Rabu, 14 Januari 2026
Selular.ID -

Mati Kutu Starlink di Langit Iran

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Tepat setelah pukul 8 malam pada Kamis (8/1), pemerintah Iran mematikan akses internet secara total di seluruh negeri. Artinya aktifitas komunikasi 85 juta penduduknya terputus dari dunia luar.

Mengikuti taktik yang digunakan baik dalam demonstrasi maupun perang, Iran menghentikan koneksi internet dan saluran telepon yang menghubungkan rakyatnya dengan diaspora yang luas di Amerika Serikat, Eropa, dan tempat lain di berbagai belahan dunia.

Sebelumnya, bahkan saat menghadapi sanksi ketat atas program nuklir negara tersebut, warga Iran masih dapat mengakses aplikasi ponsel dan bahkan situs web yang diblokir oleh otoritas berwenang, menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) untuk menghindari pembatasan.

Keputusan pada Kamis pekan lalu itu, secara tajam membatasi orang untuk berbagi gambar dan kesaksian tentang protes nasional atas perekonomian Iran yang sedang sakit.

Aksi demonstrasi yang massif terjadi di berbagai kota di Iran, telah berkembang menjadi tantangan terbesar bagi pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini juga dapat memberikan perlindungan bagi tindakan keras yang penuh kekerasan setelah Presiden AS Donald Trump, memperingatkan pemerintah Iran tentang konsekuensi atas kematian lebih lanjut di antara para demonstran.

Saat negara itu praktis gelap gulita, kerabat mereka di luar negeri sangat cemas mencari secuil berita, terutama karena jaksa agung Iran memperingatkan pada Sabtu (10/1) bahwa siapa pun yang ikut serta dalam protes akan dianggap sebagai “musuh Tuhan,” sebuah tuduhan yang dapat dihukum mati.

“Anda tidak dapat memahami perasaan kami. Saudara-saudara saya, sepupu-sepupu saya, mereka akan turun ke jalan. Anda tidak dapat membayangkan kecemasan diaspora Iran,” kata Azam Jangravi, seorang ahli keamanan siber di Toronto yang menentang pemerintah Iran.

Baca Juga:

“Saya tidak bisa bekerja kemarin. Saya ada rapat tetapi saya menundanya karena saya tidak bisa fokus. Saya memikirkan keluarga dan teman-teman saya.”

Ini adalah kali ketiga Iran memutus akses internet dari dunia luar. Kali pertama terjadi pada 2019, ketika para demonstran yang marah atas lonjakan harga bensin bersubsidi pemerintah turun ke jalan. Lebih dari 300 orang dilaporkan tewas.

Kemudian terjadi protes atas kematian Mahsa Amini pada 2022 setelah penangkapannya oleh polisi moral negara karena diduga tidak mengenakan hijab atau jilbab, sesuai keinginan pihak berwenang.

Penindakan selama sebulan imbasnya kematian perempuan muda itu, menewaskan lebih dari 500 orang.

Meskipun konektivitas yang ditawarkan oleh Starlink berperan dalam demonstrasi Amini, penyebaran penerima sinyalnya kini jauh lebih besar di Iran.

Hal ini terjadi meskipun pemerintah tidak pernah mengizinkan Starlink untuk beroperasi, sehingga layanan tersebut ilegal untuk dimiliki dan digunakan.

Setahun yang lalu, seorang pejabat Iran memperkirakan puluhan ribu penerima Starlink di Republik Islam, angka yang menurut aktivis kebebasan internet yang berbasis di Los Angeles, Mehdi Yahyanejad, terdengar masuk akal.

Meskipun banyak penerima kemungkinan berada di tangan para pebisnis dan orang lain yang ingin tetap terhubung dengan dunia luar untuk mata pencaharian mereka, Yahyanejad mengatakan beberapa di antaranya kini digunakan untuk berbagi video, foto, dan laporan lain tentang protes tersebut.

