Selular.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, sentimen nasionalis semakin merebak di China imbas dari persaingan geopolitik dengan AS yang intens, menempatkan Apple di posisi sulit karena dipandang sebagai simbol dominasi teknologi Amerika.
Tak dapat dipungkiri, meningkatnya popularitas merek domestik seperti Huawei, ditambah dengan kekhawatiran keamanan yang didorong pemerintah dan tekanan regulasi, mendorong upaya pergeseran dari perangkat asing. Berbagai variable yang tak mudah dikendalikan itu, membuat pangsa pasar Apple di China kerap naik turun.
Meski demikian, sentimen nasionalis itu seolah menjadi anomali. Faktanya, masyarakat China terus menyukai iPhone karena reputasinya yang kuat sebagai simbol status, desain berkualitas tinggi, dan ekosistem Apple premium yang mapan.
Persaingan ketat dengan merek-merek lokal seperti Huawei, Vivo, Oppo, dan Xiaomi, tidak menyurutkan masyarakat China untuk memburu iPhone.
Meskipun dikeroyok oleh banyak pemain, Apple mampu mempertahankan loyalitas pelanggan di China Raya melalui diskon harga yang agresif, program tukar tambah, dan citra sebagai “pemimpin kualitas”.
Alhasil, dengan beragam keunggulan terutama citra merek yang kuat dan performa andal, pangsa pasar Apple justru meningkat. Hal itu tercermin dari penjualan yang kuat, mencerminkan loyalitas yang telah terbangun mengalahkan sentimen nasionalis.
Dalam laporan terbaru yang diumumkan pada akhir Januari lalu, raksasa teknologi yang berbasis di Cupertino, California itu, melaporkan pencapaian laba sebesar $42,1 miliar dari pendapatan $143,8 miliar pada kuartal yang baru saja berakhir.
iPhone “mencatat kuartal terbaiknya sepanjang masa yang didorong oleh permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata CEO Apple Tim Cook dalam sebuah konferensi pendapatan.
Baca Juga:
- Apple Catat Pendapatan Tertinggi di Kuartal I Fiskal 2026
- 7 Pengaturan Wajib yang Sering Diabaikan Pengguna Apple Watch
Penjualan iPhone tumbuh di seluruh dunia, naik menjadi $25,5 miliar di pasar China Raya yang penting dibandingkan dengan $18,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, penjualan iPhone menghasilkan $85,2 miliar pada kuartal tersebut.
Pendapatan Apple juga didorong dari layanan seperti konten digital dan hiburan berlangganan mencapai rekor tertinggi kuartalan baru sebesar $30 miliar, peningkatan 14 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, kata Cook.
Lonjakan penjualan di berbagai negara, terutama China yang merupakan pasar terbesar Apple, mendorong populasi perangkat Apple. Tercatat jumlah perangkat Apple yang digunakan di seluruh dunia telah mencapai lebih dari 2,5 miliar.
Apple memperkirakan bahwa pendapatannya pada kuartal saat ini akan 13 persen hingga 16 persen lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu.
Meski membukukan kinerja gemilang, Cook memperingatkan bahwa produksi iPhone dibatasi oleh pasokan yang ketat dan kenaikan harga komponen memori serta chip canggih yang digunakan dalam perangkat tersebut.
“Kami sedang dalam mode mengejar pasokan untuk memenuhi tingkat permintaan pelanggan yang sangat tinggi,” kata Cook.
“Pada titik ini, sulit untuk memprediksi kapan pasokan dan permintaan akan seimbang.”
Pendapatan Apple yang luar biasa memvalidasi “strateginya di tengah industri yang terus berubah dan memperkuat posisinya di puncak pasar smartphone global,” kata analis Emarketer, Jacob Bourne.
“Namun, mempertahankan dominasi itu mungkin lebih tidak pasti daripada sebelumnya, bergantung pada keputusan yang tepat mengenai penetapan harga dan pengembangan perangkat generasi berikutnya, khususnya perangkat wearable dan iPhone lipat yang diantisipasi”, pungkas Jacob Bourne.



