Selular.id – Qualcomm dilaporkan tengah menyiapkan kejutan besar untuk peta jalan chipset flagship mereka di tahun 2026 mendatang.
Raksasa teknologi asal San Diego ini kabarnya tidak hanya akan merilis satu model, melainkan dua varian sekaligus melalui seri Snapdragon 8 Elite Gen 6. Strategi baru ini mencakup kehadiran varian “Pro” yang dirancang khusus untuk mengisi kasta tertinggi ponsel pintar ultra-premium atau yang kerap dijuluki perangkat Ultra.
Kabar yang beredar dari rantai pasokan menyebutkan bahwa Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro akan menjadi dapur pacu paling ambisius yang pernah dibuat Qualcomm.
Chipset ini diprediksi menjadi yang pertama diproduksi secara massal menggunakan proses fabrikasi 2nm dari TSMC (N2P).
Langkah ini menandai lompatan besar dari teknologi 3nm yang digunakan saat ini, yang secara teoritis akan memberikan efisiensi daya jauh lebih baik sekaligus ruang lebih luas untuk mendongkrak performa mentah.
Daya tarik utama dari rumor terbaru ini adalah kemampuan clock speed yang luar biasa. Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan Gizmochina, varian Pro ini diklaim mampu menyentuh angka frekuensi minimum 5,00GHz.
Bahkan dalam tahap pengujian internal, chipset dengan kode SM8975 tersebut dilaporkan sempat mencapai angka 5,50GHz hingga 6,00GHz pada inti performanya.
Jika fakta ini terwujud, maka Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro akan menjadi sejarah baru dalam dunia silikon mobile, menembus batas yang sebelumnya hanya bisa dicapai oleh prosesor kelas desktop.
Peningkatan kecepatan yang drastis ini tentu membawa tantangan besar pada manajemen suhu. Untuk mengatasi panas yang dihasilkan dari frekuensi setinggi itu, Qualcomm dikabarkan akan mengadopsi teknologi disipasi panas baru yang mirip dengan Heat Pass Block (HPB).
Teknologi ini dirancang untuk menjaga stabilitas performa agar tidak terjadi throttling meskipun perangkat dipaksa bekerja keras dalam waktu lama, seperti saat menjalankan tugas kecerdasan buatan (AI) yang kompleks atau bermain game dengan grafis konsol.
Selain kecepatan inti yang fantastis, segmentasi antara varian standar dan varian Pro akan terlihat sangat jelas pada dukungan memori.
Versi Pro diprediksi akan menjadi satu-satunya yang mendukung RAM LPDDR6 dan penyimpanan UFS 5.0. Hal ini secara otomatis menempatkan perangkat yang menggunakannya pada level fungsionalitas berbeda, terutama untuk pemrosesan data AI secara lokal yang membutuhkan bandwidth besar.
Sementara itu, varian standar Snapdragon 8 Elite Gen 6 tetap akan mengusung arsitektur Oryon generasi ketiga dengan konfigurasi CPU 2+3+3, namun dengan dukungan RAM LPDDR5X yang lebih konservatif.
Namun, inovasi mutakhir ini harus ditebus dengan biaya yang tidak sedikit. Penggunaan wafer 2nm dari TSMC yang diperkirakan mencapai harga USD 30.000 per keping membuat harga jual chipset ini diprediksi melonjak hingga melampaui USD 300 per unit.
Kenaikan biaya produksi ini diprediksi akan mengubah lanskap pasar ponsel flagship, di mana hanya model “Ultra” dari merek-merek besar seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, atau Vivo yang akan mampu menyematkan varian Pro tersebut.
Langkah Qualcomm ini memperlihatkan dinamika bisnis semikonduktor yang kian kompetitif dan tersegmentasi. Dengan menghadirkan dua varian, Qualcomm seolah memberikan pilihan bagi produsen untuk tetap kompetitif secara harga melalui varian standar, namun tetap memiliki produk pameran kekuatan melalui varian Pro.
Strategi ini diharapkan mampu mengukuhkan posisi Qualcomm di tengah tekanan persaingan dari MediaTek dengan seri Dimensity 9000-nya yang juga mulai membidik teknologi 2nm.
Kehadiran Snapdragon 8 Elite Gen 6 Series ini kemungkinan besar akan tetap mengikuti siklus tahunan Qualcomm, yakni pada akhir tahun 2026.
Meski masih dalam tahap pengembangan dan penuh spekulasi, arah pengembangan ini menunjukkan bahwa era ponsel dengan performa setara komputer meja bukan lagi sekadar impian, melainkan evolusi yang tinggal menunggu waktu untuk mendarat di kantong pengguna.
Baca juga :Â Apple, Qualcomm, dan MediaTek Bisa Rilis Chipset 2nm di Bulan yang Sama




