Friday, 13 February 2026
Selular.ID -

Internet Rakyat Segera Uji Layak Operasi, Simak Tantanganya

BACA JUGA

Selular.ID – MyRepublic Indonesia segera melakukan ULO (Uji Layak Operasi) untuk MyRepublic Air atau yang sering disebut internet rakyat.

MyRepublic Air sendiri merupakan proyek MyRepublic untuk mengembangkan layanan internet unlimited berbasis Fixed Wireless Access (FWA).

FWA dari MyRepublic Air ini nantinya mendapat dukungan teknologi True 5G-Fiber Quality dan Truly Unlimited di Tanah Air.

MyRepublic Indonesia sendiri merupakan perusahaan pemenang lelang spektrum pita frekuensi 1,4 Ghz yang dilaksanakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) beberapa waktu lalu.

Tidak hanya satu, MyRepublic Indonesia memenangkan dua regional dalam lelang tersebut.

Kedua regional yang MyRepublic menangkan dalam lelang spektrum pita frekuensi 1,4 Ghz yakni regional dua untuk wilayah Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara. Kemudian regional tiga untuk wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Hendra Gunawan, Chief Technology Officer (CTO) MyRepublic Indonesia menjelaskan jika FWA ini nantinya berbeda dengan fixed broadband FTTH.

Jika FTTH yang menggunakan kabel optik, maka FWA ini menggunakan spektrum pita frekuensi.

“Ditambah dengan frekuensi 1,4 Ghz ini membuat radiusnya bisa lumayan jauh. Jadi, kalau di rumah itu bisa tembus sampai tiga level dinding. Ditambah dengan bandwidth tinggi yang bisa disesuaikan dengan instruksi pemerintah,” jelasnya.

Baca juga:

Segera Lakukan ULO

Hendra menjelaskan tantangan utama dari penggunaan spektrum pita frekuensi 1,4 Ghz ini memang ekosistemnya masih baru.

Dia juga menjelaskan jika Indonesia negara pertama yang menggunakan spektrum pita frekuensi 1,4 Ghz untuk Fixed Wireless Access (FWA).

“Untuk menghadapi tantangan tersebut, MyRepublic Indonesia terus melakukan development mulai dari radio hingga jaringan, kemudian selalu melakukan tes,” ungkapnya.

“Semoga dalam waktu dekat kami bisa melakukan ULO (Uji Layak Operasi) dengan Komdigi untuk MyRepublic Air dan hasilnya sesuai harapan,” sambung Hendra.

MyRepublic Indonesia sendiri optimis bahwa teknologi FWA dengan spektrum pita frekuensi 1,4 Ghz dapat segera mereka realisasikan bersama ZTE.

Apalagi, menurut Hendra, kerja sama antara MyRepublic Indonesia dan ZTE sudah berlangsung cukup lama sehingga kolaborasi keduanya bisa menghasilkan sesuatu yang besar bagi Indonesia.

Perbedaan FWA dan FTTH

Indonesia sebentar lagi tidak hanya memiliki dua akses internet yakni fixed broadband (FTTH) dan mobile broadband.

Pasalnya, kini infrastruktur fixed wireless access (FWA) tengah dibangun untuk melengkapi keduanya.

Lalu apa perbedaan antara fixed broadband dengan kabel serat optik (FTTH) dengan fixed wireless access (FWA).

Fixed broadband (FTTH) dan fixed wireless access (FWA) sama-sama tidak bisa berpindah tempat seperti mobile broadband yang lebih fleksibel.

Tetapi hal yang menjadi pembeda adalah FTTH ini masih menggunakan kabel untuk menghubungkan ke jaringan demi memancarkan internet atau WiFi.

Sementara itu, untuk FWA ini, tidak memerlukan kabel lagi untuk menghubungkan internet ke router WiFi.

Hal ini karena FWA menggunakan spektrum pita frekuensi untuk menghantarkan internet ke rumah-rumah.

Hendra Gunawan, Chief Technology Officer (CTO) MyRepublic Indonesia memberikan penjelasan memang teknologi FWA ini tidak familiar dan ini jadi yang pertama kali buat Indonesia.

Baca juga:

Indonesia sendiri menggunakan spektrum pita frekuensi 1,4 MHz untuk digunakan di internet dengan teknologi FWA ini.

Selain itu, lanjut Hendra, FWA di Indonesia ini, akan menggunakan teknologi 5G standalone (5G SA).

“Ditambah dengan frekuensi 1,4 Ghz ini membuat radiusnya bisa lumayan jauh,” ujar Hendra kepada Selular, (6/2/2026).

“Jadi, kalau di rumah itu, FWA ini bisa tembus sampai tiga level dinding. Ditambah dengan bandwidth tinggi yang bisa disesuaikan dengan instruksi pemerintah,” jelas.

Menjangkau Area Blankspot

Jika fixed broadband dengan kabel serat optik atau FTTH sudah sangat familiar di perkotaan, sebaliknya dengan FWA yang memang diperuntukkan bagi area blankspot.

Hal ini karena sejumlah wilayah di Indonesia yang terdiri dari kepulauan serta daerah dengan kontur dataran yang berbeda akan mudah dijangkau internet dengan menggunakan teknologi FWA.

MyRepublic Indonesia sendiri merupakan perusahaan pemenang lelang spektrum pita frekuensi 1,4 Ghz yang dilaksanakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) beberapa waktu lalu.

Tidak hanya satu, MyRepublic Indonesia memenangkan dua regional dalam lelang tersebut.

Kedua regional yang MyRepublic menangkan dalam lelang spektrum pita frekuensi 1,4 Ghz yakni regional dua untuk wilayah Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara. Kemudian regional tiga untuk wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Kesimpulan

Melansir dari laman MyRepublic, masyarakat diberikan pilihan teknologi internet dan harus disesuaikan dengan kebutuhan sebagai berikut:

Jika FTTH & FWA tersedia di lokasi Anda — maka FTTH masih menjadi pilihan terbaik, karena stabil, cepat, dan paling konsisten.

Jika tidak ada FTTH, maka FWA adalah opsi yang lebih baik daripada mengandalkan paket mobile. Teknologi FWA menawarkan koneksi yang lebih stabil berkat perangkat penerima tetap dan kapasitas jaringan yang lebih terkontrol.

Mobile broadband adalah pelengkap untuk mobilitas sehari-hari. Digunakan saat bepergian, tetapi bukan sebagai pengganti internet rumahan.

Dengan hadirnya lelang 1,4 GHz, FWA diperkirakan menjadi semakin matang dan menarik untuk wilayah yang belum bisa dijangkau fiber optik.

FTTH dan FWA bukanlah pesaing, melainkan dua solusi yang saling melengkapi dalam memperluas pemerataan akses digital di seluruh Indonesia.

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU