Tuesday, 3 February 2026
Selular.ID -

Hyundai Integrasikan Robot ke Pabrik, Pekerja Keberatan

BACA JUGA

Selular.ID – Hyundai Motor Group mulai memperluas penggunaan robot industri dan robot humanoid di fasilitas produksinya sebagai bagian dari strategi otomasi dan transformasi manufaktur.

Langkah ini memicu respons dari serikat pekerja Hyundai di Korea Selatan, yang menyuarakan kekhawatiran terkait potensi dampak terhadap tenaga kerja manusia, termasuk keamanan kerja dan pergeseran peran pekerja di lini produksi. Isu ini mencuat pada awal 2026 seiring peningkatan intensitas diskusi antara manajemen Hyundai dan perwakilan pekerja.

Hyundai Motor Group dalam beberapa tahun terakhir memang secara konsisten mempercepat investasi di bidang robotika. Sejak mengakuisisi Boston Dynamics pada 2021, grup otomotif asal Korea Selatan tersebut menjadikan robot sebagai salah satu pilar teknologi masa depan, sejajar dengan kendaraan listrik dan mobilitas otonom.

Robot-robot ini dirancang untuk mendukung proses manufaktur, logistik, hingga inspeksi kualitas di pabrik perakitan kendaraan Hyundai dan Kia.

Namun, menurut laporan yang berkembang di Korea Selatan, Hyundai Motor Union, serikat pekerja yang mewakili karyawan pabrik Hyundai, menyampaikan keberatan resmi terkait rencana penempatan robot dalam skala lebih luas.

Serikat menilai belum ada kejelasan menyeluruh mengenai batasan peran robot, standar keselamatan kerja, serta jaminan bahwa otomasi tidak akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia dalam jangka menengah dan panjang.

Dalam pernyataan resminya, pihak serikat menekankan bahwa adopsi robot harus dibarengi dengan dialog yang transparan. Mereka meminta Hyundai menjelaskan bagaimana teknologi robotika akan diintegrasikan tanpa mengorbankan hak dan stabilitas pekerjaan karyawan.

Serikat juga mendorong adanya kesepakatan tertulis yang mengatur pemanfaatan robot di lingkungan kerja, termasuk mekanisme evaluasi risiko dan pelatihan ulang (reskilling) bagi pekerja terdampak.

Dari sisi perusahaan, Hyundai Motor Group menegaskan bahwa penggunaan robot tidak dimaksudkan untuk menggantikan pekerja, melainkan untuk mendukung efisiensi dan keselamatan kerja.

Robot diproyeksikan mengambil alih tugas-tugas berisiko tinggi, repetitif, atau membutuhkan presisi ekstrem, seperti pengangkatan beban berat, pengelasan tertentu, dan inspeksi di area berbahaya. Dengan pendekatan ini, Hyundai menyatakan ingin mengurangi angka kecelakaan kerja sekaligus meningkatkan kualitas produksi.

Hyundai juga menyoroti bahwa industri otomotif global tengah mengalami tekanan besar akibat perubahan teknologi, kompetisi kendaraan listrik, serta tuntutan efisiensi rantai pasok. Dalam konteks tersebut, otomasi dinilai sebagai kebutuhan strategis agar pabrikan tetap kompetitif.

Perusahaan menyebut robotika sebagai alat bantu yang memungkinkan pekerja manusia fokus pada tugas bernilai tambah lebih tinggi, termasuk pengawasan, pemrograman, dan pemeliharaan sistem.

Robot yang dikembangkan dan diuji oleh Hyundai mencakup berbagai jenis, mulai dari robot industri konvensional hingga robot humanoid berbasis teknologi Boston Dynamics. Beberapa di antaranya dirancang mampu bergerak lincah di lingkungan pabrik, membawa komponen, atau membantu proses perakitan tertentu. Hyundai sebelumnya juga telah memamerkan penggunaan robot berkaki dua dan empat untuk logistik internal dan pemantauan fasilitas.

Meski demikian, kekhawatiran serikat pekerja mencerminkan dinamika yang lebih luas di sektor manufaktur global. Banyak serikat buruh di berbagai negara menuntut kejelasan regulasi dan perlindungan tenaga kerja di tengah percepatan otomasi dan kecerdasan buatan. Di Korea Selatan sendiri, diskusi mengenai dampak robot terhadap lapangan kerja menjadi isu berulang, terutama di industri padat karya seperti otomotif dan elektronik.

Dalam konteks regulasi, pemerintah Korea Selatan mendorong inovasi robotika sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional. Namun, pemerintah juga menekankan pentingnya transisi yang adil (just transition), termasuk melalui program peningkatan keterampilan tenaga kerja dan dialog sosial antara perusahaan dan pekerja. Pendekatan ini diharapkan dapat menyeimbangkan inovasi teknologi dengan stabilitas sosial.

Bagi Hyundai Motor Group, dialog dengan serikat pekerja menjadi faktor kunci agar implementasi robot berjalan mulus. Perusahaan menyadari bahwa penerimaan internal akan menentukan keberhasilan transformasi manufaktur jangka panjang. Oleh karena itu, Hyundai menyatakan terbuka untuk melanjutkan pembahasan mengenai kerangka kerja penggunaan robot, termasuk aspek keselamatan, pelatihan, dan penyesuaian peran pekerja.

Ke depan, integrasi robot di pabrik Hyundai diperkirakan akan terus berlanjut seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Namun, dinamika antara inovasi dan perlindungan tenaga kerja akan menjadi penentu arah implementasinya.

Hasil dialog antara Hyundai Motor Group dan serikat pekerja di Korea Selatan berpotensi menjadi rujukan penting bagi industri otomotif global dalam mengelola transisi menuju manufaktur berbasis robotika secara berimbang dan berkelanjutan.

Baca Juga: Masalah Pengisian Daya, Hyundai Recall 145.235 Ioniq dan Genesis

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU

Xiaomi Bantah Isu Kemitraan EV dengan Ford