Selular.ID – Realme resmi memulai proses pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan di India.
Ini sebagai bagian dari integrasi kembali brand tersebut ke dalam struktur Oppo setelah beberapa tahun beroperasi secara mandiri di pasar global.
PHK ini terpantau terjadi pada awal Februari 2026, mengikuti pengumuman strategis yang menyatakan Realme akan menjadi sub-brand di bawah payung Oppo kembali.
Langkah ini muncul setelah Realme, yang sebelumnya berdiri sendiri sebagai entitas merek sejak 2018, mengambil keputusan untuk kembali menjadi sub-brand Oppo di bawah BBK Electronics, perusahaan teknologi asal Tiongkok yang menaungi beberapa merek ponsel besar.
Menurut laporan, PHK ini terutama terjadi di tim penjualan dan pemasaran, termasuk area sales manager serta staf lapangan di sejumlah negara bagian seperti Gujarat, Delhi, Haryana, dan Punjab.
Beberapa staf telah diminta menyerahkan surat pengunduran diri dengan tenggat tertentu pada akhir April 2026.
Laporan industri menyebut bahwa pengurangan staf terjadi karena Realme dan Oppo memusatkan kembali beberapa fungsi operasional yang sebelumnya berjalan terpisah.
Struktur organisasi yang bersifat terintegrasi ini diproyeksikan mengurangi duplikasi peran, sekaligus memaksimalkan efisiensi sumber daya lewat pemanfaatan jaringan servis dan distribusi Oppo yang lebih luas dibanding realme, terutama di segmen ritel dan layanan purna jual.
Menurut informasi yang diperoleh dari sumber ritel di lapangan, para karyawan yang terdampak telah menerima arahan terkait kemungkinan pemangkasan posisi, sebagian fungsi operasional Realme kini disesuaikan untuk selaras dengan sistem penjualan dan layanan yang dimiliki Oppo.
Perubahan ini menunjukkan bahwa strategi korporasi realme melibatkan konsolidasi manajemen, pemasaran, hingga dukungan purna jual ke dalam jaringan OPPO yang sudah mapan di India.
Realme awalnya dibentuk sebagai sub-brand Oppo pada 2018, lalu berubah menjadi perusahaan yang berdiri sendiri dalam beberapa tahun terakhir ketika brand ini tumbuh pesat di berbagai pasar termasuk India, Asia Tenggara dan Eropa.
Namun tekanan biaya operasional dan kebutuhan untuk menyatukan strategi bisnis dengan induk perusahaan mendorong keputusan reintegrasi tersebut.
Laporan dari media teknologi juga menunjukkan bahwa PHK bukan sekadar terjadi pada staf penjualan semata, tetapi sebelumnya sejumlah pengurangan tenaga kerja di divisi riset dan pengembangan (R&D) Realme telah berlangsung sejak akhir 2025.
Hal ini mencerminkan penyesuaian yang lebih luas terkait struktur operasional di berbagai lini bisnis realme sebelum pengumuman resmi reintegrasi.
Meski PHK menjadi kenyataan di tingkat staf operasional, beberapa analis mencatat bahwa realme diperkirakan akan tetap melanjutkan peluncuran produknya di pasar global.
Perangkat Realme yang sudah ada di pasar maupun rencana peluncuran model baru di masa mendatang tidak dipastikan akan dibatalkan.
Sebagaimana PHK tersebut berjalan beriringan dengan integrasi merek kembali ke Oppo, dan bukan sebagai langkah keluar dari bisnis ponsel.
Dinamika ini juga memicu perhatian di kalangan komunitas industri mengenai bagaimana realme akan mempertahankan strategi pemasaran, lini produk, serta dukungan pelanggan setelah reintegrasi organisasi ini tuntas.
Integrasi dengan jaringan servis Oppo yang lebih luas diproyeksikan dapat memperluas jangkauan layanan purna jual bagi pengguna realme di berbagai wilayah, termasuk akses ke pusat layanan yang dikelola Oppo.
Langkah integrasi Realme sebagai sub-brand Oppo mencerminkan trend konsolidasi merek di industri smartphone global.
Di mana perusahaan teknologi besar mencari cara untuk meningkatkan efisiensi operasional dan sumber daya melalui sinergi lintas merek di bawah satu payung korporasi.
Baca Juga:Faktor Sumber Daya dan Efisiensi Jadi Alasan Utama Integrasi Realme dan OnePlus Ke Dalam Oppo
Meski PHK menjadi bagian dari perubahan struktur internal, realme tetap melanjutkan operasional pasar serta peluncuran perangkat sesuai kebutuhan konsumen di seluruh dunia.




