Selular.id – Tahun 2025 menjadi tahun transisi yang menarik bagi pasar Chromebook dan tablet. Setelah melalui periode penurunan, kedua segmen perangkat ini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, didorong oleh inovasi perangkat keras, integrasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih dalam, dan strategi baru dari para raksasa teknologi seperti Google dan Samsung.
Meski pertumbuhannya belum eksplosif, fondasi untuk lompatan yang lebih signifikan di tahun-tahun mendatang mulai terbentuk.
Laporan dari berbagai analis pasar mengindikasikan bahwa penjualan Chromebook dan tablet mengalami pemulihan bertahap sepanjang 2025.
Pemulihan ini tidak lepas dari siklus pembaruan perangkat di sektor pendidikan dan korporat, serta semakin matangnya ekosistem aplikasi yang mendukung produktivitas.
Google, melalui platform ChromeOS, terus memperluas definisi “Chromebook Plus” dengan menetapkan standar spesifikasi minimum yang lebih tinggi, memastikan pengalaman pengguna yang lebih mulus dan tangguh untuk tugas multitasking.
Di sisi tablet, Android dan sistem operasi kustom dari berbagai vendor semakin mengerucutkan fokus pada pengalaman hibrida antara konsumsi konten dan kerja serius.
Samsung, misalnya, semakin mengintegrasikan Galaxy Tab dengan ekosistem Galaxy-nya, menawarkan fitur seperti Second Screen dan Samsung DeX yang mengubah tablet menjadi workstation portabel.
Inovasi ini mencoba menjawab kebutuhan pasar yang menginginkan satu perangkat untuk berbagai keperluan, meski tantangan optimasi software untuk layar besar tetap ada.

Faktor pendorong utama lainnya adalah integrasi AI. Baik Chromebook maupun tablet kelas menengah ke atas mulai mengadopsi chipset dengan Neural Processing Unit (NPU) yang lebih kuat.
Kemampuan ini tidak hanya untuk pengolah foto atau terjemahan real-time, tetapi juga untuk fitur produktivitas seperti merangkum dokumen, membantu menulis kode, atau mengoptimalkan manajemen baterai secara cerdas.
AI menjadi nilai tambah yang membedakan perangkat sekaligus mendorong kenaikan harga perangkat flagship, sebuah tren yang juga terlihat di segmen ponsel.
Namun, jalan menuju pertumbuhan yang solid tidak mulus. Pasar masih dihadapkan pada persaingan ketat dari laptop Windows berbasis ARM yang semakin efisien, serta dari iPad yang telah lama mendominasi segmen tablet premium.
Chromebook harus terus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar perangkat browser yang murah, tetapi alternatif komputasi yang sah.
Sementara itu, tablet Android perlu menciptakan lebih banyak aplikasi yang benar-benar dioptimalkan untuk produktivitas, bukan sekadar versi blown-up dari aplikasi ponsel.
Baca Juga:
Peran Gaming dan Konektivitas dalam Kebangkitan
Segmentasi pasar juga menjadi kunci. Untuk tablet, pasar gaming menjadi salah satu motor penggerak. Hadirnya tablet dengan refresh rate layar tinggi, sistem pendingin yang baik, dan chipset gaming khusus menarik perhatian gamer mobile yang menginginkan pengalaman lebih imersif dibandingkan ponsel.
Perangkat seperti ini menawarkan ruang bermain yang lebih luas dan kontrol yang lebih nyaman, meski untuk pengalaman gaming terbaik, pilihan perangkat keras yang tepat tetap menjadi faktor penentu.

Di sisi Chromebook, konektivitas dan dukungan aplikasi Android serta Linux membuka pintu bagi pengembang dan pengguna casual.
Kemampuan menjalankan aplikasi Android berarti akses ke jutaan aplikasi di Play Store, sementara dukungan Linux (melalui Crostini) membuka kemungkinan untuk pengembangan perangkat lunak, editing konten sederhana, dan lainnya.
Kombinasi ini membuat Chromebook menjadi perangkat yang fleksibel, cocok untuk pelajar, pengembang pemula, atau pekerja yang mengandalkan aplikasi web dan mobile.
Faktor eksternal seperti pemulihan kondisi ekonomi global dan stabilisasi rantai pasokan semikonduktor juga berperan dalam memulihkan kepercayaan produsen untuk meluncurkan model baru.
Setelah periode kelangkaan chip, tahun 2025 mencatat lebih banyak variasi model Chromebook dan tablet dengan waktu tunggu yang lebih normal. Hal ini turut mendukung upaya pemulihan jaringan dan distribusi oleh operator, sebagaimana terlihat dalam target pemulihan jaringan Indosat Ooredoo Hutchison yang berdampak pada kelancaran distribusi perangkat elektronik.
Melihat ke Masa Depan: Konvergensi dan Realitas Campuran
Ke depan, batas antara Chromebook, tablet, dan bahkan perangkat lain seperti smart glasses diperkirakan akan semakin kabur.
Konsep perangkat foldable dan rollable yang dapat berubah fungsi dari ponsel ke tablet kecil, atau dari tablet ke laptop, mulai mendapatkan traksi. Prototipe perangkat dengan bentuk faktor baru terus diuji, menantang definisi tradisional dari setiap kategori.

Selain itu, teknologi realitas campuran (XR) dan augmented reality (AR) mulai merambah ke dalam roadmap produk. Meski masih dalam tahap awal, integrasi pengalaman AR melalui kamera perangkat atau aksesori seperti kacamata pintar dapat menjadi diferensiasi berikutnya untuk Chromebook dan tablet, terutama dalam bidang edukasi, desain, dan kolaborasi remote.
Inilah yang disebut sebagai transisi menuju Agentic AI yang bertindak dalam konteks perangkat yang lebih interaktif.
Dengan kata lain, tahun 2025 mungkin bukan tahun di mana Chromebook dan tablet mendominasi headline dengan pertumbuhan spektakuler.
Namun, tahun ini adalah tahun di mana fondasi dibangun ulang. Inovasi di bidang AI, peningkatan kualitas perangkat keras, dan ekosistem perangkat lunak yang semakin terkoneksi menciptakan momentum untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Bagi konsumen, ini berarti akan ada lebih banyak pilihan perangkat yang powerful, versatile, dan mampu mendukung baik kerja maupun gaya hidup digital di tahun-tahun mendatang.




