Selular.id – Qualcomm dilaporkan telah mengambil keputusan strategis untuk tidak mengadopsi arsitektur Unified RAM pada lini chipset Snapdragon masa depan demi menjaga posisinya sebagai mitra netral bagi para produsen ponsel pintar.
Langkah ini mencuat sebagai respons terhadap tren Apple yang sukses menyatukan memori akses acak (RAM) langsung ke dalam paket prosesornya untuk meningkatkan kecepatan transfer data.
Namun, bagi Qualcomm yang beroperasi dalam ekosistem terbuka, integrasi semacam itu justru dianggap bisa merusak fleksibilitas desain yang selama ini menjadi kekuatan utama para vendor Android di pasar global.
Posisi Qualcomm sebagai penyedia komponen pihak ketiga menempatkan perusahaan pada situasi yang berbeda dengan Apple yang mengontrol seluruh rantai produksinya secara vertikal.
Jika Qualcomm menyatukan RAM ke dalam System-on-Chip (SoC), hal tersebut akan membatasi opsi kustomisasi bagi produsen seperti Samsung, Xiaomi, atau Oppo.
Para vendor ini biasanya ingin memiliki keleluasaan dalam memilih kapasitas memori dan pemasok RAM sendiri, seperti Samsung Memory atau SK Hynix, guna menyesuaikan harga jual perangkat di berbagai segmen pasar.
Don McGuire, Chief Marketing Officer Qualcomm, dalam sebuah diskusi industri baru-baru ini sempat mengisyaratkan bahwa model bisnis perusahaan tetap berfokus pada penyediaan solusi yang dapat diadaptasi secara luas.
Menyatukan memori ke dalam paket chip memang menawarkan keunggulan latensi yang lebih rendah, namun hal itu juga memaksa vendor ponsel untuk membeli paket lengkap dari Qualcomm tanpa bisa melakukan tawar-menawar dengan produsen memori eksternal.
Fleksibilitas inilah yang ingin dipertahankan Qualcomm agar ekosistem Android tetap kompetitif secara biaya dan variasi produk.
Keunikan arsitektur Unified RAM sebenarnya terletak pada cara CPU (otak pemrosesan utama) dan GPU (pengolah grafis) berbagi memori yang sama dalam satu kolam tanpa perlu menyalin data antar kompartemen.
Teknologi ini membuat perangkat terasa jauh lebih gegas saat menjalankan aplikasi berat. Namun, Qualcomm menilai bahwa teknologi pengemasan chip saat ini sudah cukup mumpuni untuk memberikan performa serupa melalui jalur komunikasi data yang sangat cepat antara prosesor dan RAM terpisah.
Dengan tetap memisahkan komponen ini, Qualcomm menghindari risiko menumpuk inventaris memori yang harganya sering berfluktuasi secara tajam di pasar dunia.
Keputusan ini juga berkaitan dengan manajemen panas dan durabilitas perangkat. Menempatkan modul memori tepat di atas atau di samping inti prosesor yang panas dapat menimbulkan tantangan termal yang signifikan bagi ponsel pintar yang memiliki ruang terbatas.
Apple mungkin bisa mengatasinya dengan desain perangkat keras yang sangat tertutup, tetapi bagi Qualcomm yang chip-nya digunakan di ratusan model ponsel dengan desain sistem pendingin yang berbeda-beda, risiko tersebut terlalu besar untuk diambil saat ini.
Dari sisi dinamika bisnis, langkah Qualcomm ini merupakan bentuk penghormatan terhadap peran mereka sebagai “orang tengah” di industri teknologi.
Jika mereka mulai mendikte kapasitas RAM dalam setiap paket chip, margin keuntungan vendor ponsel akan semakin tertekan.
Vendor tidak lagi bisa menawarkan varian “RAM 8GB” atau “RAM 12GB” dengan bebas jika stok chip yang tersedia hanya memiliki satu konfigurasi memori tetap.
Strategi Qualcomm tetap pada jalurnya: fokus menciptakan silikon yang kencang dan membiarkan para mitra manufaktur menentukan sisa spesifikasinya.
Meski demikian, Qualcomm terus meningkatkan dukungan untuk standar memori terbaru seperti LPDDR5X dan generasi penerusnya.
Hal ini memastikan bahwa meskipun RAM berada di luar paket prosesor, kecepatan akses datanya tetap mampu bersaing dengan standar industri tertinggi.
Perusahaan lebih memilih untuk mengoptimalkan pengontrol memori di dalam chip Snapdragon agar bisa berkomunikasi lebih efisien dengan modul eksternal daripada harus melakukan integrasi fisik yang berisiko mengasingkan mitra bisnis mereka.
Dampak dari kebijakan ini akan sangat terasa pada keberlanjutan ekosistem perangkat Android di masa depan.
Konsumen tetap bisa mengharapkan variasi ponsel yang beragam, mulai dari ponsel *gaming* dengan RAM jumbo hingga ponsel kelas menengah yang lebih terjangkau.
Kebebasan vendor untuk mencampur dan mencocokkan komponen merupakan alasan mengapa pasar Android tetap dinamis dan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat dengan daya beli yang berbeda.
Kesiapan infrastruktur produksi juga menjadi pertimbangan penting bagi Qualcomm. Mengintegrasikan RAM ke dalam SoC membutuhkan proses fabrikasi yang lebih kompleks dan mahal di fasilitas seperti TSMC.
Dengan memisahkan kedua komponen tersebut, Qualcomm dapat memastikan tingkat keberhasilan produksi chip tetap tinggi dan meminimalisir potensi cacat produksi yang bisa menghambat pasokan global.
Keamanan rantai pasok menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi industri semikonduktor.
Langkah strategis ini menegaskan bahwa inovasi tidak selalu berarti harus mengikuti jejak kompetitor secara mentah-mentah.
Qualcomm menunjukkan bahwa memahami ekosistem dan kebutuhan mitra bisnis jauh lebih penting daripada sekadar mengejar performa di atas kertas melalui integrasi perangkat keras yang kaku.
Fokus utama mereka tetap pada pengembangan inti pemrosesan yang kuat untuk mendukung tren kecerdasan buatan, sementara urusan memori tetap diserahkan kepada dinamika pasar yang lebih luas.
Apakah keputusan ini akan membuat performa iPhone tetap unggul dalam pengujian benchmark memori? Mungkin saja.
Namun, bagi Qualcomm dan ekosistem Android, mempertahankan fleksibilitas adalah harga yang pantas dibayar untuk menjaga dominasi pasar di tingkat global.
Dinamika antara efisiensi teknis dan kenyamanan bisnis ini akan terus menjadi topik menarik dalam perkembangan teknologi seluler selama beberapa tahun ke depan.
Baca juga :Â Qualcomm Siapkan Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro, Tembus Kecepatan 6GHz?



