Rabu, 14 Januari 2026
Selular.ID -

Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Ajang IPITEX Bangkok 2026

BACA JUGA

Selular.id – Tujuh pelajar Indonesia berusia 15 tahun meraih Medali Emas pada ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition atau IPITEx 2026 di Bangkok, Thailand.

Prestasi ini diraih melalui inovasi SoilPIN, alat portabel pemantau kesehatan tanah berbasis kecerdasan buatan.

Kementerian Komunikasi dan Digital mengapresiasi capaian tersebut sebagai bukti talenta muda Indonesia mampu melahirkan solusi digital yang menjawab kebutuhan sektor pertanian.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia mampu membaca persoalan nyata dan menjawabnya dengan teknologi. SoilPIN adalah contoh bagaimana digitalisasi bisa memberi manfaat langsung bagi petani dan lingkungan,” ujar Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat Abdullah di Jakarta Pusat, Rabu (13/1/2026).

Menurut Dirjen Edwin, inovasi ini menjawab kebutuhan nyata sektor pertanian.

“Teknologi sederhana dan portabel membuka akses informasi tanah bagi petani kecil dan wilayah dengan layanan agronomi terbatas,” ungkapnya.

SoilPIN membantu petani mengetahui kondisi tanah secara cepat, langsung di lahan, dan berbasis aplikasi ponsel.

Dengan bentuk pin portabel, alat ini mengukur delapan parameter tanah seperti pH, kelembaban, suhu, salinitas, serta unsur hara N, P, dan K.

Data terkirim ke aplikasi dan dianalisis AI.

Baca juga:

Perwakilan tim Armand Muhammad Abdullah menyatakan pengguna menerima informasi kondisi tanah dan rekomendasi tindakan perbaikan lahan.

“Petani sering mengambil keputusan tanpa data tanah yang akurat. SoilPIN memberi jawaban cepat di lapangan. Itu yang kami kejar,” jelasnya.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Ditjen Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Sonny Sudaryana menyatakan ide SoilPIN tengah dihubungkan dengan kebutuhan publik melalui Garuda Spark Innovation Hub.

“Garuda Spark kami rancang agar inovasi tidak berhenti di lomba. Kami bantu agar solusi seperti SoilPIN bisa dipakai petani, diuji di lapangan, dan berkembang menjadi produk yang bermanfaat luas,” ujarnya.

Ia menambahkan pengembangan ekosistem menjadi kunci agar teknologi memberi dampak nyata.

“Kami ingin inovasi dipakai masyarakat. Ketika petani bisa menghemat biaya, meningkatkan hasil, dan menjaga tanahnya, di situlah teknologi bekerja untuk publik,” katanya.

Sebelum tampil di Bangkok, SoilPIN diuji coba di Bandung dan Jakarta.

Inovasi ini juga telah memperoleh perlindungan hak cipta dari Kementerian Hukum RI.

Capaian ini menunjukkan solusi publik bisa lahir dari talenta muda.

Dengan ekosistem yang tepat, teknologi sederhana berbasis AI dapat menjawab persoalan pangan dan lingkungan secara nyata.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU