Rabu, 21 Januari 2026
Selular.ID -

Justin Hotard Sukses Kompori Uni Eropa, Nasib Huawei dan ZTE di Ujung Tanduk

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Ketegangan antara China dan Uni Eropa (UE) diprediksi akan kembali memanas. Pasalnya, blok ekonomi yang beranggotakan 27 negara itu, tengah bersiap untuk menggulirkan aturan baru yang lebih tegas terhadap vendor-vendor telekomunikasi asal China.

Seperti dilaporkan Financial Times, UE berencana meluncurkan proposal keamanan siber pada minggu ini yang berisikan larangan penggunaan peralatan buatan vendor China, Huawei dan ZTE, dari infrastruktur penting di blok tersebut.

FT menambahkan, bahwa larangan tersebut akan mencakup jaringan telekomunikasi, sistem energi surya, dan pemindai keamanan, sebagai bagian dari perombakan keamanan yang luas.

Proposal tersebut dilaporkan diluncurkan pada 20 Januari 2026 dan muncul ketika UE bertujuan untuk mengurangi ketergantungannya pada perusahaan teknologi besar AS dan pemasok China yang disebut berisiko tinggi.

Meskipun beberapa negara telah melarang penggunaan peralatan buatan China dari infrastruktur penting, beberapa negara UE terus menggunakan Huawei dan ZTE.

Dinukil dari Euractiv (19/3/2025), berdasarkan data data dari Strand Consult, sebanyak 17 negara Uni Eropa, termasuk negara-negara dengan ekonomi terbesar di blok tersebut, masih belum memiliki rencana komprehensif untuk mengurangi ketergantungan mereka pada perusahaan teknologi China yang “berisiko tinggi”, Huawei dan ZTE—meskipun Uni Eropa telah berupaya selama hampir lima tahun, menurut data terbaru.

Tahun lalu, Spanyol memberikan kontrak senilai €12 juta kepada Huawei, meskipun Komisi Eropa (EC) memperingatkan negara tersebut agar tidak melakukan langkah tersebut.

Meskipun 17 negara tertinggal dalam hal implementasi perangkat 5G dalam hukum, 18 negara memiliki lebih dari seperempat jaringan selular mereka yang menggunakan komponen berisiko tinggi.

Negara yang relatif aman dari risiko adalah Slovakia (15%) dan Prancis (13%), menurut Strand Consult, sementara negara-negara berikut memiliki jaringan seluler yang sepenuhnya bebas dari komponen China: Denmark, tiga negara Baltik, Luksemburg, Malta, dan Swedia.

Tiga negara anggota telah mengimplementasikan perangkat 5G, dengan dampak yang nyata pada jaringan mereka.

Persentase komponen China dalam jaringan seluler 5G pada kuartal keempat 2024 adalah 41% di Belgia, penurunan signifikan dari ketergantungan 100% pada kuartal keempat 2019.

Pada periode yang sama, persentase komponen China dalam 5G di Rumania turun dari 61% menjadi 44%.

Namun, angka-angka ini tetap harus dilihat dengan hati-hati, karena 5G masih dalam tahap peluncuran di seluruh Uni Eropa.

Operator selular menghadapi tantangan ganda: mereka perlu mengganti komponen China yang berisiko tinggi di jaringan selular 4G lama mereka, sekaligus membangun jaringan selular 5G baru tanpa komponen dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Topik ini kembali menjadi penting di tingkat Uni Eropa mengingat hubungan AS-UE yang tegang, yang menempatkan keamanan dan kedaulatan di garis depan.

Di sisi lain, upaya mengurangi risiko jaringan telekomunikasi juga menjadi prioritas bagi Komisioner Teknologi UE, Henna Virkkunen.

Sebelumnya, EC secara konsisten telah meminta operator di seluruh UE untuk membatasi pemasok berisiko tinggi dan menyerukan penghentian pemasangan peralatan baru.

Dengan beleid baru tersebut, Uni Eropa akan mewajibkan negara-negara untuk membatasi atau mengecualikan vendor berisiko tinggi dari jaringan.

FT mengutip draf rencana keamanan siber yang diusulkan yang menyatakan: “Solusi nasional yang terfragmentasi telah terbukti tidak cukup untuk mencapai kepercayaan dan koordinasi di seluruh pasar.”

Setelah proposal tersebut diajukan, draf undang-undang akan dinegosiasikan dengan Parlemen Eropa dan negara-negara anggota.

Meski bakal diajukan sebagai UU, para anggota UE secara individual mengawasi keamanan siber mereka sendiri, yang dapat berarti adanya penolakan terhadap rencana tersebut.

Baca Juga:

Justin Hotard Serukan Uni Eropa Bertindak Tegas

Tak dapat dipungkiri dengan aturan yang lebih tegas, nasib Huawei dan ZTE di UE kini berada di ujung tanduk. Semua itu tampaknya tak lepas dari manuver CEO Nokia Justin Hotard.

Seperti halnya Presiden AS Donald Trump yang kerap bersikap frontal, Hotard mendadak muncul sebagai kritikus korporat paling lantang atas kelonggaran banyak negara Eropa terhadap vendor China.

Sikap antagonis Hotard terhadap dua raksasa China, Huawei dan ZTE tercermin dari pernyataan-pernyataannya.

Pada September 2025, dalam konferensi pers di Finlandia, pria asal Amerika Serikat itu secara retoris bertanya mengapa Eropa masih menoleransi Huawei dan ZTE, sementara Ericsson dan Nokia hanya ditawari sedikit peluang bisnis di negara tersebut.

Pernyataan itu berlanjut pada acara pasar modal Nokia pada November 2025. Dengan lantang, Hotard menuduh bahwa otoritas Eropa telah berbicara selama bertahun-tahun tentang vendor berisiko tinggi, tetapi tidak berbuat banyak untuk menyingkirkan mereka.

Tindakan yang lebih tegas akan menjadi peluang besar bagi Nokia, menurut Hotard.

“Bisnis Huawei di Eropa di sektor-sektor yang menjadi pesaing Nokia masih bernilai antara €2 miliar (US$2,3 miliar) dan €2,5 miliar (US$2,9 miliar) dalam pendapatan tahunan”, ungkapnya.

Hotard dengan cerdik berusaha menghindari kekecewaan terhadap perusahaan telekomunikasi yang masih menjadi pelanggan Huawei.

Manuver Hotard tidak berhenti di situ. Masih di bulan yang sama, ia mengatakan kepada para analis bahwa operator akan membutuhkan insentif finansial untuk menggantikan Huawei.

Hal ini terjadi setelah ia menyuarakan dukungannya untuk konsolidasi di sektor telekomunikasi Eropa.

Baik Ericsson maupun Nokia sama-sama berpendapat, bahwa banyaknya jaringan di berbagai negara kecil telah menggerogoti profitabilitas dan melemahkan kemampuan perusahaan telekomunikasi untuk berinvestasi dalam infrastruktur baru.

Jumlah jaringan yang lebih sedikit jelas akan menguntungkan para vendor telekomunikasi yang kini kedodoran dengan beratnya beban investasi.

Hotard mungkin juga telah memperhitungkan bahwa kini ada lebih banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan mengorbankan Huawei daripada kerugian di China.

Pada 2024, Nokia hanya meraup pendapatan sebesar €1,1 miliar ($1,3 miliar) di China Raya, yang mencakup Hong Kong dan Taiwan.

Jumlah tersebut kurang dari setengah jumlah yang diyakini Hotard dapat dikorbankan Huawei akibat kebijakan Eropa yang lebih ketat.

Penjualan di China Raya juga anjlok dari lebih dari €2,5 miliar pada 2018. Amblasnya pendapatan dari tahun ke tahun, membuat Nokia berpikir bisnisnya di China akan lenyap sepenuhnya di masa mendatang.

“Pemasok Barat, yang hanya kami dan Ericsson, kini memiliki pangsa pasar 3% di China dan terus menurun, dan kami akan dikeluarkan dari China karena alasan keamanan nasional,” kata Tommi Uitto, Presiden Grup Bisnis Jaringan Selular Nokia, pada konferensi September 2025 di Finlandia.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU