Friday, 13 February 2026

ASIOTI Proyeksikan Perangkat IoT Indonesia Tembus 800 Juta Unit

BACA JUGA

Selular.ID – Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) memproyeksikan ekosistem Internet of Things (IoT) nasional terus tumbuh pesat, dengan estimasi jumlah perangkat IoT yang beredar di Indonesia mencapai sekitar 678 juta unit pada 2025.

Nilai pasar IoT Indonesia diperkirakan berada di kisaran US$40 miliar atau setara Rp673 triliun, mencerminkan meningkatnya adopsi teknologi IoT di sektor konsumen maupun korporasi.

Dalam proyeksi ASIOTI, industri IoT Indonesia juga diperkirakan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 14,7%, dengan potensi peningkatan jumlah perangkat hingga menembus 800 juta unit dalam beberapa tahun mendatang.

Ketua ASIOTI periode 2022–2025, Teguh Prasetya, menegaskan bahwa sejak awal asosiasi berkomitmen mendorong kedaulatan digital melalui penyusunan standar SNI IoT, penguatan regulasi, serta pengembangan pedoman praktik terbaik (best practice) pemanfaatan IoT di Indonesia.

“Pengembangan solusi IoT nasional menjadi kebutuhan mendesak seiring masifnya pertumbuhan perangkat di Indonesia,” ujar Teguh dalam Musyawarah Nasional (Munas) III ASIOTI di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Teguh juga menyebutkan ASIOTI telah memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui program sertifikasi, dengan total 11.800 engineer IoT bersertifikasi yang pengakuannya telah berlaku secara regional.

Pemerataan Jaringan Masih Jadi Tantangan

Meski pertumbuhan IoT meningkat, Teguh menyoroti tantangan utama pengembangan IoT nasional masih berkaitan dengan pemerataan jaringan telekomunikasi, yang belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Dalam konteks ini, pemanfaatan jaringan unlicensed pada frekuensi 433 MHz dan 920 MHz disebut menjadi salah satu opsi untuk memperluas konektivitas perangkat IoT, terutama di area yang belum terjangkau jaringan seluler optimal.

Dalam Munas III ASIOTI 2026 yang disponsori oleh Telkom, Telkomsel, dan Tower Bersama Group, ASIOTI juga meluncurkan white paper bertajuk Tren Teknologi dan Bisnis TIK Indonesia 2026.

Dokumen tersebut disusun sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis IoT nasional sekaligus proyeksi permintaan (demand) IoT pada 2026.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Reza, menyampaikan bahwa negara-negara di dunia kini berlomba memanfaatkan digitalisasi untuk memperkuat posisi di tengah persaingan global. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang besar karena nilai ekonomi digital nasional telah mencapai US$130 miliar, sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara.

Dalam pernyataannya, Faisol menilai adopsi IoT menjadi faktor penting dalam mendorong daya saing industri nasional, khususnya pada sektor manufaktur, logistik, hingga pengelolaan energi.

Namun ia juga mengingatkan Indonesia masih menghadapi tantangan karena lebih banyak menjadi pasar, terutama akibat ketergantungan pada impor microcontroller dan mikroprosesor, komponen utama pada perangkat IoT.

IoT sebagai Pilar Ekosistem Digital Nasional

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dr. Ir. Ismail, M.T., menyatakan IoT merupakan salah satu pilar penting dalam ekosistem digital Indonesia. Menurutnya, IoT berperan sebagai ujung tombak optimalisasi sensor dan pemantauan jarak jauh, yang dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan industri dan layanan publik.

Sementara itu, Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Komdigi, Denny Setiawan, menekankan pengembangan IoT tidak hanya terkait kesiapan teknologi, tetapi juga tata kelola.

Aspek yang dinilai krusial mencakup perizinan investasi, harmonisasi regulasi, kolaborasi pemerintah dan industri, serta kesiapan data center agar pemrosesan data dapat dilakukan cepat dan tetap mendukung prinsip kedaulatan data.

Denny menilai peran ASIOTI penting sebagai katalisator sekaligus mitra strategis pemerintah dalam membangun ekosistem digital yang sehat dan berkelanjutan.

Telkomsel Dorong IoT Lewat Penguatan Infrastruktur 5G

Dalam rangkaian Munas III ASIOTI, turut digelar talkshow bertema “IoT Indonesia 2026: Dari Konektivitas ke Kecerdasan Kolektif.” General Manager Network Digitalization and Service Innovation Telkomsel, Bowon Baskoro, menjelaskan bahwa Telkomsel memperkuat ekonomi digital melalui penguatan infrastruktur jaringan.

Saat ini Telkomsel mengoperasikan lebih dari 272 ribu BTS, terdiri dari 221 ribu BTS 4G dan lebih dari 2.500 BTS 5G. Telkomsel juga mencatat cakupan 4G mencapai 97% populasi, serta fixed coverage sebesar 98% wilayah.

Bowon menambahkan, meskipun penetrasi fixed broadband Indonesia masih berada di angka 4,82 pelanggan per 100 penduduk, kondisi tersebut membuka ruang ekspansi yang besar. Ia menyebut jaringan 5G diarahkan untuk mempercepat implementasi IoT pada berbagai sektor seperti smart mining, smart warehouse, dan smart manufacturing.

“Melalui jaringan yang andal, latensi rendah, dan skalabilitas tinggi, Telkomsel mendorong implementasi solusi berbasis otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga pemantauan real-time guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri,” ujar Bowon.

Implementasi IoT dan AI Mulai Terbukti di Industri

Founder PT Myeco Inovasi Indonesia (myECO), Maulana Derifato A, memaparkan bahwa perusahaan menghadirkan solusi efisiensi berbasis AI dan IoT untuk kebutuhan monitoring, otomasi, serta penurunan biaya operasional. Solusi tersebut mengintegrasikan software, firmware, hardware, dan network dalam satu sistem terpadu.

Maulana menyebutkan solusi myECO telah digunakan oleh lebih dari 55.000 perangkat dan pelanggan lintas sektor. Salah satu implementasi di Grup Astra (AGEn) mencatat penghematan biaya operasional hingga Rp368 miliar dan efisiensi energi sebesar 3.136 terajoule, merujuk pada laporan keberlanjutan 2024.

Sementara itu, Tribe Leader Telkom Regional Solution Antares Telkom Indonesia, Ibnu Alinursafa, menyatakan pemanfaatan IoT terus diperluas untuk mendukung berbagai use case strategis seperti smart city, utilities, pertanian, pelacakan aset (asset tracking), hingga manufaktur.

Menurutnya, solusi IoT perlu dirancang dengan biaya kompetitif, skalabilitas tinggi, serta dukungan teknis lokal untuk memperkuat ekosistem kolaboratif.

CEO PT Indo Code Technology, Eng Tjong, juga memaparkan inovasi implementasi IoT seperti sistem peringatan dini bencana, monitoring aset, pelacakan objek (object tracking), hingga sistem penghitung jumlah orang di suatu area.

Keamanan Siber Jadi Faktor Kunci

Di tengah pertumbuhan perangkat IoT, aspek keamanan siber juga menjadi perhatian. Sandiman Muda Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Energi dan Sumber Daya Alam Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN RI), Agus Winarno, menyoroti bahwa ancaman pelanggaran data dan serangan siber terus meningkat secara global.

Ia menyebut peningkatan penggunaan cloud dan perangkat terhubung memperluas permukaan serangan, termasuk serangan DDoS dan ransomware.

“Penguatan sistem keamanan siber, perlindungan jaringan, enkripsi data, serta peningkatan kesiapan SDM menjadi keharusan agar percepatan digitalisasi tidak justru meningkatkan risiko kebocoran data dan gangguan operasional,” tegas Agus.

Faizal Rochmad Djoemadi Pimpin ASIOTI 2026–2029

Dalam Munas III ASIOTI, Dr. Faizal Rochmad Djoemadi, M.Sc resmi terpilih sebagai Ketua ASIOTI periode 2026–2029, menggantikan Teguh Prasetya. Faizal saat ini menjabat sebagai Direktur IT & Digital PT Telkom Indonesia, memimpin strategi digitalisasi perusahaan serta pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan dan ekosistem digital terintegrasi.

Faizal memiliki latar belakang pendidikan Master of Science dari University of Saskatchewan, Kanada, serta gelar Doktor dari Universitas Brawijaya. Dalam kepengurusan terbaru, Dr. Ir. Ismail, M.T. juga ditetapkan sebagai Dewan Pengawas ASIOTI periode 2026–2029.

Dengan struktur kepengurusan baru yang melibatkan pemimpin industri dan unsur pemerintah, ASIOTI menargetkan penguatan standardisasi dan tata kelola IoT, perluasan talenta digital bersertifikasi, serta peningkatan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat kedaulatan dan daya saing digital Indonesia.

Baca Juga: ASIOTI: Adopsi IPv6 di Indonesia pada 2024 Capai 16 Persen

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU