Selular.ID – Final Diplomat Success Challenge (DSC) Season 16 digelar di Jakarta pada 29 Januari 2026 dengan menegaskan peran wirausaha, khususnya UMKM, sebagai fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Acara puncak program kewirausahaan yang diinisiasi Wismilak Foundation ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, asosiasi usaha, hingga institusi pendidikan, untuk memperkuat ekosistem wirausaha Indonesia yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia, Maman Abdurrahman, menyoroti kontribusi UMKM yang mendominasi lebih dari 97 persen struktur usaha nasional serta perannya dalam penciptaan lapangan kerja dan ketahanan ekonomi.
Menurutnya, penguatan UMKM tidak dapat dilakukan secara sporadis, melainkan membutuhkan pendampingan yang konsisten dan ekosistem yang saling terhubung.
“Selama 16 tahun, Wismilak Foundation secara konsisten memberikan pendampingan bagi UMKM Indonesia. Ini bukan komitmen jangka pendek, melainkan upaya berkelanjutan untuk membangun pondasi ekonomi nasional yang inklusif dan tangguh,” ujar Maman Abdurrahman dalam rangkaian Final DSC Season 16.
DSC Season 16 kembali menegaskan posisinya sebagai program pengembangan wirausaha yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada kesiapan pelaku usaha menghadapi dinamika jangka panjang. Pendekatan tersebut tercermin dari model pembinaan yang menempatkan karakter, kepemimpinan, dan daya adaptasi sebagai bagian penting dari proses inkubasi.
Ketua Dewan Komisioner DSC, Surjanto Yasaputera, menjelaskan bahwa DSC tidak menilai kinerja usaha semata dari sisi finansial atau skala bisnis. Program ini menggunakan pendekatan 3P, yakni Paham, Piawai, dan Persona, sebagai kerangka untuk menilai kesiapan wirausaha dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.
“DSC mendorong wirausaha yang tidak hanya kuat secara model bisnis, tetapi juga matang secara karakter. Inilah mengapa kami menilai melalui pendekatan 3P sebagai pondasi wirausaha masa depan,” jelas Surjanto.
Salah satu pembaruan penting dalam DSC Season 16 adalah hadirnya Founder’s Arena, sebuah tahapan yang dirancang untuk menguji ketangguhan peserta sebagai pendiri usaha. Dalam fase ini, para challenger dihadapkan pada simulasi pengambilan keputusan, tekanan operasional, serta kemampuan membangun kolaborasi. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membentuk kepemimpinan wirausaha yang adaptif dan relevan dengan tantangan bisnis nyata.
Pada acara final, Jonathan Holiyanto, pendiri Lean Lab, terpilih sebagai Best of The Best DSC Season 16. Ia menerima hibah modal usaha sebesar Rp 320 juta disertai pendampingan intensif. Lean Lab dikenal melalui inovasi selai bubuk sehat rendah lemak dan tinggi protein yang dikembangkan sebagai alternatif praktis bagi konsumen dengan gaya hidup modern. Produk ini juga mengantarkan Lean Lab menjadi finalis Food Startup Indonesia (FSI), salah satu mitra strategis DSC Season 16.
Surjanto menilai Jonathan menunjukkan keseimbangan antara pemahaman bisnis, kemampuan eksekusi, serta karakter kepemimpinan yang kolaboratif. Ketiga aspek tersebut menjadi indikator utama wirausaha yang diharapkan mampu tumbuh berkelanjutan.
Secara keseluruhan, DSC Season 16 menyalurkan total hibah usaha senilai Rp 2,5 miliar kepada para pelaku usaha terpilih. Selain Lean Lab, penerima hibah berasal dari berbagai sektor. Dari bidang makanan dan minuman terdapat Bela Putra Perdana dengan Rumah Tempe Indonesia serta Ghea Anisa melalui Roti Kembang. Dari sektor teknologi, hibah diberikan kepada Sidhi Umbara dari Revelware Technology dan Kevin Ananta Marga dari Vityuu Sweet Block Spray. Sementara dari sektor kriya dan fesyen, penghargaan diterima oleh Dhea Febrina melalui brand Klab Serru!.
Dua penghargaan khusus juga diumumkan dalam final tahun ini. The Most Innovative Business diberikan kepada Ganari yang menghadirkan solusi penyerapan karbon berbasis mikroalga. Adapun The Most Creative Business dianugerahkan kepada Sigma Project, brand sepatu dengan misi sosial bagi anak-anak underprivileged di Papua.
Memasuki tahun ke-16, DSC memperluas kolaborasi pentahelix dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Wakil Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Lucia Karina, menilai langkah ini penting agar UMKM Indonesia mampu beradaptasi dengan tantangan global dan tidak lagi diposisikan hanya sebagai pemain lokal.
Menurut Lucia, integrasi UMKM ke dalam rantai pasok nasional hingga internasional membutuhkan dukungan ekosistem yang solid, termasuk akses jejaring, peningkatan kapasitas, serta tata kelola usaha yang lebih terstruktur.
Sejalan dengan itu, Program Initiator DSC, Edric Chandra, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 DSC memperluas kemitraan strategis dengan berbagai pihak, termasuk APINDO dan Food Startup Indonesia, untuk membuka akses jejaring yang lebih luas bagi wirausaha muda. DSC Season 16 juga menggandeng Mangkunegaran dan Batik Iwan Tirta guna menghadirkan pendekatan kewirausahaan yang berakar pada nilai budaya.
Di sektor akademik, Universitas Katolik Parahyangan dilibatkan dalam pendampingan penyusunan Sustainability Company Profile bagi Top 45 challengers. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkenalkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG sejak tahap awal pertumbuhan bisnis.
“Kolaborasi lintas sektor adalah kunci membangun ekosistem wirausaha yang berkelanjutan. Inilah wujud semangat Wujud Sinergi Kolaborasi, ketika nilai, pengetahuan, dan jejaring bertemu untuk melahirkan inovasi yang relevan untuk masa depan,” ujar Edric Chandra.
Melalui rangkaian DSC Season 16, Wismilak Foundation menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem kewirausahaan Indonesia secara konsisten. Pendekatan kolaboratif yang terus diperluas ini diarahkan untuk menciptakan wirausaha yang berdaya saing, adaptif terhadap perubahan, serta mampu berkontribusi nyata terhadap penguatan fondasi ekonomi nasional.
Baca Juga: Coding Camp 2025 DBS Foundation Cetak 60.000 Talenta Digital Baru



