Selular.ID – Operator seluler di Indonesia seperti sedang melakukan perang infrastruktur base transceiver station (BTS) 5G di awal tahun 2026 ini.
Pasalnya, baik Telkomsel, Indosat dan XLSmart sedang pamer jumlah base transceiver station (BTS) 5G yang telah ketiganya capai hingga akhir tahun 2025.
Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai Indonesia memang harus mulai memasuki fase adopsi 5G.
“Indonesia mulai memasuki fase awal adopsi 5G dengan penetrasi sekitar 10%, sehingga ekspansi penting untuk membangun fondasi jangka panjang,” ujar Heru kepada Selular, (20/2/2026).
Heru menambahkan dengan adanya perlombaan infrastruktur BTS 5G ini, menurutnya sudah tepat.
Namun, lanjut Heru ada yang harus operator seluler di Indonesia perhatikan ketika operator seluler ini berlomba-lomba membangun BTS 5G.
“Ya, menurut saya ini momentum yang tepat, tetapi harus selektif,” ungkapnya.
Baca juga:
- Diam-Diam Indosat Ungguli Telkomsel Dalam Pengoperasian BTS 5G
- ATSI Minta Komdigi Percepat Pemberantasan Fake BTS, Biang Penipuan Digital
Heru menjelaskan operator perlu menyeimbangkan investasi dengan kesiapan ekosistem seperti perangkat, backbone fiber, dan use case industri.
“Strategi bertahap, fokus kota besar dan kawasan industri, lebih rasional dibanding ekspansi nasional langsung,” jelasnya.
“Dengan trafik data terus tumbuh, investasi 5G sekarang akan memperkuat daya saing dan efisiensi jaringan dalam 3–5 tahun ke depan,” lanjutnya.
Keterbatasan Spektrum
Heru juga menambahkan keterbatasan spektrum adalah hambatan utama dalam pembangunan BTS 5G ini.
“Spektrum mid-band ideal 5G seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz serta 700 MHz belum dimanfaatkan operator karena pemerintah masih merencanakan lelang tambahan untuk memperluas kapasitas,” ungkapnya.
Saat ini. operator banyak mengandalkan spektrum eksisting (misalnya 1800 MHz, 2100 MHz, 2300 MHz) dengan teknologi seperti dynamic spectrum sharing.
“Konsekuensinya, kapasitas dan kualitas 5G belum optimal. Tanpa tambahan spektrum baru, ekspansi bisa tetap berjalan, tetapi kecepatan dan efisiensinya belum mencapai potensi penuh 5G,” tandas Heru.



