Kamis, 22 Januari 2026
Selular.ID -

Sejumlah Vendor Smartphone Tak Lagi Jual HP Murah

BACA JUGA

Selular.id – Produsen smartphone dihadapkan masalah rantai pasok yang terjadi di industri, termasuk perihal krisis komponen semikonduktor di global.

Nasib smarphone entry level atau HP murah menjadi pertanyaan karena secara komponen memiliki kebutuhan yang sama dengan smartphone kelas premium.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, biaya logistik, fluktuasi nilai tukar, serta naiknya harga bahan baku seperti memori dan sensor kamera akan memperbesar biaya produksi.

Hal ini berpotensi mendorong produsen smartphone seperti Xiaomi, Samsung, Honor, dan lain sebagainya menaikan harga perangkat di konsumen.

“Dari sisi kisaran, peningkatan harga umumnya berada di rentang 5–15% tergantung segmen produk,” kata Heru, Kamis (22/1/2026).

Heru menjelaskan ponsel kelas menengah hingga atas yang menggunakan chipset berperforma tinggi cenderung mengalami kenaikan harga lebih besar.

Sementara itu, segmen entry-level relatif lebih tertahan karena produsen berupaya menjaga keterjangkauan harga.

Dia menambahkan kenaikan harga berpotensi menekan volume penjualan, khususnya di segmen menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.

Baca juga:

Menurutnya, konsumen cenderung menunda pembelian, memperpanjang siklus penggantian ponsel, atau beralih ke merek dan model yang lebih terjangkau.

Namun, dampaknya tidak terjadi secara merata.

Heru mengatakan, segmen premium relatif lebih tahan terhadap tekanan tersebut karena konsumennya lebih mengutamakan spesifikasi dan kekuatan merek.

Selain itu, kebutuhan digital masyarakat yang terus meningkat masih menjadi penopang permintaan dasar.

“Secara keseluruhan, pasar kemungkinan mengalami perlambatan pertumbuhan, bukan penurunan yang tajam selama kenaikan harga masih dalam batas wajar dan tidak berkepanjangan,” katanya.

Dari sisi produsen, Heru menilai sejumlah strategi dapat ditempuh, antara lain diversifikasi pemasok chipset, optimalisasi desain produk agar lebih efisien dari sisi biaya, serta perluasan lini produk dengan spesifikasi seimbang dan harga terjangkau.

Program cicilan, bundling dengan operator, serta promosi juga dinilai penting untuk menjaga minat beli.

Pemerintah pun dapat berperan melalui pemberian insentif fiskal bagi industri perakitan lokal, percepatan pengembangan industri semikonduktor dalam negeri, serta upaya stabilisasi nilai tukar dan biaya logistik.

“Kolaborasi pemerintah dan industri menjadi kunci agar daya beli tetap terjaga sekaligus mendorong kemandirian rantai pasok jangka panjang,” kata Heru.

Harga Makin Mahal

Sebelumnya, sejak November 2025, manajemen Xiaomi telah memperingatkan potensi kenaikan harga smartphone secara global pada 2026 seiring meningkatnya harga chip memori.

Lonjakan harga memori terjadi akibat meningkatnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan.

Presiden Xiaomi Lu Weibing menyampaikan tekanan biaya pada industri smartphone diperkirakan akan lebih besar pada 2026 dibandingkan 2025.

“Secara keseluruhan, konsumen kemungkinan akan melihat kenaikan harga ritel produk yang cukup signifikan. Sebagian tekanan mungkin harus diatasi melalui kenaikan harga, tetapi kenaikan harga saja tidak akan cukup untuk menyerap seluruh tekanan tersebut,” kata Lu Weibing, mengutip laman GSM Arena.

Sementara itu, Counterpoint Research memprediksi pengiriman smartphone global akan turun 2,1% pada 2026.

Penurunan tersebut dipicu oleh kenaikan biaya komponen yang membebani produsen sekaligus melemahkan daya beli konsumen.

Counterpoint menyebutkan angka tersebut merupakan revisi turun sebesar 2,6 poin persentase dari perkiraan sebelumnya untuk 2026.

Pabrikan smartphone asal China seperti HONOR, OPPO, dan vivo diperkirakan mengalami perubahan estimasi terbesar dibandingkan proyeksi awal.

Kenaikan biaya material atau bill of materials (BoM) menjadi faktor utama yang menekan industri.

Direktur Riset Counterpoint MS Hwang menjelaskan segmen pasar kelas bawah dengan harga di bawah US$200 atau sekitar Rp3,3 juta menjadi yang paling terdampak.

“Apa yang kita lihat sekarang adalah segmen pasar kelas bawah terkena dampak paling parah, dengan biaya BoM meningkat sebesar 20%-30% sejak awal tahun,” kata Hwang, mengutip laman resmi Counterpoint, Rabu (17/12/2025).

Adapun, segmen pasar menengah dan atas juga mengalami tekanan dengan kenaikan harga komponen di kisaran 10% hingga 15%.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU