Friday, 20 February 2026

Diam-Diam Indosat Ungguli Telkomsel Dalam Pengoperasian BTS 5G

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Seperti banyak negara lain di dunia, Indonesia juga telah memasuki era 5G. Diluncurkan pada 27 Mei 2021, teknologi 5G menjadikan Indonesia siap memasuki babak baru teknologi selular yang mendorong perubahan gaya hidup pengguna.

Namun keterbatasan frekwensi (yang belum dirilis oleh pemerintah hingga kini) dan kondisi geografis yang menantang, membuat 5G seperti jalan di tempat.

Hal itu ditambah dengan mahalnya beban investasi, terutama untuk membangun BTS dan penggelaran jaringan fibre optic yang seringkali menghambat percepatan penetrasi 5G secara merata.

Untuk diketahui, investasi pembangunan BTS 5G tergolong sangat mahal karena membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih padat (3x lipat dibandingkan 4G) dan teknologi yang lebih tinggi, dengan estimasi menara baru mencapai miliaran rupiah.

Komponen utama meliputi sewa lahan (Rp50–200 juta/tahun), struktur tower, perangkat BBU/antena MIMO, serta sistem daya, dengan total biaya per lokasi bisa mencapai $100.000 – $1.000.000.

Meski dihadapkan pada beban investasi yang tak murah dan belum terbentuknya use cases yang secara signifikan mampu mendongkrak pendapatan operator selular, namun kebutuhan pelanggan akan layanan internet berkualitas menuntut operator untuk membangun lebih banyak BTS 5G.

Bagi sebagian pelanggan yang haus akan data dan kecepatan, 5G kini menjadi solusi. Dibandingkan 4G, teknologi 5G menawarkan kecepatan internet jauh lebih tinggi (hingga 100x lipat dari 4G), latensi super rendah, dan kapasitas masif untuk ribuan perangkat IoT sekaligus.

Hal ini memungkinkan streaming 4K/8K, gaming mulus, video call HD, dan adopsi smart home yang lebih baik.

Menyadari semakin meningkatnya kebutuhan sebagian pelanggan tersebut, operator mulai berlomba membangun jaringan 5G. Hal itu tercermin dari peningkatan jumlah BTS yang dioperasikan.

Baca Juga:

Dalam paparan data terbaru, saat ini Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), terlihat memimpin pembangunan BTS 5G di Indonesia.

Anak perusahaan Qatar Telecom dan Hutchison Hong Kong itu, tancap gas memperluas jaringan 5G dengan meningkatkan jumlah BTS 5G hingga 6.872 unit sepanjang 2025.

Jumlah BTS 5G yang cukup signifikan itu, melengkapi jumlah BTS 4G yang dibangun Indosat, mencapai 214.000 unit pada akhir 2025.

Indosat menyebutkan bahwa ekspansi pembangunan BTS 5G, dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan memperkuat fondasi jaringan digital nasional sekaligus menjawab lonjakan kebutuhan layanan data berkecepatan tinggi di berbagai wilayah.

Lonjakan jumlah BTS 5G tersebut menunjukkan akselerasi signifikan dibandingkan tahun-tahun awal komersialisasi 5G di Indonesia.

Indosat menempatkan penguatan jaringan sebagai prioritas utama, seiring meningkatnya konsumsi data, pertumbuhan ekosistem digital, serta adopsi perangkat yang sudah mendukung teknologi generasi kelima.

Manajemen Indosat menegaskan bahwa investasi jaringan ini tidak semata mengejar cakupan, tetapi juga kualitas layanan.

Merujuk data Investor Memo Indosat yang dirilis pada Selasa (10/2/2026), perluasan infrastruktur ini dilakukan untuk mengakomodasi pertumbuhan trafik data dan memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.

Dengan jumlah mencapai 6.872 unit sepanjang 2025, Indosat kini mengoperasikan BTS 5G lebih banyak dibandingkan pesaing terdekatnya, Telkomsel.

Untuk diketahui, hingga akhir 2025 Telkomsel menargetkan pengoperasian sekitar 5.300 BTS 5G. Target ini menandai lompatan yang cukup signifikan dibandingkan periode 2024 yang hanya berkisar 900-an BTS, menunjukkan akselerasi agresif operator dalam membangun jaringan generasi kelima tersebut.

Direktur Network Telkomsel, Indra Mardiatna, mengonfirmasi komitmen perusahaan untuk melanjutkan ekspansi jaringan 5G pada 2026.

Meski belum dapat merinci jumlah BTS yang akan ditambahkan pada 2026, Indra menegaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan berbagai faktor, salah satunya adalah penetrasi perangkat 5G di kalangan pengguna.

“Kita komitmen akan terus dilakukan ke depan. Tetapi kita lagi melihat perkembangan perangkat. Karena sayang spektrum terbatas,” ujar Indra, Senin (7/12/2025).

Pernyataan Indra itu menyiratkan strategi kehati-hatian Telkomsel di tengah sumber daya spektrum yang terbatas dan beban investasi yang terbilang mahal.

Berbeda dengan Telkomsel, XLSmart terlihat lebih bernafsu dalam menggelar jaringan 5G. Dalam peluncuran XL 5G Ultra+ belum lama ini, operator hasil merger XL Axiata dan Smartfren itu, mengklaim bahwa jaringan 5G perusahaan kini tersedia di 33 kota/kabupaten.

Meski tidak mengungkapkan berapa jumlah BTS 5G yang telah dioperasikan, kehadiran 5G ditujukan untuk memberikan kapasitas lebih besar, latensi lebih rendah, dan koneksi yang lebih stabil, terutama untuk layanan berkapasitas data besar seperti streaming video, media sosial, dan aplikasi digital lainnya yang cenderung meningkat.

Di sela-sela peluncuran XL Ultra 5G+, Presiden Direktur & CEO XLSMART Rajeev Sethi mengatakan bahwa jaringan 5G XLSMART akan menjadi ‘selimut’ bagi 88 kota yang nantinya akan terlayani secara penuh, sehingga masyarakat akan merasakan kualitas jaringan 5G tanpa putus dengan kecepatan yang mumpuni.

“Di 88 kota itu, 5G akan hadir secara blanket atau menyelimuti, bukan seperti di banyak negara lain di mana hanya sebagian situs saja yang dapat 5G,” pungkas Rajev.

Pendekatan blanket coverage yang diterapkan XLSMART merujuk pada pembangunan jaringan 5G secara menyeluruh di satu wilayah kota, bukan hanya di pusat keramaian atau area terbatas.

Dengan model ini, pelanggan dapat mengakses koneksi 5G secara berkesinambungan, baik di dalam maupun luar ruangan.

Baca Juga:

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU

7 Cara Meningkatkan Kecepatan WiFi di Rumah