Friday, 23 January 2026
Selular.ID -

Pasar Smartphone Global 2026 Diprediksi Turun untuk Pertama Kalinya

BACA JUGA

Selular.ID – pasar smartphone global pada 2026 diproyeksikan mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, menurut laporan dan proyeksi industri yang dikutip dari analis pasar internasional.

Perlambatan ini diperkirakan terjadi di tengah tekanan ekonomi global, siklus penggantian perangkat yang semakin panjang, serta perubahan perilaku konsumen yang lebih selektif dalam membeli ponsel baru.

Setelah sempat menunjukkan tren pemulihan pascapandemi, industri smartphone kini memasuki fase baru yang lebih menantang. Pertumbuhan yang selama ini ditopang oleh permintaan perangkat 5G dan segmen premium mulai kehilangan momentum.

Sejumlah analis menyebut 2026 sebagai titik balik, di mana volume pengiriman smartphone global tidak lagi tumbuh, melainkan menyusut secara tipis.

Laporan tersebut menyoroti bahwa penurunan pasar smartphone 2026 bukan dipicu satu faktor tunggal. Kombinasi kondisi makroekonomi, inflasi di sejumlah negara, serta minimnya inovasi radikal menjadi latar belakang utama yang memengaruhi keputusan konsumen untuk menunda pembelian perangkat baru.

Siklus Penggantian Smartphone Semakin Panjang

Salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan pasar smartphone adalah semakin panjangnya siklus penggantian perangkat. Jika beberapa tahun lalu pengguna rata-rata mengganti ponsel setiap dua hingga tiga tahun, kini rentang waktu tersebut cenderung bergeser ke tiga hingga empat tahun, bahkan lebih.

Smartphone modern dinilai sudah cukup matang dari sisi performa. Prosesor, kamera, dan daya tahan baterai pada perangkat kelas menengah saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan harian pengguna. Akibatnya, dorongan untuk segera mengganti ponsel lama menjadi semakin kecil, terutama jika peningkatan fitur di model terbaru bersifat inkremental.

Kondisi ini terasa kuat di pasar negara maju, di mana tingkat penetrasi smartphone sudah sangat tinggi. Namun, tren serupa juga mulai terlihat di negara berkembang, termasuk kawasan Asia, yang selama ini menjadi motor pertumbuhan volume pengiriman global.

Tekanan Ekonomi Global dan Perubahan Prioritas Konsumen

Selain faktor teknologi, tekanan ekonomi global turut berperan besar dalam memengaruhi pasar smartphone 2026. Inflasi yang masih berlangsung di sejumlah wilayah membuat konsumen lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran. Smartphone, khususnya di segmen menengah dan premium, bukan lagi prioritas utama.

Konsumen cenderung mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan esensial atau layanan digital berbasis langganan, ketimbang membeli perangkat keras baru. Dalam konteks ini, smartphone semakin diposisikan sebagai perangkat jangka panjang, bukan produk yang sering diperbarui.

Analis industri juga mencatat bahwa kenaikan harga smartphone flagship dalam beberapa tahun terakhir memperkuat tren ini. Harga yang semakin tinggi membuat konsumen menunda pembelian, atau memilih mempertahankan perangkat lama yang masih berfungsi dengan baik.

5G Tak Lagi Menjadi Pendorong Utama

Pada fase awal, adopsi jaringan 5G sempat menjadi katalis pertumbuhan pasar smartphone. Banyak pengguna beralih ke perangkat baru demi menikmati konektivitas generasi terbaru tersebut. Namun, memasuki 2026, efek dorongan 5G diperkirakan mulai meredup.

Jaringan 5G di banyak negara sudah mencapai tingkat kematangan tertentu, sementara manfaat tambahannya bagi pengguna awam belum dirasakan secara signifikan. Bagi sebagian besar konsumen, kecepatan 4G masih dianggap memadai untuk aktivitas sehari-hari seperti streaming, media sosial, dan komunikasi.

Akibatnya, alasan untuk mengganti smartphone lama hanya demi 5G menjadi kurang relevan. Hal ini berdampak langsung pada permintaan perangkat baru, terutama di segmen menengah yang sebelumnya menjadi tulang punggung penjualan global.

Dampak Berbeda di Tiap Segmen Pasar

Meski secara keseluruhan pasar smartphone diprediksi menurun, dampaknya tidak merata di semua segmen. Segmen entry-level di sejumlah negara berkembang masih berpotensi bertahan, didorong oleh kebutuhan pengguna baru dan pergantian perangkat lama yang sudah tidak layak pakai.

Sebaliknya, segmen premium diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar. Konsumen kelas atas memang memiliki daya beli lebih kuat, namun mereka juga cenderung lebih rasional dalam menilai nilai tambah sebuah perangkat baru. Jika inovasi tidak terasa signifikan, keputusan untuk upgrade akan tertunda.

Di sisi lain, produsen smartphone lipat dan perangkat dengan form factor baru masih memiliki ruang untuk menarik minat, meski kontribusinya terhadap total volume pasar global relatif terbatas.

Strategi Produsen Menghadapi Pasar Smartphone 2026

Menghadapi proyeksi penurunan ini, para produsen smartphone mulai menyesuaikan strategi. Fokus tidak lagi semata pada volume pengiriman, tetapi pada profitabilitas, layanan, dan ekosistem. Banyak merek memperkuat lini layanan digital, perangkat wearable, serta integrasi ekosistem lintas perangkat.

Selain itu, efisiensi rantai pasok dan pengendalian biaya produksi menjadi prioritas. Produsen juga semakin selektif dalam merilis model baru, dengan portofolio produk yang lebih ramping namun tersegmentasi jelas.

Di pasar tertentu, kolaborasi dengan operator dan skema pembiayaan fleksibel juga menjadi strategi untuk menjaga daya tarik pembelian smartphone baru di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Implikasi bagi Industri dan Pasar Indonesia

Bagi industri secara global, penurunan pasar smartphone 2026 menandai fase konsolidasi. Persaingan tidak lagi sekadar soal spesifikasi, tetapi juga pengalaman pengguna dan nilai jangka panjang. Merek dengan basis pengguna loyal dan ekosistem kuat diperkirakan lebih tahan menghadapi perlambatan.

Untuk pasar Indonesia, dampaknya kemungkinan tidak sedalam negara maju, namun tetap terasa. Segmen menengah masih akan menjadi penopang utama, sementara konsumen semakin sensitif terhadap harga dan nilai guna. Dalam jangka menengah, pasar smartphone nasional diprediksi bergerak lebih stabil, meski tanpa lonjakan pertumbuhan signifikan.

Secara keseluruhan, proyeksi penurunan pasar smartphone 2026 mencerminkan kedewasaan industri. Smartphone telah menjadi kebutuhan dasar, bukan lagi produk dengan siklus inovasi agresif.

Bagi produsen, tantangannya kini bergeser pada bagaimana mempertahankan relevansi dan kepercayaan konsumen di tengah pasar yang semakin matang.

Baca Juga: Pasar Smartphone Global Diprediksi Susut 2,1% di 2026, Harga Naik Akibat Kelangkaan RAM

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU