Selular.id – Pergeseran yang tenang namun signifikan tengah terjadi di pasar derivatif kripto, karena salah satu perdagangan penghasil uang yang paling andal memperlihatkan tanda-tanda kegagalan.
Perdagangan tunai dan bawa atau cash-and-carry —di mana institusi membeli Bitcoin spot dan menjual kontrak berjangka (futures) untuk menangkap selisih harga—sedang runtuh dan menandakan pergeseran yang lebih dalam dalam struktur pasar kripto.
Minat terbuka atau open interest pada Bitcoin futures di Chicago Mercantile Exchange (CME) telah turun di bawah Binance untuk pertama kalinya sejak 2023, menggarisbawahi bagaimana selisih harga atau spread yang lebih ketat dan akses pasar yang lebih efisien mengikis arbitrase yang dulunya menguntungkan.
Bursa CME Group Inc. sudah menjadi tempat pilihan bagi meja perdagangan Wall Street yang menjalankan transaksi ini seusai Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot diluncurkan pada awal 2024.
Pengaturannya, yang mencerminkan perdagangan basis di pasar tradisional, sederhana: beli Bitcoin spot lewat ETF, jual kontrak berjangka, dan kumpulkan selisih harga.
Dalam beberapa bulan sesudah persetujuan ETF, pengembalian tahunan pada strategi yang disebut delta-netral kerap mencapai angka dua digit, menarik miliaran dolar dari dana yang tak peduli dengan arah harga—hanya imbal hasil.
Namun demikian ETF yang mendorong perdagangan ini juga menabur kehancurannya: seiring makin banyak meja perdagangan yang masuk, selisih arbitrase runtuh. Kini, perdagangan ini hampir tidak mampu menutupi biaya modal.
Imbal hasil tahunan satu bulan berada di sekitar 5%, termasuk yang terendah dalam beberapa tahun terakhir, menurut data yang dikumpulkan oleh Amberdata.
Baca juga:
- Prediksi Kripto 2026: 5 Prakiraan Utama Untuk Bitcoin dan Altcoin
- Kripto dan Bitcon Diburu Investor Meskipun 2023 Masih Winter Season, Ini Alasannya
Direktur Derivitatif Amberdata, Greg Magadini, mengatakan bahwa basisnya mendekati 17% pada waktu yang sama tahun lalu dan sekarang berada di sekitar 4,7%, nyaris melewati ambang batas yang ditetapkan oleh biaya pendanaan dan eksekusi.
Dengan imbal hasil obligasi pemerintah satu tahun sekitar 3,5%, daya tarik perdagangan ini memudar dengan cepat.
Di tengah penurunan harga, open interest pada kontrak berjangka Bitcoin CME sudah turun di bawah US$10 miliar atau setara dengan Rp169 triliun (asumsi kurs Rp16.903/US$) dari puncaknya yang mencapai lebih dari US$21 miliar atau sekitar Rp354,9 triliun, sementara minat terbuka Binance tetap stabil di sekitar US$11 miliar atau setara dengan Rp185,8 triliun, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh CoinGlass.
Pergeseran ini mencerminkan penarikan dana dari hedge fund dan akun-akun besar Amerika Serikat, bukan penarikan besar-besaran dari kripto sejak harga mencapai puncaknya pada Oktober, menurut Chief Executive Officer (CEO) Tesseract, James Harris.
Bursa kripto seperti Binance adalah tempat utama untuk kontrak berjangka perpetual, jenis kontrak di mana penyelesaian, penetapan harga, dan perhitungan margin dilakukan secara berkelanjutan, seringkali beberapa kali sehari.
Kontrak berjangka perpetual, seperti yang dikenal, menyumbang volume perdagangan terbesar di pasar kripto.
Tahun lalu, CME pun mulai menawarkan kontrak berjangka berukuran lebih kecil dan berjangka waktu lebih lama untuk aset kripto dan pasar indeks ekuitas yang menawarkan posisi berjangka dalam harga pasar spot, memungkinkan investor untuk memegang kontrak hingga lima tahun tanpa perlu bergulir ke kontrak baru.
“Secara historis, CME telah menjadi tempat pilihan bagi institusi dan arbitrase tunai dan bawa,” kata Harris, menambahkan bahwa peralihan dengan Binance “merupakan sinyal penting tentang bagaimana partisipasi pasar bergeser.”
Dirinya menggambarkan momen tersebut sebagai “penyesuaian taktis,” yang didorong oleh imbal hasil yang rendah dan likuiditas yang menipis, bukan karena hilangnya keyakinan.
Berdasarkan catatan yang dibagikan oleh CME Group, 2025 menjadi titik balik di pasar karena meningkatnya kejelasan regulasi menambah prospek investor di sektor ini, yang menyebabkan institusi melakukan diversifikasi di luar Bitcoin ke token seperti Ether, XRP Ripple, dan Solana.
“Rata-rata kami mencatat sekitar US$1 miliar (Rp16,9 triliun) dalam nilai nominal open interest (OI) harian untuk Ether pada 2024, dan pada 2025 angka tersebut meningkat menjadi hampir US$5 miliar (Rp84,4 triliun),” ujar CME Group.
Meskipun pemotongan suku bunga Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sudah menurunkan biaya pendanaan, hal itu gagal memicu reli berkelanjutan di dunia kripto sejak harga token anjlok secara menyeluruh pada 10 Oktober. Permintaan pinjaman melemah, imbal hasil keuangan terdesentralisasi rendah, dan para trader lebih menyukai opsi dan lindung nilai daripada penggunaan leverage atau dana pinjaman langsung.
Direktur Pelaksana Auros di Hong Kong, Le Shi mengatakan bahwa sejalan dengan kematangan pasar, para pemain tradisional kini memiliki lebih banyak jalan—mulai dari ETF hingga akses langsung ke bursa—untuk mengekspresikan pandangan arah pasar.
Pilihan tersebut mempersempit kesenjangan harga antar tempat perdagangan dan secara alami menekan arbitrase yang dulunya menggembungkan minat terbuka CME.
“Ada efek penyeimbangan diri,” kata Le, seraya berpendapat bahwa saat para peserta cenderung memilih tempat perdagangan termurah, basisnya menyusut dan insentif untuk menjalankan strategi pinjam uang atau carry trade berkurang.
Bitcoin sempat turun hingga 2,4% menjadi US$87.188 atau setara dengan Rp1,4 miliar pada Rabu, sebelum kemudian pulih. Penurunan tersebut sempat menghapus semua keuntungan yang tercatat sejak awal tahun.
Era margin tinggi yang hampir tanpa risiko kemungkinan besar telah berakhir, mendorong para trader menuju strategi yang lebih kompleks di pasar terdesentralisasi, menurut Chief Investment Officer 319 Capital, Bohumil Vosalik. Bagi perusahaan yang berfokus pada frekuensi tinggi dan arbitrase, itu berarti mencari peluang di tempat lain, kata dia.




