Selular.ID – WhatsApp memperkuat fondasi keamanan aplikasi WhatsApp dengan menerapkan bahasa pemrograman Rust secara luas untuk menangani media dan file pengguna, dalam rangka melindungi lebih dari 3 miliar pengguna aktif dari ancaman malware dan eksploitasi berbahaya. Langkah ini diumumkan oleh tim keamanan WhatsApp di blog resmi Meta Engineering pada 27 Januari 2026.
Penggunaan Rust merupakan strategi baru WhatsApp untuk menambahkan lapisan pertahanan terhadap ancaman siber, terutama terkait pemrosesan file media seperti foto, video, atau dokumen yang dibagikan melalui aplikasi. Tim WhatsApp menyatakan bahwa Rust memberikan manfaat keamanan memori yang signifikan dibandingkan bahasa seperti C atau C++, yang selama ini umum dipakai dalam pengembangan aplikasi berskala besar.
Menurut WhatsApp, ini menjadi implementasi Rust paling luas di dunia untuk sebuah pustaka (library) produksi yang berjalan di miliaran perangkat, termasuk Android, iOS, macOS, Web, dan perangkat wearable. Keputusan ini menunjukkan kepercayaan tim pengembang bahwa Rust mampu menangani kebutuhan keamanan dan kinerja pada skala global.
Perlindungan Media yang Lebih Kuat
Pemrosesan file seperti gambar atau video selama bertahun-tahun menjadi titik rawan eksploitasi keamanan karena aplikasi menerima input dari sumber yang tidak dapat dipastikan keamanannya. Kasus besar seperti kerentanan Stagefright pada Android 2015 pernah memicu penyalahgunaan file multimedia pada platform mobile, termasuk aplikasi populer.
Untuk menanggapi risiko tersebut, WhatsApp sejak lama memiliki pustaka internal bernama “wamedia” yang berfungsi menstandardisasi dan memverifikasi format MP4 sebelum diteruskan ke sistem operasi penerima pesan. Dengan memindahkan implementasi ini ke Rust, WhatsApp bertujuan mengurangi potensi kesalahan memori yang biasa terjadi pada C/C++, sekaligus menambah kemampuan aplikasi dalam mendeteksi file tak beraturan atau berisiko tinggi.
Dalam praktiknya, tim pengembang melakukan pengembangan Rust secara paralel dengan versi C++ yang sudah ada. Karena Rust menekankan keamanan memori dan pemeriksaan kompilasi yang lebih ketat, WhatsApp mampu menggantikan sekitar 160.000 baris kode C++ dengan 90.000 baris Rust tanpa mengurangi fungsionalitas.
Rust juga menunjukkan keuntungan dalam efisiensi pemakaian memori dan performa runtime, sehingga meski dukungan lintas platform menjadi tantangan awal, hasil akhirnya membawa stabilitas tinggi terhadap operasi yang menangani jutaan file setiap hari.
Inisiatif Keamanan Ganda: Rust dan Fitur Akun Ketat
Selain implementasi Rust di lapisan pemrosesan media, WhatsApp juga meluncurkan fitur keamanan baru yang dinamai Strict Account Settings atau pengaturan akun ketat. Fitur ini memberikan opsi bagi pengguna yang berisiko tinggi, seperti jurnalis atau tokoh publik, untuk mengunci akunnya ke mode paling protektif.
Mode ketat ini otomatis menolak lampiran dan media dari pengirim yang tidak ada dalam daftar kontak serta memblokir panggilan dari nomor tak dikenal. Pendekatan ini mirip dengan fitur lockdown yang diperkenalkan oleh platform lain guna melindungi pengguna dari spyware canggih.
Integrasi Rust dalam sistem aplikasi mendukung strategi ini dengan mengurangi permukaan serangan pada bagian pemrosesan data yang paling rawan — yakni media dan file — yang kerap menjadi vektor serangan malware atau eksploitasi keamanan lain.
