Monday, 23 February 2026
Selular.ID -

Perang BTS 5G: Pengamat Sebut Siapa yang Paling Unggul

BACA JUGA

Selular.ID – Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi memberikan pandanganya terkait perang infrastruktur base transceiver station (BTS) 5G dari tiga operator seluler di Indonesia.

Seperti Selular beritakan sebelumnya, Operator seluler di Indonesia seperti sedang melakukan perang infrastruktur base transceiver station (BTS) 5G di awal tahun 2026 ini.

Pasalnya, baik Telkomsel, Indosat dan XLSmart sedang pamer jumlah base transceiver station (BTS) 5G yang telah ketiganya capai hingga akhir tahun 2025.

Lalu siapakah yang akan menjadi pemenang dari perang BTS 5G dari tiga operator seluler ini?

Heru menjelaskan persaingan antara tiga operator seluler baik Telkomsel, Indosat maupun XLSmart masih dinamis.

“Memang saat ini masih dinamis pergerakannya, namun kalau kita lihat baik Telkomsel, Indosat maupun XLSmart ini memiliki kelebihan masing-masing,” ujar Heru kepada Selular, Jumat (20/2/2026).

Telkomsel, menurutnya, relatif unggul dari sisi kesiapan spektrum, kapasitas, dan kualitas jaringan, termasuk alokasi khusus sekitar 30 MHz untuk 5G dan performa kecepatan terbaik.

Untuk Indosat, Heru menyebut agresif dari sisi jumlah BTS 5G, bahkan memimpin jumlah site, sehingga unggul dalam ekspansi cepat.

Sementara, XLSmart memiliki keunggulan spektrum 2300 MHz yang cukup lebar, tetapi masih fokus pemerataan bertahap.

Baca juga:

“Secara keseluruhan, Telkomsel unggul kualitas dan kesiapan spektrum, Indosat unggul kecepatan ekspansi, dan XLSmart berpotensi kuat pasca konsolidasi spektrum. Jadi tiap operator memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,” ungkapnya.

Harus Selektif dan Bertahap

Heru juga menilai Indonesia memang harus mulai memasuki fase adopsi 5G.

“Indonesia mulai memasuki fase awal adopsi 5G dengan penetrasi sekitar 10%, sehingga ekspansi penting untuk membangun fondasi jangka panjang,” ujar Heru kepada Selular, (20/2/2026).

Heru menambahkan dengan adanya perlombaan infrastruktur BTS 5G ini, menurutnya sudah tepat.

Namun, lanjut Heru ada yang harus operator seluler di Indonesia perhatikan ketika operator seluler ini berlomba-lomba membangun BTS 5G.

“Ya, menurut saya ini momentum yang tepat, tetapi harus selektif,” ungkapnya.

Heru menjelaskan operator perlu menyeimbangkan investasi dengan kesiapan ekosistem seperti perangkat, backbone fiber, dan use case industri.

“Strategi bertahap, fokus kota besar dan kawasan industri, lebih rasional dibanding ekspansi nasional langsung,” jelasnya.

“Dengan trafik data terus tumbuh, investasi 5G sekarang akan memperkuat daya saing dan efisiensi jaringan dalam 3–5 tahun ke depan,” lanjutnya.

Keterbatasan Spektrum

Heru juga menambahkan keterbatasan spektrum adalah hambatan utama dalam pembangunan BTS 5G ini.

“Spektrum mid-band ideal 5G seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz serta 700 MHz belum dimanfaatkan operator karena pemerintah masih merencanakan lelang tambahan untuk memperluas kapasitas,” ungkapnya.

Saat ini. operator banyak mengandalkan spektrum eksisting (misalnya 1800 MHz, 2100 MHz, 2300 MHz) dengan teknologi seperti dynamic spectrum sharing.

“Konsekuensinya, kapasitas dan kualitas 5G belum optimal. Tanpa tambahan spektrum baru, ekspansi bisa tetap berjalan, tetapi kecepatan dan efisiensinya belum mencapai potensi penuh 5G,” tandas Heru.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU