Friday, 30 January 2026
Selular.ID -

Mastel Soroti Masifnya AI di Indonesia, Tetapi Mayoritas Milik Asing

BACA JUGA

Selular.id – Ketua Bidang Industri IoT, AI & Big Data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Prasetyo menyoroti infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang massif di Indonesia tetapi mayoritas milik asing.

Teguh menyebut fenomena masifnya kecerdasan buatan (AI) di Indonesia tetapi mayoritas milik asing ini masih dalam tahap wajar.

Hal ini mengingat pembangunan ekosistem AI masih berada pada fase awal, terutama dari sisi infrastruktur.

Menurut dia, pertumbuhan infrastruktur AI di Indonesia berlangsung sangat pesat dalam tiga tahun terakhir, mulai dari pembangunan GPU hingga pusat data berbasis AI dengan nilai investasi yang besar.

“Yang paling dasar itu infrastrukturnya dulu. Infrastruktur AI di Indonesia rasanya tumbuh pesat sekali, baik GPU maupun AI data center,” kata Teguh dalam acara Indonesia Digital Festival 2026 “From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Sustainable Digital Future” di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Namun, Teguh mengakui sebagian besar pengguna infrastruktur AI di Indonesia saat ini masih berasal dari pasar global, bukan dari dalam negeri.

Karena itu, dia menilai Indonesia masih membutuhkan penguatan infrastruktur pendukung di luar pusat data, termasuk pengembangan jaringan dan komputasi terdistribusi.

Di lapisan berikutnya, Teguh melihat pertumbuhan positif dari sisi aplikasi AI. Jumlah startup AI di Indonesia telah menembus ratusan, mencakup pengembangan AI visual, suara, pemrosesan ruang-waktu, hingga large language model (LLM) lokal.

Menurut dia, ke depan AI berpotensi menjadi killer application jaringan 5G, sebagaimana e-commerce menjadi pendorong utama adopsi 4G. “Kalau ditanya killer application 4G apa, jawabannya e-commerce.

Kalau 5G, kami di Mastel melihat AI akan menjadi killer application-nya,” kata Teguh. Dia menilai hampir seluruh sektor kini bergantung pada AI, termasuk Internet of Things (IoT).

Baca juga:

Bahkan penggunaan sederhana seperti kamera pengawas rumah telah memanfaatkan teknologi AI untuk mendeteksi objek hingga aktivitas manusia.

Teguh juga menilai pengembangan AI tidak hanya akan terpusat di hyperscale data center, melainkan akan bergerak ke arah AI on edge seiring dengan kondisi geografis Indonesia yang berbeda dengan negara satu pulau seperti Singapura.

Risiko Investasi

Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Sonny Hendra Sudaryana mengingatkan adanya risiko global yang menyertai masifnya investasi teknologi, termasuk AI.

Dia menyebut dalam World Economic Forum (WEF) 2025 di Davos, Swiss telah mengidentifikasi tiga potensi gelembung ekonomi global, yakni AI bubble, crypto bubble, dan debt bubble.

“AI bubble ini terjadi ketika investasi yang dikeluarkan belum menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan,” kata Sonny.

Menurut dia, fenomena tersebut sejalan dengan kondisi global saat ini, di mana banyak perusahaan gencar berinvestasi AI, tetapi belum seluruhnya mampu mengonversinya menjadi pendapatan nyata.

Sonny menilai kewaspadaan terhadap risiko gelembung perlu diimbangi dengan kebijakan yang mendorong pemanfaatan AI secara produktif dan berkelanjutan.

Dari sisi industri telekomunikasi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys menegaskan AI bukan semata isu sektor telekomunikasi, melainkan bagian dari industri digital secara menyeluruh.

Menurut dia, investasi AI justru saat ini lebih banyak dilakukan oleh pelaku pusat data.

“AI ini dimainkan oleh hampir semua industri, bukan hanya operator,” ujar Merza.

Di internal perusahaan telekomunikasi, Merza menjelaskan pemanfaatan AI masih difokuskan pada peningkatan efisiensi operasional.

AI digunakan dalam pengelolaan jaringan, peningkatan kualitas layanan pelanggan, hingga optimalisasi proses internal perusahaan. Selain itu, operator juga menyediakan solusi berbasis AI untuk segmen enterprise.

Namun demikian, dia menyebut operator belum menjadikan AI sebagai produk ritel yang dimonetisasi secara langsung ke konsumen, seperti AI untuk pengolahan foto atau video.

“AI yang kami bangun kebanyakan untuk enterprise solution, bukan untuk monetisasi langsung ke retail,” katanya.

Profitabilitas AI Masih Terbatas

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Dyah Ayu menilai meski profitabilitas AI masih terbatas, investasi teknologi ini di Indonesia tetap akan tumbuh.

Menurut Dyah, Indonesia kini mulai memasuki fase baru pengembangan AI, salah satunya melalui kehadiran agentic AI, yaitu sistem AI yang mampu memperbarui data secara otomatis, menganalisis informasi lintas sumber, hingga menyusun strategi secara berkelanjutan.

“Ini bukan cuma AI yang menjawab pertanyaan, tapi AI yang terus update dan bisa menjadi search engine sekaligus analis,” ujarnya.

Dia menilai potensi pasar domestik masih sangat besar, mengingat penetrasi internet Indonesia telah menembus 80% populasi.

Kondisi tersebut menjadikan Indonesia menarik bagi investor global, meskipun dari sisi regulasi masih terdapat celah, khususnya terkait pajak digital.

Dyah menilai belum adanya aturan spesifik mengenai pajak digital membuat perusahaan teknologi global memperoleh keuntungan besar dari pasar Indonesia, sementara kontribusi fiskalnya masih terbatas.

Menurut dia, mekanisme pajak digital berbasis jumlah pengguna dan valuasi pasar dapat menjadi solusi agar investasi AI tetap berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi negara.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU