Selular.ID – Produsen memori global kini dilaporkan mengambil langkah tegas dengan menerapkan strategi “zero chance” dalam kesepakatan kontrak DRAM demi menghindari kerugian di tengah fluktuasi pasar teknologi yang tidak menentu.
Kebijakan ini memaksa para pembeli untuk menyepakati harga yang lebih tinggi dalam setiap perjanjian baru, sebuah langkah yang diambil pemasok untuk mengamankan margin keuntungan mereka.
Dinamika ini diprediksi akan memberikan tekanan besar pada industri manufaktur perangkat elektronik, mulai dari komputer pribadi (PC) hingga ponsel pintar, yang sangat bergantung pada stabilitas harga komponen memori.
Langkah agresif dari pemasok memori ini sebenarnya berakar dari upaya pemulihan setelah industri sempat mengalami penurunan permintaan yang cukup tajam pada tahun-tahun sebelumnya.
Kini, ketika teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai mendominasi pasar dan membutuhkan memori berkecepatan tinggi, para produsen merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat.
Mereka tidak lagi bersedia berkompromi dengan harga rendah yang dapat menggerus kesehatan finansial perusahaan di jangka panjang.
Kondisi pasar yang mulai menunjukkan pengetatan pasokan juga menjadi katalisator utama bagi kebijakan “hardwiring” atau penguncian harga tinggi dalam kontrak-kontrak baru tersebut.
Pemasok besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron mulai memprioritaskan produksi memori canggih untuk server AI, yang secara tidak langsung mengurangi kapasitas produksi untuk memori standar yang digunakan pada perangkat konsumen biasa.
Dampak Langsung pada Industri PC dan Konsumen
Pengetatan kontrak DRAM ini diperkirakan akan langsung berdampak pada struktur biaya produksi bagi vendor PC global. Selama ini, komponen memori merupakan salah satu variabel biaya yang paling fluktuatif dalam pembuatan laptop maupun komputer meja.
Dengan adanya sistem kontrak yang mengunci harga di level tinggi, vendor tidak lagi memiliki ruang untuk melakukan negosiasi harga murah saat stok di pasar melimpah.
Bagi konsumen akhir, hal ini menandakan kemungkinan kenaikan harga perangkat elektronik dalam waktu dekat. Jika vendor PC maupun ponsel pintar tidak mampu menyerap kenaikan biaya komponen tersebut, maka skenario yang paling mungkin terjadi adalah membebankan selisih harga kepada pembeli.
Di tengah daya beli yang masih dalam tahap pemulihan, lonjakan harga perangkat ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pasar ritel teknologi.
Pergeseran Prioritas ke Teknologi Memori Generasi Terbaru
Selain masalah harga, industri juga tengah menghadapi transisi teknologi dari DDR4 ke DDR5 dan LPDDR5X. Pemasok memori cenderung mendorong adopsi teknologi generasi terbaru ini melalui skema kontrak yang lebih ketat.
DDR5 menawarkan kecepatan data yang jauh lebih tinggi dan efisiensi energi yang lebih baik, yang sangat dibutuhkan oleh aplikasi modern berbasis AI dan pemrosesan data berat.
Namun, transisi ini tidaklah murah. Biaya produksi untuk modul memori generasi terbaru masih jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Dengan strategi pemasok yang enggan mengambil risiko kerugian, investasi pada teknologi baru ini sepenuhnya dibebankan melalui harga kontrak yang sudah terkunci sejak awal.
Vendor perangkat mau tidak mau harus mengikuti aturan main ini jika ingin mendapatkan pasokan komponen yang stabil.
Strategi Vendor Menghadapi Kenaikan Biaya
Menghadapi sikap tegas para pemasok memori, beberapa vendor perangkat mulai menyusun strategi mitigasi. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan meningkatkan kapasitas stok memori sejak dini sebelum harga kontrak benar-benar terkunci di level tertinggi.
Selain itu, optimalisasi penggunaan memori pada perangkat lunak juga terus dilakukan agar perangkat tetap memiliki performa kompetitif meskipun kapasitas memori yang disematkan tidak sebesar generasi sebelumnya.
Beberapa produsen juga mulai melirik alternatif pemasok dari wilayah lain atau menjajaki kerjasama jangka panjang yang lebih stabil guna mendapatkan kepastian pasokan.
Namun, mengingat pasar memori global didominasi oleh sedikit pemain besar, ruang gerak vendor untuk beralih sebenarnya cukup terbatas. Persaingan antar vendor untuk mendapatkan jatah pasokan memori premium diperkirakan akan semakin intens dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi pasar memori yang semakin kaku ini memberikan gambaran bahwa era komponen murah mungkin sudah berakhir seiring dengan meningkatnya standar teknologi.
Para pelaku industri kini harus lebih cermat dalam mengelola rantai pasok mereka agar tetap bisa menawarkan produk yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Baca juga :Â Harga Kontrak DRAM Diproyeksikan Melonjak Hingga 50% di Kuartal Ini