Rust dan Keamanan Memori di Aplikasi Skala Global
Rust dipilih WhatsApp karena sifatnya yang “memory safe” — artinya bahasa ini dirancang untuk mencegah kesalahan memori seperti buffer overflow atau penggunaan memori setelah dibebaskan (use after free). Kesalahan semacam ini adalah titik lemah utama dalam banyak serangan siber yang memanfaatkan celah di aplikasi.
Dengan Rust, tim WhatsApp menerapkan metode differential fuzzing dan tes unit yang luas untuk memastikan bahwa implementasi Rust berperilaku sama dengan versi C++ sebelumnya, namun dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi. Teknik fuzzing sendiri merupakan pendekatan pengujian perangkat lunak otomatis yang mencoba menemukan kelemahan dengan memberikan input acak yang tidak terduga.
Keuntungan lain dari Rust adalah kemampuannya untuk menjalankan pemeriksaan kompilasi yang lebih ketat sehingga banyak kesalahan bisa dihindari jauh sebelum aplikasi berjalan di perangkat pengguna. Ini berbeda dengan C dan C++ yang sering kali memerlukan pemeriksaan manual atau alat bantu lain untuk mengidentifikasi potensi kerentanan.
Dampak Pada Keamanan Pengguna
Penerapan Rust di WhatsApp bukan hanya soal mengganti satu bahasa pemrograman dengan yang lain, tetapi bagian dari strategi keamanan yang lebih luas untuk melindungi jutaan pengguna dari eksploitasi melalui file berbahaya. Deteksi format yang tidak sesuai standar, pemeriksaan jenis file berisiko tinggi seperti PDF, serta identifikasi file yang menyamar sebagai jenis lain adalah contoh pemeriksaan yang kini semakin ketat di lapisan pemrosesan media.
Kerangka pemeriksaan ini dinamakan Kaleidoscope, sebuah sistem yang berjalan di balik layar untuk memutus kemungkinan file berbahaya dihantarkan ke sistem pengguna yang rentan. Pendekatan seperti ini membantu mengurangi ketergantungan pada pembaruan sistem operasi pengguna, yang sering kali terlambat diterapkan dan membuka celah ekspoitasi dalam jangka waktu panjang.

Tantangan dan Komitmen Jangka Panjang
Walaupun transisi ke Rust meningkatkan keamanan, tim WhatsApp tetap mempertahankan berbagai strategi lain seperti end-to-end encryption untuk pesan dan panggilan, serta key transparency — teknologi verifikasi koneksi aman antara pengirim dan penerima. Kombinasi berbagai pendekatan ini menunjukkan komitmen WhatsApp untuk mempertahankan privasi dan keamanan sebagai fitur inti layanan.
WhatsApp juga terus melaporkan celah yang ditemukan melalui program Bug Bounty serta audit internal dan eksternal untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko lebih awal. Program ini mendorong peneliti keamanan untuk menemukan kerentanan dan memberi imbalan saat laporan tersebut membantu memperkuat pertahanan platform.
Implikasi untuk Industri Aplikasi Messaging
Penerapan Rust di WhatsApp merupakan contoh nyata bagaimana perusahaan teknologi besar kini semakin serius menempatkan keamanan aplikasi sebagai prioritas utama, tidak hanya melalui fitur privasi bagi pengguna, tetapi juga melalui arsitektur perangkat lunak yang lebih aman dari bawah ke atas.
Penggunaan Rust dalam sebuah pustaka yang berjalan di miliaran perangkat sekaligus di berbagai platform menegaskan bahwa bahasa pemrograman ini sudah siap digunakan pada skala global untuk aplikasi dengan kebutuhan keamanan tinggi.
Dengan adopsi Rust dan peningkatan fitur keamanan yang terus berlanjut, WhatsApp memperkokoh posisinya bukan hanya sebagai aplikasi pesan paling populer, tetapi juga sebagai salah satu platform yang memprioritaskan keamanan pengguna melalui pendekatan teknologi mutakhir.
Baca Juga: WhatsApp Berpotensi Terkena Aturan Konten yang Ketat



