMIC untuk melakukan renegosiasi kontrak dengan para pelanggannya.

Biaya produksi yang membengkak akibat mahalnya harga DRAM di pasar spot kemungkinan besar akan diteruskan ke konsumen akhir. Di sisi lain, pemerintah Tiongkok terus mendorong integrasi yang lebih erat antara desainer chip, produsen seperti SMIC, dan perusahaan memori lokal.

Langkah ini diambil guna menciptakan sirkuit pasokan tertutup yang tidak mudah goyah oleh fluktuasi pasar global, meskipun proses integrasi tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Rencana pengembangan ke depan bagi SMIC melibatkan diversifikasi portofolio produk untuk menyasar sektor-sektor yang tidak terlalu sensitif terhadap kelangkaan memori kelas atas, seperti chip untuk otomotif dan perangkat IoT (Internet of Things).

Sektor otomotif, khususnya kendaraan listrik, menjadi pasar yang sangat menggiurkan di Tiongkok dan memerlukan stabilitas pasokan chip yang berbeda dibandingkan sektor komputer atau ponsel pintar. Dengan mengalihkan sebagian fokus ke sana, SMIC berharap dapat menjaga arus kas tetap positif di tengah ketidakpastian pasokan DRAM global.

Melihat perkembangan yang ada, tantangan yang dihadapi SMIC menjadi pengingat bahwa ambisi kedaulatan teknologi memerlukan penguasaan seluruh spektrum komponen, bukan hanya unit pemrosesan pusat.

Keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya dalam sebuah perangkat elektronik membuat posisi SMIC tetap rentan selama ekosistem pendukung di dalam negeri belum mencapai level kematangan yang setara dengan pemain global.

Pergerakan pasar di kuartal mendatang akan sangat menentukan apakah SMIC mampu melewati periode sulit ini atau harus melakukan penyesuaian target produksi secara besar-besaran.

Ke depannya, tekanan pada rantai pasok ini kemungkinan akan mendorong akselerasi riset dan pengembangan di sektor memori domestik Tiongkok.

Meskipun saat ini SMIC masih harus bersabar menghadapi antrean pasokan global, dorongan untuk menciptakan solusi mandiri akan semakin kuat.

Keberhasilan SMIC dalam menavigasi krisis DRAM ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana industri teknologi Tiongkok dapat bertahan di tengah isolasi teknologi dan persaingan pasar yang semakin ketat.

Baca juga : Taiwan Masukan Huawei Techologies dan SMIC ke Daftar Hitam

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU

5 HP Vivo RAM 8GB Termurah Februari 2026