Selular.id – Sebuah perusahaan perakit iPhone di China dilaporkan menjadi target serangan siber pada pertengahan Desember 2025.
Laporan yang pertama kali diungkap oleh media teknologi DigiTimes ini menyoroti ancaman terhadap sistem lini produksi, yang berpotensi membocorkan informasi sensitif terkait produk Apple yang belum dirilis.
Identitas perusahaan perakit yang diserang tidak diungkap secara rinci.
Namun, Apple diketahui memiliki beberapa mitra perakitan utama di China, seperti Foxconn, Wistron, dan Pegatron.
Hingga saat ini, baik Apple maupun perusahaan perakit yang diduga menjadi target belum memberikan konfirmasi resmi terkait insiden ini.
Dampak serangan terhadap operasional pabrik dan rantai pasok juga masih belum jelas.
Kekhawatiran utama dari serangan ini adalah potensi kebocoran data sensitif.
Karena menargetkan sistem produksi, informasi seperti detail produk iPhone yang masih dalam pengembangan, metode manufaktur khusus, hingga alur kerja internal dalam rantai pasok Apple dikhawatirkan dapat terekspos.
Kebocoran semacam ini tidak hanya merugikan Apple dari segi keunggulan kompetitif, tetapi juga dapat mengganggu strategi pemasaran dan peluncuran produknya.
Insiden keamanan siber di fasilitas produksi berisiko memicu efek lanjutan yang lebih luas terhadap stabilitas rantai pasok Apple secara global.
Gangguan pada infrastruktur produksi dapat memengaruhi pasokan perangkat ke berbagai negara, menyebabkan keterlambatan pengiriman.
Selain itu, untuk memulihkan sistem yang terdampak, pabrik mungkin harus menghentikan operasionalnya sementara waktu, yang berimbas pada target produksi.
Kekhawatiran juga datang dari klien lain perusahaan perakit tersebut.
Mereka berpotensi mempertanyakan tingkat keamanan siber dan ketahanan operasional mitra tersebut, terutama terkait risiko terhadap stabilitas pasokan komponen atau produk rakitan.
Kepercayaan dalam kemitraan manufaktur global sangat bergantung pada kemampuan menjaga keamanan data dan kelancaran operasi.
Baca Juga:
Ini bukan pertama kalinya rantai pasok Apple menjadi sasaran aktivitas peretas.
Nilai strategis dan dampak global dari operasi Apple membuatnya menjadi target yang menarik.
Sejarah mencatat sejumlah insiden serupa yang pernah mengganggu ekosistem produsen teknologi ini.
Riwayat Kerentanan Rantai Pasok Teknologi
Pada tahun 2018, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), mitra pembuat chip untuk Apple, mengalami gangguan operasional setelah serangan virus yang merusak sistem produksi chip.
Chief Financial Officer TSMC kala itu, Lora Ho, menyebut insiden tersebut sebagai serangan pertama yang secara langsung menargetkan lini produksi perusahaan.
Kejadian itu sempat menghentikan sebagian operasi pabrik dan menyadarkan industri tentang kerentanan infrastruktur fisik terhadap ancaman digital.
Lebih jauh ke belakang, pada 2012, kelompok peretas yang dikenal sebagai “Greyhat” berhasil membobol sistem Foxconn, salah satu mitra perakitan terbesar Apple.
Aksi peretasan tersebut berhasil membocorkan nama pengguna dan kata sandi dari berbagai vendor yang terhubung dengan Foxconn.
Kebocoran kredensial semacam itu berpotensi dimanfaatkan untuk rekayasa sosial atau bahkan pemesanan barang palsu dalam skala besar, yang dapat menimbulkan kerugian finansial dan operasional yang signifikan.
Insiden-insiden sebelumnya ini menggarisbawahi pola bahwa penyerang sering kali mencari titik terlemah dalam jaringan mitra yang luas, alih-alih menyerang langsung ke perusahaan inti.
Serangan siber yang menargetkan infrastruktur kritis semakin menunjukkan kompleksitas ancaman di era digital yang saling terhubung.
Implikasi dan Tantangan Keamanan Industri
Serangan terhadap pabrik iPhone di China ini kembali menempatkan keamanan siber dalam rantai pasok manufaktur global di bawah sorotan.
Perusahaan sebesar Apple, dengan jaringan mitra yang tersebar di berbagai negara, menghadapi tantangan besar dalam memastikan standar keamanan yang seragam dan ketat di semua titik dalam rantai produksinya.
Satu titik lemah dapat menjadi celah bagi penyerang untuk mengakses informasi berharga atau mengganggu operasi.
Ancaman siber terhadap sektor manufaktur tidak hanya berpotensi mencuri kekayaan intelektual, tetapi juga mengganggu stabilitas ekonomi, mengingat betapa terintegrasinya rantai pasok global.
Gangguan pada satu pemain kunci seperti Apple dapat berimbas pada berbagai bisnis pendukung, dari pemasok komponen kecil hingga logistik dan ritel.
Fenomena serangan siber yang berdampak luas juga terlihat di sektor lain, seperti pasar kripto yang kerap mengalami gejolak akibat aksi peretasan.
Di tingkat pengguna akhir, kesadaran akan keamanan siber juga terus meningkat, termasuk pada perangkat mobile.
Tren serangan siber ke HP Android yang meningkat menunjukkan bahwa ancaman digital bersifat omnipresent, menargetkan seluruh lapisan ekosistem teknologi.
Sementara investigasi atas serangan terbaru ini kemungkinan masih berlangsung, industri akan mengamati langkah-langkah yang diambil Apple dan mitranya dalam menanggapi dan memulihkan diri dari insiden tersebut.
Respons yang cepat dan transparan dapat membantu memulihkan kepercayaan, sementara penanganan yang tertutup justru dapat memicu spekulasi lebih lanjut.
Kedepannya, insiden seperti ini mungkin akan mendorong perusahaan-perusahaan teknologi untuk semakin menginvestasikan sumber daya dalam mengamankan tidak hanya sistem internal mereka, tetapi juga melakukan audit dan peningkatan keamanan yang ketat terhadap seluruh jaringan mitra dan vendornya.
Kolaborasi dalam menghadapi ancaman siber menjadi kunci, karena rantai sekuat mata rantai terlemahnya.




