Thursday, 5 February 2026
Selular.ID -

Sejumlah Dampak dari Negara yang Lambat Adopsi 5G: Terancam Kehilangan Daya Saing Digital

BACA JUGA

Selular.ID – Ketertinggalan dalam adopsi jaringan 5G menjadi risiko serius bagi negara yang bergerak lambat mengembangkan infrastruktur telekomunikasi generasi kelima.

Pasalnya di tengah percepatan transformasi digital global pada sektor industri, layanan publik, dan ekonomi berbasis data.

Situasi ini muncul ketika 5G telah diimplementasikan secara luas di berbagai negara sejak awal dekade 2020-an, sementara sebagian negara masih berkutat pada optimalisasi 4G.

Laporan berbagai lembaga industri telekomunikasi global menunjukkan bahwa 5G tidak hanya berfungsi sebagai peningkatan kecepatan internet, tetapi juga menjadi fondasi bagi teknologi lanjutan seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, komputasi awan, dan otomatisasi industri.

Negara yang tertinggal dalam adopsi 5G berpotensi kehilangan momentum ekonomi digital yang nilainya terus tumbuh setiap tahun.

Dalam konteks persaingan global, kesiapan jaringan 5G kini dipandang sebagai indikator kematangan ekosistem digital suatu negara.

Keterlambatan implementasi bukan hanya soal teknis jaringan, tetapi juga menyangkut kebijakan spektrum, kesiapan industri, serta arah pembangunan ekonomi jangka panjang.

Indonesia sendiri dalam rencana strategis (Renstra) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru menargetkan jaringan 5G mencapai 7% di akhir masa jabatan Presiden Prabowo Subianto.

Tentu saja hal ini akan membuat Indonesia tertinggal dibanding negara lainnya hingga sejumlah dampak karena lambatnya mengadopsi jaringan 5G.

Setelah Selular.id rangkum, berikut sejumlah dampak maupun kerugian dari negara yang terlambat mengadopsi jaringan 5G.

Produktivitas Industri Tertinggal

Salah satu dampak utama dari lambatnya adopsi 5G adalah terhambatnya peningkatan produktivitas industri.

Jaringan 5G dirancang untuk mendukung komunikasi mesin ke mesin secara real-time dengan latensi sangat rendah, yang menjadi kunci dalam penerapan otomasi pabrik, robotika, dan sistem manufaktur cerdas.

Tanpa dukungan 5G, sektor industri sulit mengadopsi konsep smart factory, di mana proses produksi dapat dipantau dan dikendalikan secara presisi melalui jaringan nirkabel.

Akibatnya, biaya operasional tetap tinggi dan efisiensi produksi tertinggal dibanding negara yang lebih dahulu memanfaatkan teknologi ini.

Daya Saing Ekonomi Digital Melemah

Ekonomi digital sangat bergantung pada konektivitas berkecepatan tinggi dan stabil.

Negara yang lambat mengadopsi 5G berisiko mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi digital, terutama pada sektor e-commerce, layanan berbasis aplikasi, dan ekonomi kreatif digital.

Jaringan 5G memungkinkan pengembangan layanan baru seperti realitas tertambah (augmented reality), realitas virtual, dan streaming interaktif berkualitas tinggi.

Tanpa jaringan yang memadai, pelaku usaha lokal sulit bersaing dengan perusahaan dari negara yang infrastrukturnya lebih maju, baik di pasar domestik maupun global.

Investasi Asing Berpotensi Menurun

Ketersediaan infrastruktur digital menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing dalam menentukan lokasi investasi.

Negara yang belum siap dengan jaringan 5G cenderung kurang menarik bagi investasi teknologi tinggi, termasuk pusat data, industri semikonduktor, dan perusahaan berbasis inovasi.

Investor umumnya mencari lingkungan yang mendukung pengembangan teknologi masa depan.

Ketika jaringan 5G belum tersedia secara luas, risiko operasional meningkat dan potensi pengembangan bisnis menjadi terbatas, sehingga aliran modal dapat beralih ke negara lain yang lebih siap secara infrastruktur.