“Dalam hal ini, karena semua hal tersebut telah terganggu, Starlink memainkan peran kunci untuk menyebarkan semua video ini,” kata Yahyanejad.

Namun, penerima Starlink menghadapi tantangan. Sejak perang 12 hari dengan Israel Juni lalu, Iran telah mengganggu sinyal GPS, kemungkinan dalam upaya untuk mengurangi efektivitas drone.

Penerima Starlink menggunakan sinyal GPS untuk menentukan posisi mereka agar dapat terhubung ke konstelasi satelit orbit rendah.

Amir Rashidi, Direktur Hak dan Keamanan Digital di Miaan Group dan seorang ahli tentang Iran, mengatakan bahwa sejak Kamis pekan lalu, ia telah melihat sekitar 30% kehilangan paket yang dikirim oleh perangkat Starlink — pada dasarnya unit data yang ditransmisikan melalui internet. Di beberapa wilayah Iran, Rashidi mengatakan telah terjadi kehilangan paket hingga 80%.

Meskipun ada laporan bahwa puluhan ribu unit Starlink beroperasi di Iran, pemadaman juga telah mencapai koneksi satelit.

Amir menambahkan bahwa ketika protes nasional dimulai, sinyal pengacau tingkat militer terdeteksi menargetkan satelit Starlink.

Menurutnya, sekitar 30 persen lalu lintas uplink dan downlink Starlink terganggu pada dini hari, meningkat menjadi lebih dari 80 persen sekitar pukul 10 malam waktu setempat.

Rashidi mengatakan bahwa gangguan semacam ini – yang disebabkan oleh peralatan militer yang dikenal sebagai pengacau sinyal – belum pernah disaksikan dalam 20 tahun penelitiannya.

Ia menambahkan bahwa teknologi yang terlibat sangat canggih dan berstandar militer, dan kemungkinan besar dipasok ke pemerintah oleh Rusia atau China, jika tidak dikembangkan di dalam negeri.

Karena pengacau sinyal tersebar luas di seluruh negeri, tingkat layanan Starlink bervariasi menurut lokasi: beberapa daerah memiliki konektivitas yang relatif lebih baik, yang lain jauh lebih buruk.

Berdasarkan perkiraan terbaru, jumlah pelanggan Starlink di Iran telah mencapai sekitar 40.000–50.000 orang. Bahkan selama pemadaman internet dua belas hari di Iran pada musim panas 2025, selama perang Iran –Israel,  beberapa pengguna berhasil mengakses internet tanpa sensor melalui layanan satelit ini.

Saat jaringan telepon selular di seluruh Iran telah dimatikan, namun beberapa laporan menunjukkan bahwa koneksi Wi-Fi rumah sempat aktif. Meski demikian, tanpa akses ke internet yang lebih luas, koneksi fixed broadband tersebut praktis tidak berguna.

Dampaknya, sistem perbankan, aplikasi transportasi daring seperti Snapp dan Tapsi, platform belanja daring, dan bahkan jejaring sosial domestik semuanya offline. Panggilan telepon internasional juga diblokir.

Aplikasi yang biasanya menyediakan panggilan suara ke Iran – seperti Yolla – mengkonfirmasi bahwa pembatasan panggilan sedang diterapkan.

Rashidi menambahkan, Iran selama beberapa tahun terakhir berupaya untuk meningkatkan kemampuan sensor terhadap internet.

Negeri yang pernah berperang dengan Irak itu, berupaya membangun layanan pengiriman pesan singkat internal mirip dengan yang dimiliki China di mana masyarakat tetap bisa berkomunikasi di dalam negeri namun akses internetnya dengan dunia luar terputus.

Selain Iran, India juga tengah membangun satu aplikasi yang bertujuan untuk menyaingi WhatsApp. Begitu pun dengan Rusia. Negeri beruang merah itu, sedang mengembangkan ‘super app’ yang sama seperti WeChat milik China.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU