Selular.ID – Seperti halnya migas, properti dan otomotif, telekomunikasi khususnya selular adalah industri strategis. Ia berperan penting dalam membuka keterisolasian, meningkatkan kualitas pendidikan, pengembangan ekonomi, pembangunan sosial, pelestarian lingkungan, hingga pemenuhan kebutuhan gaya hidup modern.
Sejak masuknya teknologi GSM pada 1995, penetrasi pengguna selular semakin berkembang pesat. Bahkan jumlah pengguna kini telah melebihi populasi.
Sebagai key driver, peran operator selular telah mampu mengubah arah sekaligus mendorong kemajuan ekonomi bangsa. Â
Memasuki era 4G dan kini 5G, industri selular telah berubah menjadi enabler fundamental dalam era digital dengan menyediakan infrastruktur konektivitas yang luas dan stabil.
Massifnya pembangunan BTS oleh operator selular di seluruh wilayah Indonesia, memungkinkan tumbuhnya berbagai layanan digital seperti startup aplikasi mobile, e-commerce, fintech, ride-hailing, IoT, hingga media sosial.
Tumbuhnya beragam layanan tersebut, mendukung transformasi digital di berbagai sektor ekonomi seperti bisnis, pendidikan, dan pemerintahan, menjadikannya tulang punggung ekonomi Indonesia.Â
Baca Juga:
- Bincang Eksekutif: Itel Rajanya Smartphone Entry Level
- Konsistensi Realme Membidik Segmen Gen-Z dengan Smartphone Berkelas Namun Harga Kompetitif
Sayangnya, meski kebutuhan pasar sangat tinggi khususnya akses internet, yang menandakan peran penting operator bagi tumbuhnya ekonomi digital, industri selular di Indonesia saat ini dinilai tidak sehat karena beberapa faktor.
Seperti murahnya tarif data imbas ketatnya persaingan, regulatory charge atau biaya regulasi dari pemerintah yang sangat tinggi baik USO maupun BHP frekuensi yang membebani keuangan operator.
Begitu juga kehadiran penyedia OTT atau over the top yang membebani jaringan namun tidak memberikan sumbangan pendapatan.
Faktor lain adalah tantangan dalam investasi infrastruktur dan teknologi baru seperti 5G, yang membutuhkan investasi besar namun keuntungan yang didapat tidak memadai.Â
Bagaimana masa depan operator selular di tengah regulasi dan iklim usaha yang tidak mendukung?
Strategi apa yang wajb diusung operator selular agar tetap survive dan kembali sehat seperti dulu?
Haruskah operator menjalin kolaborasi lebih intenstif dengan para penyedia OTT agar bisa mengambil keuntungan dari tingginya trafik data?
Simak jawabannya dalam program terbaru Bincang Eksekutif.Â
Menghadirkan Marwan O Baasir, Direktur Eksekutif ATSI atau Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia. Dipandu Uday Rayana, Editor in Chief Selular.Â