Baca juga:

Inovasi Teknologi Melambat

Jaringan 5G berperan sebagai enabler bagi berbagai inovasi teknologi.

Keterlambatan adopsi jaringan ini berdampak langsung pada laju inovasi nasional, baik di sektor swasta maupun riset akademik.

Banyak aplikasi berbasis IoT, kendaraan otonom, hingga layanan kesehatan digital membutuhkan konektivitas ultra-andal yang hanya dapat dipenuhi oleh 5G.

Tanpa ekosistem 5G yang matang, pengembang lokal kesulitan melakukan uji coba dan komersialisasi teknologi baru.

Hal ini dapat memperlebar kesenjangan inovasi antara negara maju dan negara yang masih tertinggal dalam pengembangan jaringan.

Kualitas Layanan Publik Tidak Optimal

Transformasi digital layanan publik sangat bergantung pada kualitas jaringan telekomunikasi. 5G mendukung pengembangan smart city, sistem transportasi cerdas, pemantauan lingkungan real-time, serta layanan darurat berbasis data.

Negara yang lambat mengadopsi 5G berpotensi mengalami keterbatasan dalam menyediakan layanan publik digital yang efisien dan responsif.

Akibatnya, manfaat teknologi bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat tidak dapat dimaksimalkan secara merata.

Ketergantungan pada Teknologi Asing Meningkat

Keterlambatan pembangunan 5G juga dapat meningkatkan ketergantungan pada solusi teknologi asing, baik dari sisi perangkat, platform, maupun layanan digital.

Ketika ekosistem lokal tidak berkembang, negara cenderung menjadi pasar konsumsi, bukan pusat produksi atau inovasi teknologi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kemandirian digital dan posisi tawar negara dalam rantai nilai global industri teknologi.

Kesenjangan Digital Semakin Lebar

Alih-alih mempersempit kesenjangan digital, keterlambatan adopsi 5G justru berpotensi memperlebar jurang antara wilayah dan kelompok masyarakat.

Negara yang belum siap biasanya memprioritaskan pembangunan jaringan di area terbatas, sehingga manfaat teknologi hanya dirasakan oleh segmen tertentu.

Kondisi ini dapat memperlambat pemerataan akses digital, terutama bagi daerah industri baru, kawasan pendidikan, dan pusat inovasi di luar wilayah utama.

Peluang Lapangan Kerja Baru Terlewat

Ekosistem 5G membuka peluang kerja baru di bidang pengembangan aplikasi, integrasi sistem, keamanan siber, dan analitik data.

Negara yang lambat mengadopsi teknologi ini berisiko kehilangan potensi penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi, karena industri terkait tumbuh di wilayah lain yang lebih siap.

Sumber daya manusia lokal juga berpotensi tertinggal dalam penguasaan teknologi mutakhir, sehingga daya saing tenaga kerja nasional menurun di pasar global.

Dampak Jangka Panjang terhadap Pertumbuhan Nasional

Dalam jangka panjang, keterlambatan adopsi 5G dapat memengaruhi arah pertumbuhan nasional. Infrastruktur digital kini menjadi tulang punggung berbagai sektor strategis, mulai dari industri manufaktur hingga layanan keuangan dan pendidikan.

Tanpa fondasi jaringan yang memadai, negara akan kesulitan mengejar target transformasi digital yang berkelanjutan dan inklusif.

Kesimpulan

Lambatnya adopsi jaringan 5G bukan sekadar isu teknis telekomunikasi, melainkan tantangan strategis yang berdampak luas pada ekonomi, industri, dan daya saing nasional.

Di tengah persaingan global yang semakin berbasis teknologi, kesiapan jaringan generasi kelima menjadi faktor penting dalam menentukan posisi suatu negara di peta ekonomi digital dunia.

Keputusan dan kecepatan dalam mengembangkan 5G akan memengaruhi kemampuan negara memanfaatkan peluang inovasi, menarik investasi, serta meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat di era konektivitas cerdas.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU