Selular.ID – Smartphone tri-fold kembali menjadi perbincangan global setelah sejumlah produsen memamerkan konsep perangkat layar lipat tiga sebagai arah inovasi berikutnya di industri ponsel.
Perangkat ini digadang-gadang menawarkan layar ekstra luas dalam format yang tetap ringkas saat dilipat, namun berbagai analisis industri menunjukkan bahwa adopsinya masih menghadapi tantangan besar, baik dari sisi teknologi, harga, hingga kebutuhan pengguna.
Pembahasan mengenai tri-fold menguat seiring meningkatnya eksperimen produsen terhadap desain layar fleksibel.
Gizchina, melalui artikel editorialnya, menyoroti bahwa pendekatan lipat tiga justru berpotensi menjadi kemajuan yang keliru jika diukur dari nilai guna nyata bagi konsumen.
Sorotan tersebut didasarkan pada evaluasi desain, reliabilitas, dan posisi produk di pasar yang semakin matang.
Sejumlah vendor besar memang telah lebih dulu mematangkan lini foldable konvensional, baik model book-style maupun clamshell.
Namun, transisi ke tri-fold dinilai bukan sekadar evolusi desain, melainkan perubahan arsitektur perangkat yang kompleks dan mahal.
Tantangan Desain dan Ketahanan Perangkat
Smartphone tri-fold membawa konsekuensi teknis yang jauh lebih rumit dibanding ponsel lipat dua engsel.
Perangkat ini umumnya membutuhkan dua engsel aktif, panel layar fleksibel berlapis, serta sistem mekanik yang lebih presisi. Kompleksitas tersebut meningkatkan risiko kegagalan struktural dalam penggunaan jangka panjang.
Dari sisi ketahanan, industri masih bergulat dengan isu klasik layar lipat, seperti:
• Lipatan (crease) yang semakin terlihat seiring waktu
• Kerentanan terhadap debu dan partikel mikro
• Penurunan daya tahan engsel akibat pemakaian berulang
Pada tri-fold, tantangan ini berlipat ganda. Setiap titik lipatan menjadi potensi masalah baru, terutama untuk pengguna aktif yang mengandalkan smartphone sebagai perangkat utama harian.
Harga Tinggi dan Skala Produksi Terbatas
Faktor lain yang menjadi sorotan adalah harga jual. Smartphone lipat dua saat ini saja masih berada di segmen premium dengan banderol puluhan juta rupiah.
Tri-fold, dengan kebutuhan material dan proses manufaktur yang lebih rumit, diperkirakan akan melampaui harga tersebut.
Skala produksi juga menjadi hambatan signifikan. Panel layar fleksibel berukuran besar dengan tingkat presisi tinggi memiliki yield produksi rendah, sehingga biaya per unit tetap tinggi.
Kondisi ini menyulitkan produsen untuk menekan harga agar lebih kompetitif di pasar massal.
Bagi konsumen, nilai tambah layar ekstra besar belum tentu sebanding dengan investasi yang dikeluarkan, terutama ketika tablet dan laptop ultra-tipis sudah mampu mengisi kebutuhan produktivitas dan hiburan secara lebih stabil.
Nilai Guna yang Masih Dipertanyakan
Dari perspektif pengalaman pengguna, manfaat tri-fold belum sepenuhnya jelas. Layar besar memang membuka peluang multitasking dan konsumsi konten, namun:
• Antarmuka aplikasi belum sepenuhnya dioptimalkan
• Penggunaan satu tangan semakin sulit
• Bobot perangkat cenderung lebih berat
Sebagian analis menilai bahwa smartphone tri-fold lebih mendekati perangkat demonstrasi teknologi dibanding solusi praktis. Inovasi ini menunjukkan kemampuan teknis produsen, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan mayoritas pengguna smartphone.
Gizchina dalam analisanya juga menekankan bahwa kemajuan teknologi idealnya menyederhanakan pengalaman pengguna, bukan menambah lapisan kompleksitas baru yang justru mengurangi kenyamanan.
Dinamika Pasar Foldable yang Semakin Selektif
Pasar smartphone lipat global saat ini memasuki fase evaluasi. Setelah fase awal penuh euforia, konsumen mulai lebih rasional dalam menilai manfaat foldable dibanding ponsel konvensional.
Produsen pun kini fokus pada:
• Peningkatan daya tahan
• Optimalisasi software
• Penurunan ketebalan dan bobot
Dalam konteks ini, tri-fold dianggap melompat terlalu jauh sebelum fondasi foldable dua lipatan benar-benar matang. Strategi tersebut berisiko menciptakan produk niche dengan volume penjualan terbatas.
Fokus Inovasi Alternatif yang Lebih Realistis
Sejumlah pelaku industri memilih pendekatan berbeda dengan mengalihkan riset ke:
• Baterai berkapasitas tinggi dengan ukuran lebih ringkas
• Kamera berbasis komputasi (computational photography)
• Integrasi AI on-device untuk efisiensi dan personalisasi
• Material baru yang lebih kuat namun ringan
Inovasi-inovasi ini dinilai memberikan dampak langsung pada pengalaman pengguna tanpa mengubah faktor bentuk secara drastis.
Arah Perkembangan ke Depan
Ke depan, smartphone tri-fold kemungkinan tetap hadir sebagai bagian dari eksplorasi teknologi layar fleksibel.
Namun, adopsinya diperkirakan terbatas pada segmen tertentu, seperti profesional kreatif atau pengguna enterprise dengan kebutuhan layar ekstra luas dalam satu perangkat.
Bagi pasar konsumen umum, industri masih melihat ruang pengembangan yang lebih relevan pada penyempurnaan foldable generasi saat ini.
Produsen dituntut menyeimbangkan inovasi, keandalan, dan nilai guna, agar teknologi baru benar-benar memberikan manfaat nyata, bukan sekadar pencapaian teknis.
Baca Juga:Smartphone Multi Lipat Jadi Trend Baru, Setelah Huawei Giliran Samsung Debutkan Galaxy Z TriFold
Dalam lanskap teknologi yang semakin kompetitif, arah inovasi smartphone tidak hanya ditentukan oleh seberapa futuristik desainnya, tetapi seberapa efektif perangkat tersebut menjawab kebutuhan pengguna sehari-hari di berbagai pasar, termasuk Indonesia.



