Selular.ID – Raksasa kendaraan listrik (EV) China, Xpeng Motors, telah meluncurkan versi SUV hibrida baru dari G7. Mobil ini diklaim menawarkan jangkauan terpanjang di dunia, mampu menempuh jarak dari Seattle ke Los Angeles tanpa pengisian daya.
G7 yang diperbarui ini dapat melibas jarak hingga 1.704 km – lebih jauh dari jarak antara Beijing dan Shanghai – dengan tangki bahan bakar 60 liter dan paket baterai 55,8 kWh, klaim perusahaan tersebut pada acara peluncuran di Guangzhou pada Kamis (8/1).
Model ini menggabungkan baterai dengan mesin bensin kecil yang berfungsi sebagai generator untuk mengisi ulang baterai, memungkinkan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada EV standar dan mengurangi “kecemasan jangkauan” – kekhawatiran terus-menerus kehabisan daya.
Selain G7, Xpeng juga memperkenalkan sedan P7+, yang memiliki “jangkauan super diperpanjang”, mampu mencapai hingga 1.550 km.
Baterai pada P7+ saja mampu menempuh jarak 430 km, yang terpanjang di kelasnya, kata chairman dan CEO Xpeng, He Xiaopeng, pada acara peluncuran tersebut.
G7 dibanderol mulai dari 195.800 yuan (US$28.000), dengan harga yang sama untuk versi EV jarak jauh dan versi listrik murni. P7+ mengikuti strategi serupa, dengan kedua versi dibanderol mulai dari 186.800 yuan.
Ini menandai gelombang kedua mobil jarak jauh dari Xpeng, menyusul minivan X9 yang diperbarui yang diluncurkan pada November 2025, yang menawarkan jarak tempuh hingga 1.602 km.
Pada Desember lalu, pengiriman X9, termasuk edisi listrik murninya, mencapai rekor 5.424 unit, hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Kinerja ini menandakan pergeseran signifikan dalam persaingan kendaraan listrik di China.
Pengiriman tahunan Xpeng meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi lebih dari 429.000 unit pada 2025, melampaui pesaingnya Nio dan Li Auto. Padahal pada 2024, Xpeng masih berada di peringkat terakhir di antara ketiganya.
Baca Juga:
- EV Terbaru Asal Tiongkok Xpeng Resmi Mengaspal di Indonesia
- Robot Humanoid Xpeng IRON Gunakan Kulit Sintetis
Ekspansi ke kendaraan hibrida merupakan respons Xpeng terhadap infrastruktur global yang tidak merata, menawarkan solusi bagi pengguna di wilayah di mana jaringan pengisian daya masih dalam tahap pengembangan.
Hal ini sejalan dengan “strategi global 2.0” perusahaan, di mana mereka berencana untuk berekspansi di Eropa, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika. Hingga akhir 2025, Xpeng yang membidik segmen atas, hadir di 60 pasar global.
Pada Desember lalu, perusahaan tersebut mengumumkan basis produksi ketiganya di luar China, yaitu di Malaysia, menyusul yang ada di Indonesia dan Austria.
Kinerja Xpeng di pasar luar negeri juga cukup meyakinkan. Tercatat pengiriman hampir berlipat ganda menjadi lebih dari 45.000 unit pada 2025, ungkap He.
Di Indonesia sendiri, Xpeng resmi meluncur pada pertengahan 2025, diwakili oleh Xpeng G6 (SUV) dan Xpeng X9 (MPV) melalui PT Erajaya Active Lifestyle.
Perakitan lokal (CKD) dimulai di pabrik PT Hyundai Indonesia Motor di Purwakarta dan pengiriman pertama dimulai akhir 2025 dan awal 2026.
Tentu versi terbaru dari G7 yang mampu melaju hingga 1.704 km, melebih jarak antara antara Jakarta – Banyuwangi (1.060 km), menjadi nilai lebih bagi konsumen di Indonesia.
Konsumen di Indonesia tak perlu khawatir akan persoalan daya, yang selama ini masih menjadi ganjalan pengguna mobil listrik dan hibrida.
Namun apakah Xpeng G7 kelak akan mengaspal juga di Tanah Air? Sejauh ini belum ada konfirmasi dari Erajaya Active Lifestyle, selaku main partner Xpeng untuk pasar Indonesia.
Saat ini di tengah ketatnya persaingan dengan pemain sejenis, volume penjualan Xpeng berada di peringkat kedelapan secara global di antara merek-merek energi baru dalam 10 bulan pertama tahun 2025, menurut perusahaan riset pasar Chinese Automotive Data.
BYD memimpin dengan 3,4 juta unit, diikuti oleh Tesla dengan hampir 1,3 juta unit. He mengatakan tujuh merek China termasuk dalam 10 besar global, yang disambut tepuk tangan untuk “produk buatan China yang mendunia”.
Selain kendaraan, Xpeng telah berinvestasi dalam teknologi mutakhir, termasuk pengemudian otonom dan robot.
Robot Iron-nya menjadi berita utama pada bulan November karena cara berjalannya yang sangat mirip manusia, yang mendorong He untuk membuka ritsleting bagian belakangnya di atas panggung untuk membuktikan bahwa tidak ada orang di dalamnya.
Awal pekan ini, Xpeng termasuk di antara perusahaan teknologi yang bertemu dengan Perdana Menteri China Li Qiang di Shenzhen.
Perusahaan mengatakan kepada Li bahwa robotika masih dalam “fase eksplorasi awal”, dengan 2028 diperkirakan akan menandai titik balik dari terobosan menuju aplikasi skala besar. Sementara penerapan komersial secara luas kemungkinan akan terjadi antara 2028 hingga 2038.





