AI On-Device Dorong Kebutuhan RAM Lebih Besar
Salah satu faktor terbesar di balik lonjakan kebutuhan RAM ponsel adalah adopsi AI on-device.
Berbeda dengan AI berbasis cloud, pemrosesan AI langsung di perangkat membutuhkan memori besar agar dapat berjalan cepat dan aman tanpa koneksi internet.
Fitur seperti ringkasan otomatis, pengenalan gambar real-time, transkripsi suara, hingga asisten personal generatif berjalan secara lokal dan terus aktif di sistem. Semua proses tersebut memakan RAM dalam jumlah signifikan.
Google, misalnya, telah memperkenalkan berbagai fitur AI lokal pada lini Pixel yang berjalan langsung di perangkat.
Pendekatan serupa juga mulai diadopsi oleh Samsung, Qualcomm, hingga produsen chipset lainnya. Tanpa RAM yang memadai, fitur-fitur tersebut tidak dapat berjalan optimal atau bahkan harus dinonaktifkan.
RAM Lebih Penting dari CPU dalam Penggunaan Harian
Secara teknis, prosesor modern sudah sangat bertenaga untuk kebutuhan harian. Bahkan chipset kelas menengah saat ini mampu menangani tugas berat dengan cukup baik.
Namun, performa nyata yang dirasakan pengguna lebih sering ditentukan oleh kemampuan sistem menjaga banyak aplikasi tetap aktif.
Dalam skenario penggunaan sehari-hari, bottleneck justru sering terjadi pada manajemen memori.
Aplikasi pesan, navigasi, media sosial, dan browser berjalan bersamaan, ditambah layanan sistem di latar belakang. RAM yang besar memungkinkan transisi aplikasi lebih mulus dan respons sistem tetap cepat.
Android Central mencatat bahwa peningkatan CPU tanpa diimbangi kapasitas RAM yang cukup tidak memberikan dampak signifikan bagi pengalaman pengguna.
Sebaliknya, ponsel dengan RAM besar dan manajemen memori baik cenderung terasa lebih awet performanya.
Standar RAM Smartphone Menuju Dua Digit
Jika beberapa tahun lalu RAM 8 GB dianggap berlebih, standar tersebut kini mulai bergeser. Pada 2025, RAM 12 GB sudah umum di segmen menengah atas, bahkan 16 GB hadir di flagship dan ponsel gaming.
Menuju 2026, industri diperkirakan akan menjadikan RAM dua digit sebagai baseline untuk ponsel kelas menengah.
Beberapa produsen bahkan mulai memperkenalkan opsi 20 GB hingga 24 GB, meski implementasinya masih terbatas.
Namun, kapasitas besar saja tidak cukup. Optimalisasi sistem operasi dan efisiensi penggunaan RAM tetap krusial.
Android versi terbaru terus mengembangkan manajemen memori agar RAM besar benar-benar memberikan manfaat nyata, bukan sekadar angka di lembar spesifikasi.
Implikasi bagi Produsen dan Konsumen Indonesia
Bagi produsen, fokus pada RAM smartphone membawa konsekuensi pada desain perangkat dan struktur biaya. RAM berkapasitas besar membutuhkan manajemen daya yang lebih cermat serta integrasi software yang matang agar tidak boros baterai.
Sementara bagi konsumen Indonesia, tren ini menjadi pertimbangan penting saat memilih ponsel baru.
Spesifikasi RAM kini bukan lagi sekadar pembeda varian harga, melainkan indikator usia pakai perangkat. Ponsel dengan RAM lebih besar berpotensi bertahan lebih lama menghadapi pembaruan sistem dan aplikasi.
Di pasar Indonesia yang sangat sensitif terhadap nilai guna, edukasi soal peran RAM menjadi semakin relevan.
Konsumen tidak hanya perlu melihat harga dan merek, tetapi juga kesiapan perangkat untuk kebutuhan dua hingga tiga tahun ke depan.




