Rabu, 21 Januari 2026
Selular.ID -

SKKL Rising 8 Mulai Digelar, Perkuat Konektivitas Indonesia–Singapura

BACA JUGA

Selular.ID – kabel fiber optik bawah laut SKKL Rising 8 resmi mulai digelar pada Januari 2026 oleh PT Ketrosden Triasmitra Tbk, bersama mitra strategisnya PT Mora Telematika Indonesia Tbk, menghubungkan Jakarta–Batam–Singapura sebagai bagian dari penguatan infrastruktur konektivitas digital nasional dan regional.

Proyek strategis ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas bandwidth, keandalan jaringan, serta kemandirian Indonesia dalam infrastruktur kabel laut.

Penggelaran Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8 dilakukan melalui anak usaha Triasmitra, PT Jejaring Mitra Persada (JMP), dengan panjang total mencapai 1.128,5 kilometer.

Tahap awal difokuskan pada segmen Jakarta–Batam sepanjang 1.053,5 kilometer, menggunakan kapal penggelar kabel berbendera Indonesia, Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari.

Proyek ini telah mengantongi seluruh perizinan yang disyaratkan pemerintah, termasuk Izin Lingkungan (AMDAL).

Dukungan juga datang dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menempatkan SKKL Rising 8 sebagai bagian dari agenda strategis nasional dalam mendorong kedaulatan dan kemandirian digital Indonesia.

Infrastruktur Kabel Laut Berkapasitas Regional
SKKL Rising 8 mengadopsi teknologi repeatered submarine cable system berkapasitas tinggi, dengan total kapasitas mencapai 400 Terabit per second (Tbps).

Kapasitas ini menempatkan Rising 8 sebagai salah satu sistem kabel laut dengan daya angkut data terbesar di kawasan regional Asia Tenggara.

Sistem ini dirancang menggunakan kabel bawah laut produksi Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW), Jerman, yang merupakan bagian dari Prysmian Group.

Produsen tersebut memiliki pengalaman lebih dari 125 tahun dalam pengembangan kabel laut untuk proyek-proyek global berskala besar.

Untuk menjaga kualitas sinyal dan stabilitas transmisi data jarak jauh, SKKL Rising 8 dilengkapi 11 unit repeater berteknologi tinggi dari Alcatel Submarine Networks (ASN), Prancis.

Infrastruktur ini mendukung hingga 16 fiber pairs, dengan kapasitas minimum 25 Tbps per fiber pair, sehingga total kapasitas sistem dapat mencapai sedikitnya 400 Tbps.

Proyek Strategis dengan Standar Lingkungan Ketat
Dalam pelaksanaannya, penggelaran kabel fiber optik bawah laut SKKL Rising 8 dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan keselamatan secara ketat.

Seluruh tahapan proyek telah melalui kajian komprehensif terkait ekologi laut, keselamatan pelayaran, serta perlindungan kawasan pesisir dan biota laut.

Pengawasan proyek dilakukan oleh instansi pemerintah berwenang melalui penugasan pengawas resmi yang turut berada di atas kapal penggelar. Langkah ini memastikan seluruh proses penggelaran berjalan sesuai regulasi nasional dan standar internasional.

Triasmitra juga mengandalkan tenaga ahli berpengalaman yang dikembangkan secara berkelanjutan.

Pendekatan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam penguasaan teknologi kabel laut, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta keandalan pelaksanaan proyek infrastruktur strategis.

Selain itu, Bentang Bahari juga memiliki sejumlah notasi kelas DNV, seperti E0 Notation untuk sistem propulsi otomatis, Dynamic Positioning (DP), serta Cable Ship Notation sebagai kapal khusus penggelaran kabel laut.

Kapal sepanjang 94,65 meter ini mampu mengangkut hingga 2.400 ton kabel dan dilengkapi teknologi Dynamic Positioning DP-2, yang memungkinkan proses penggelaran dilakukan secara presisi dan aman, bahkan dalam kondisi laut yang menantang.

Keberadaan kapal ini menjadi simbol kemandirian Indonesia dalam pembangunan dan pengelolaan infrastruktur kabel laut.

Dukungan Pemerintah dan Agenda Digital Nasional
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan bahwa SKKL Rising 8 merupakan bagian dari misi Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Proyek ini diposisikan sebagai elemen penting dalam rencana strategis nasional untuk meningkatkan penetrasi serta kualitas
layanan akses digital.

SKKL Rising 8 juga diproyeksikan mendukung kebutuhan konektivitas lintas negara, khususnya antara Indonesia dan Singapura, yang selama ini menjadi salah satu hub data dan konektivitas utama di Asia Tenggara.

Dengan kapasitas besar dan jalur yang lebih andal, sistem ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital regional.

Pernyataan Resmi Manajemen Triasmitra
Titus Dondi, Direktur Utama PT Ketrosden Triasmitra Tbk,  menegaskan pentingnya proyek ini bagi industri telekomunikasi nasional.

Dalam pernyataannya, ia menyebut penggelaran SKKL Rising 8 sebagai tonggak baru kemandirian Indonesia di sektor kabel laut.

Dikatakan Titus, penggelaran SKKL Rising 8 dengan CLV Bentang Bahari menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut.

“Dengan kapasitas 25 Tbps per fiber pair serta kendali penuh atas operasional, kami optimistis proyek ini tidak hanya meningkatkan konektivitas digital Indonesia–Singapura, tetapi juga memposisikan Triasmitra sebagai pemain regional yang kompetitif dengan standar operasional kelas dunia,” ujar Titus.

Ia menambahkan bahwa segmen pertama Jakarta–Batam ditargetkan rampung tepat waktu pada akhir kuartal pertama 2026, sesuai dengan rencana kerja perusahaan.

Fungsi Strategis bagi Stabilitas Jaringan
Selain meningkatkan kapasitas, SKKL Rising 8 juga berfungsi sebagai jalur alternatif dan redundansi bagi penyelenggara Layanan Gerbang Akses Internet (NAP) domestik maupun internasional.

Keberadaan jalur cadangan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas infrastruktur digital nasional, terutama dalam menghadapi lonjakan trafik data dan potensi gangguan jaringan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan bandwidth tinggi meningkat signifikan seiring pertumbuhan layanan cloud, pusat data, dan aplikasi digital berbasis real-time.

SKKL Rising 8 dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan tingkat keandalan yang lebih tinggi.

Rencana Pengembangan Lanjutan
Penggelaran segmen Jakarta–Batam dari SKKL Rising 8 dijadwalkan selesai pada akhir kuartal pertama 2026, sebelum dilanjutkan ke segmen Batam–Singapura.

Proyek ini sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan infrastruktur kabel laut berikutnya yang telah disiapkan Triasmitra.

Setelah Rising 8, Triasmitra berencana melanjutkan pembangunan SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.732 kilometer, dengan target komersialisasi pada 2027.

Sistem tersebut akan menghubungkan berbagai wilayah strategis di Indonesia Tengah dan memperkuat backbone telekomunikasi nasional secara menyeluruh.

Baca Juga:Public Expose PT Ketrosden Triasmitra Tbk : Ungkap Kinerja dan Target 2025

Melalui rangkaian proyek ini, Triasmitra menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam pembangunan konektivitas digital Indonesia dan kawasan, sekaligus mendukung agenda nasional menuju ekosistem digital yang berdaulat, andal, dan berdaya saing tinggi.

 

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU