Monday, 26 January 2026
Selular.ID -

Kala Jensen Huang dan Satya Nadella Kompak Tepis Gelembung AI

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Kecerdasan buatan (AI) telah terbukti membutuhkan investasi berkelanjutan di seluruh pusat data, tetapi infrastruktur energi juga berada di bawah tekanan yang lebih tinggi dari sebelumnya dan permintaan akan tenaga profesional terampil juga sama tingginya.

Alhasil, banyak kalangan menilai ledakan AI yang kini masif terjadi, berpotensi menimbulkan gelembung yang merugikan industri, seperti halnya gelembung dot com yang terjadi beberapa dekade lalu.

Meski tak menampik adanya kekhawatiran tersebut, CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa umat manusia sedang menyaksikan salah satu revolusi terbesar dalam sejarah manusia berkat AI dan robotika.

Berbicara di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pekan lalu, Huang menepis kekhawatiran akan gelembung AI dengan menyatakan bahwa kecerdasan buatan menjangkau semua sektor – bukan hanya istilah yang digunakan dalam bisnis teknologi.

“Harga sewa terus meningkat. Bukan hanya generasi terbaru, tetapi juga GPU dua generasi yang lalu,” kata Huang dalam sebuah wawancara dengan CEO Blackrock, Larry Fink, merujuk pada jangkauan AI yang sangat luas.

Dalam forum yang sama, CEO Microsoft Satya Nadella juga menepis kemungkinan gelembung AI yang akan datang, dengan mencatat, “Saya pikir tanda yang jelas apakah itu gelembung atau bukan adalah jika yang kita bicarakan hanyalah perusahaan teknologi,” katanya, seraya menyebutkan jangkauan global dan lintas industri AI.

Baca Juga:

Kita juga melihat AI berkembang menjadi perangkat fisik, dengan Huang menyatakan bahwa robotika memberikan peluang “sekali seumur hidup” bagi manufaktur Eropa.

Huang juga memberikan komentar positif tentang dampak AI pada pasar tenaga kerja – ia percaya bahwa “keahlian” akan sangat penting untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur. “Ini adalah pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia dan itu akan menciptakan banyak lapangan kerja,” katanya.

Pendapat Nadella berbeda dengan Huang, ia lebih fokus pada pekerjaan yang terpengaruh oleh AI.

Nadella membandingkan kondisi saat ini dengan tren tenaga kerja sebelumnya, di mana calon karyawan harus membuktikan kompetensi dalam berbagai perangkat lunak perkantoran seperti Word dan Excel. Peningkatan keterampilan AI hanyalah fase selanjutnya dari itu.

Singkatnya, jelas bahwa kedua pemimpin tersebut melihat AI dan robotika secara drastis mengubah cara kita memandang pekerjaan, tetapi bagaimana hal itu akan berdampak pada penciptaan lapangan kerja atau hilangnya lapangan kerja masih belum dapat dipastikan.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU