Thursday, 5 February 2026
Selular.ID -

2026 Jadi Tahun Transisi Agentic AI dan Infrastruktur AI Generasi Baru

BACA JUGA

Selular.ID – Tahun 2026 menjadi masa transisi industri menuju Agentic AI. Hal itu diungkap Amazon Web Services (AWS) yang mengumumkan rangkaian inovasi teknologi terbaru dalam ajang AWS re:Invent 2025 yang berlangsung di Las Vegas, Amerika Serikat, pada 1–5 Desember 2025.

Fokus utama AWS tahun ini adalah transisi industri menuju Agentic AI, yakni kecerdasan buatan berbasis agen otonom yang mampu menalar dan bekerja secara mandiri, serta penguatan infrastruktur cloud generasi terbaru untuk mendukung beban kerja AI secara efisien, aman, dan terukur di lingkungan produksi.

Pengumuman ini menegaskan perubahan fase adopsi AI, dari sekadar eksperimen menuju implementasi bisnis berskala penuh. AWS menyebut tren tersebut semakin terlihat di berbagai pasar, termasuk Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan akan solusi AI yang memberikan dampak langsung terhadap efisiensi operasional dan pengendalian biaya.

Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia, menyampaikan bahwa adopsi AI di kalangan pelaku bisnis nasional telah menunjukkan kematangan yang signifikan. Menurutnya, organisasi di Indonesia kini tidak lagi berfokus pada uji coba teknologi, melainkan pada pemanfaatan AI untuk menghasilkan nilai bisnis yang terukur.

“Saat ini kita memasuki era Agentic AI, di mana kecerdasan buatan mampu bekerja secara mandiri untuk menyelesaikan tugas operasional yang kompleks. Dampak positifnya terlihat pada berbagai sektor industri yang berhasil meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya operasional,” ujar Anthony Amni dalam keterangan resminya.

AWS memposisikan inovasi yang diumumkan di re:Invent 2025 sebagai fondasi untuk membantu organisasi menjalankan AI secara bertanggung jawab di lingkungan produksi. Fokus tersebut mencakup penyediaan model, infrastruktur, serta alat pengelolaan dan keamanan yang terintegrasi.

Joel Garcia, Tech Lead Strategic Initiatives for AWS ASEAN, menegaskan bahwa AWS dirancang untuk mendampingi organisasi di setiap tahap perjalanan adopsi generative AI. Ia menyebut Frontier Agents terbaru, termasuk Kiro Autonomous Agent dan AWS DevOps Agent, sebagai lompatan penting dalam pengembangan AI otonom yang dilengkapi memori jangka panjang dan mampu beroperasi dalam durasi lama layaknya rekan kerja kolaboratif.

Salah satu pengumuman utama adalah peluncuran AWS Frontier Agents, kategori baru agen AI otonom yang dirancang untuk menjalankan tugas kompleks tanpa intervensi manusia secara terus-menerus.

AWS memperkenalkan tiga agen, yaitu Kiro Autonomous Agent sebagai asisten pengembang virtual yang dapat membantu penulisan kode, debugging, dan pengujian perangkat lunak; AWS Security Agent yang berperan sebagai konsultan keamanan proaktif dengan pemahaman mendalam terhadap infrastruktur organisasi; serta AWS DevOps Agent yang berfungsi sebagai tim operasional always-on untuk mendeteksi, menganalisis, dan menangani insiden sistem.

Di sisi pengembangan model, AWS memperluas ekosistem generative AI melalui Amazon Bedrock dengan menambahkan 18 model baru. Ekspansi ini mencakup kehadiran perdana model dari Mistral AI, serta peluncuran lini Amazon Nova 2 yang terdiri dari Nova Lite, Nova Pro, Nova Sonic, dan Nova Omni.

AWS menyatakan bahwa seri Nova 2 dirancang untuk memberikan rasio harga dan kinerja yang kompetitif, dengan kemampuan penalaran tingkat lanjut dan pemrosesan multimodal, yaitu kemampuan memahami dan mengolah berbagai jenis data seperti teks, suara, dan gambar.

AWS juga memperkenalkan Nova Forge, layanan untuk melatih dan mengkustomisasi model AI menggunakan data internal perusahaan, serta Nova Act yang memungkinkan otomatisasi alur kerja pada peramban web berbasis bahasa alami.

AWS mengklaim Nova Act mampu menjalankan otomatisasi UI dengan tingkat keandalan hingga 90 persen, tanpa memerlukan skrip preskriptif yang kompleks.

Untuk mempercepat transisi dari prototipe ke produksi, AWS menghadirkan pembaruan pada Amazon Bedrock AgentCore. Komponen ini mencakup AgentCore Memory yang memungkinkan agen AI menyimpan konteks jangka panjang dan belajar dari pengalaman sebelumnya, AgentCore Policy sebagai mekanisme pengaman bahasa dan perilaku AI, serta integrasi keahlian instan melalui Kiro Powers agar agen dapat menggunakan alat pihak ketiga secara lebih efektif.

Pada lapisan infrastruktur, AWS meluncurkan Graviton5 sebagai prosesor custom generasi terbaru dengan peningkatan kinerja hingga 25 persen dibandingkan pendahulunya untuk beban kerja cloud umum.

Untuk kebutuhan pelatihan AI berskala besar, AWS memperkenalkan Trainium3 UltraServers yang menggunakan chip 3 nanometer pertama buatan AWS, menawarkan kinerja hingga 4,4 kali lebih cepat dan efisiensi energi empat kali lipat dibanding generasi sebelumnya.

Selain itu, AWS AI Factories memungkinkan perusahaan dan instansi menjalankan infrastruktur AI berkinerja tinggi, termasuk berbasis NVIDIA dan Trainium, langsung di pusat data mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan kedaulatan data dan kepatuhan regulasi.

Dari sisi data dan keamanan, Amazon S3 Vectors kini tersedia secara umum untuk mendukung pencarian vektor berskala miliaran dengan penghematan biaya hingga 90 persen, yang relevan bagi aplikasi AI berbasis retrieval dan rekomendasi. AWS juga memperbarui AWS Security Hub dengan kemampuan deteksi ancaman near real-time dan visualisasi terpadu, serta menghadirkan AWS Transform yang memanfaatkan Agentic AI untuk mempercepat modernisasi aplikasi legacy hingga lima kali lebih cepat.

Rangkaian pengumuman di AWS re:Invent 2025 memperlihatkan arah strategis AWS dalam membangun ekosistem AI yang terintegrasi, dari model dan agen otonom hingga infrastruktur dan keamanan. AWS menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan teknologi tersebut ke berbagai pasar, termasuk Indonesia, guna mendukung organisasi dalam mengadopsi AI secara aman, efisien, dan berorientasi pada hasil bisnis.

Baca Juga: Telkomsel dan AWS Cetak 750 Talenta Disabilitas Mahir Cloud dan AI

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU