Selular.ID – Pemerintah kota di Republik Rakyat China mulai mengerahkan robot humanoid bertenaga kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pengendalian lalu lintas jalan raya, terutama di persimpangan sibuk dan area dengan kepadatan kendaraan tinggi pada awal tahun 2026.
Robot-robot ini beroperasi berdampingan dengan petugas polisi manusia, dilengkapi kemampuan monitoring real-time dan interaksi langsung dengan pengguna jalan melalui sistem suara otomatis.
Robot yang dikenal sebagai Intelligent Police Unit R001 dibuat oleh AiMOGA Robotics dan dipasang di persimpangan utama kota Wuhu di provinsi Anhui, China timur.
Perangkat ini menggunakan sistem AI dan kamera definisi tinggi untuk mengenali pelanggaran lalu lintas oleh pejalan kaki dan kendaraan tidak bermotor serta mengeluarkan peringatan suara secara otomatis tanpa campur tangan manusia langsung.
Robot tersebut juga tersinkronisasi dengan sistem lampu lalu lintas setempat untuk mengatur gerakan kendaraan dan pejalan kaki sesuai sinyal yang berlaku.
Menurut pernyataan Jiang Zihao, seorang Kepala Instruktur pada Biro Keamanan Publik setempat, R001 mampu melakukan gerakan komando lalu lintas standar dan berjalan mandiri ke lokasi yang ditugaskan.
Robot ini juga disebutkan bisa beroperasi sepanjang hari untuk membantu meringankan beban petugas di lapangan, terutama pada jam sibuk dan kondisi cuaca ekstrem.
Penggunaan robot AI ini merupakan bagian dari strategi China yang lebih luas untuk mengintegrasikan teknologi otomasi cerdas dalam layanan publik, termasuk penanganan lalu lintas dan keamanan kota.
Program ini telah dimulai sejak pertengahan 2025, ketika unit robotik sejenis mulai diuji coba di kota-kota seperti Chengdu di provinsi Sichuan menjelang World Games 2025.
Di sana, beberapa robot — termasuk model quadruped dan roda — dipasang untuk membantu mengatur arus kendaraan di area ramai, serta mengambil gambar real-time dan mengirimkan data kembali ke pusat kendali polisi.
Sebelumnya, pada akhir 2025, kota Hangzhou juga sudah mengoperasikan robot lalu lintas berbasis AI bernama Hangxing No.1, yang ditempatkan di persimpangan jalan Binsheng di distrik Binjiang.
Robot tersebut menunjukkan gerakan tangan komando lalu lintas, mampu mencatat pelanggaran seperti pengendara tanpa helm, dan memberikan peringatan suara kepada pengguna jalan yang melanggar aturan.
Robot hasil kolaborasi antara polisi lalu lintas setempat dan perusahaan teknologi ini dilatih dari gerakan nyata petugas manusia agar mampu menyesuaikan diri dengan pola alur lalu lintas yang kompleks.
Adopsi robot lalu lintas ini bertepatan dengan dorongan China dalam mempercepat pengembangan industri robot humanoid dan pasar embodied intelligence — istilah untuk sistem robot fisik yang dipadukan dengan AI.
Pemerintah pusat dan otoritas wilayah telah memasukkan robot humanoid ke dalam proyek riset strategis dan menyediakan insentif fiskal untuk mempercepat inovasi di sektor ini, termasuk pengembangan komponen inti dan algoritma AI yang membuat robot lebih adaptif terhadap situasi kehidupan nyata.
Selain itu, deployment robot AI tidak hanya terbatas pada fungsi lalu lintas. China juga sudah melibatkan unit robotik dalam operasi patroli yang lebih luas di ruang publik, misalnya robot patroli yang menggabungkan kamera dan sistem pemantauan untuk membantu petugas di lokasi yang sulit dijangkau atau berisiko tinggi.
Inisiatif seperti ini sejalan dengan tren global mengintegrasikan robot police assistant dalam tugas-tugas penegakan hukum dan layanan komunitas, meskipun setiap wilayah memiliki pendekatan yang berbeda terhadap adopsi teknologi tersebut.

Dalam implementasinya, robot seperti R001 diposisikan sebagai alat bantu bagi petugas manusia dan bukan sebagai pengganti keseluruhan fungsi penegakan hukum. AiMOGA Robotics sendiri menekankan bahwa robot-robot ini dirancang untuk menangani tugas-tugas repetitif yang dapat dibantu oleh sistem otomatis, seperti memberi petunjuk arah, memantau pelanggaran ringan, dan meningkatkan visibilitas pengaturan lalu lintas di persimpangan ramai.
Mass Deployment Ini juga dinilai mencerminkan upaya China memadukan data real-time dari kamera, AI, dan sistem lampu lalu lintas terhubung demi menciptakan arus lalu lintas yang lebih teratur dan pemantauan pelanggaran secara konsisten.
Pendekatan semacam ini semakin lazim seiring dengan integrasi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan skala besar dalam infrastruktur kota pintar di berbagai wilayah dunia, termasuk Asia.
Pengembangan robot AI untuk tugas lalu lintas telah mendapat perhatian luas, baik di dalam negeri maupun internasional, karena menunjukkan bagaimana otomasi dapat diaplikasikan pada operasi publik yang tradisionalnya bergantung pada tenaga manusia.
Walau demikian, aspek pengaturan hukum, interoperabilitas dengan sistem keamanan publik lainnya, serta tanggapan masyarakat terhadap kehadiran robot semacam ini tetap menjadi faktor penting dalam evolusi teknologi tersebut ke depannya.
Baca Juga:Â LG CLOiD Debut di CES 2026, Robot AI yang Bisa Buat Sarapan hingga Mencuci Baju




