Selular.id – Kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT kini tidak hanya bisa menjawab pertanyaan atau membuat konten teks.
Seorang fotografer profesional melakukan eksperimen unik dengan meminta ChatGPT mengkritisi karya fotonya layaknya seorang mentor.
Hasilnya, AI ini mampu memberikan analisis mendalam mulai dari aspek teknis hingga interpretasi gaya artistik, membuka potensi baru AI sebagai alat bantu pengembangan kreatif di dunia fotografi.
Eksperimen yang dilakukan Peter Fenech, seorang fotografer dan penulis, menunjukkan bahwa ChatGPT dapat memberikan umpan balik yang cukup bernuansa.
Ia menguji kemampuan AI tersebut dengan mengunggah beberapa foto dari portofolionya dan memintanya untuk memberikan kritik konstruktif.
Fenech mencari jawaban yang memenuhi tiga pilar: kejujuran, kedalaman analisis, dan pemahaman terhadap niat kreatif manusia.
Pada percobaan pertama, Fenech mengunggah sebuah foto jalanan sederhana tanpa banyak petunjuk.
ChatGPT langsung merespons dengan positif, memuji pencahayaan “golden-hour” yang menciptakan suasana hangat dan sinematik.
Yang menarik, AI tidak langsung membahas hal teknis seperti kecepatan rana atau ISO, tetapi lebih fokus pada estetika dan perasaan yang ditimbulkan gambar—reaksi yang sangat manusiawi.
Kritik halusnya adalah area paling terang di bagian atas agak menarik perhatian berlebihan, dan disarankan untuk sedikit meredamnya agar fokus tetap pada pejalan kaki.

Percobaan kedua lebih spesifik. Fenech meminta review mendetail tentang kualitas pencahayaan, komposisi, dan pertimbangan teknis seperti kecepatan rana serta aperture pada sebuah foto cityscape.
ChatGPT kembali memulai dengan pujian atas trail cahaya dari eksposur panjang yang berhasil menyampaikan dinamisme kota. Namun, kali ini kritiknya lebih langsung.
AI menyoroti bahwa saturasi warna, terutama merah dan ungu, terkesan agak dipaksakan dan mendekati kesan HDR yang berlebihan. AI juga menilai komposisi yang sangat terpusat dan seimbang terasa “aman” dan kurang berani.
“Ini menunjukkan bahwa dengan petunjuk yang lebih rinci, ChatGPT bisa memberikan umpan balik yang lebih tertarget dan praktis,” tulis Fenech mengenai percobaan ini.
Ia menambahkan bahwa AI mampu mengenali kesalahan umum pemula dan menawarkan saran perbaikan dengan kompeten, layaknya nasihat yang didapat dari workshop profesional.

Baca Juga:
Uji coba ketiga memasuki ranah yang lebih konseptual. Fenech menanyakan bagaimana sebuah foto abstrak pantai dapat ditempatkan dalam portofolio fotografi pantai yang lebih tradisional. ChatGPT menjawab bahwa gambar abstrak justru dapat memperkuat portofolio dengan memberikan kontras dan kedalaman.
AI menganalogikannya sebagai “puisi di antara prosa”, yang sebaiknya ditempatkan setelah gambar horizon yang minimalis untuk menciptakan dinamika cerita.
Respons ini menunjukkan kemampuan AI untuk memahami konteks kurasi dan narasi visual, meski petunjuk “abstrak” dari pengguna mungkin mempermudah analisisnya.
Puncak eksperimen terjadi pada uji coba keempat, di mana Fenech benar-benar menguji pemahaman ChatGPT terhadap gaya fotografinya.
Dengan menunjukkan serangkaian gambar, ia bertanya bagaimana AI akan mendeskripsikan gaya artistiknya dan apa yang membedakannya dari fotografer lain. Jawaban ChatGPT cukup mengejutkan.
“Anda memotret atmosfer lebih dari subjek, dan waktu lebih dari tempat,” tulis ChatGPT. AI tersebut menambahkan, “Anda bukan fotografer ‘momen penentu’. Anda lebih dekat dengan fotografer temporal, seseorang yang tertarik pada apa yang terjadi di antara momen-momen.”
Analisis ini diakui Fenech sangat insightful dan tepat mengenai kecenderungan kreatifnya yang selama ini sulit ia definisikan sendiri. ChatGPT juga menyimpulkan bahwa meski subjek fotonya bervariasi (kota, pantai, lanskap), niat emosionalnya konsisten, dan itu sudah membentuk suatu gaya.

Eksperimen ini mengungkap beberapa karakteristik ChatGPT sebagai “kritikus”. Pertama, AI cenderung bersikap positif dan berhati-hati dalam mengkritik, kemungkinan untuk menjaga pengguna tetap nyaman.
Oleh karena itu, meminta umpan balik yang spesifik dan keras diperlukan untuk mendapatkan kritik yang lebih jujur. Kedua, ChatGPT sangat kuat dalam analisis teknis, seperti menilai ketajaman, komposisi berdasarkan konvensi, dan kesesuaian pengaturan kamera, berkat pelatihannya pada miliaran gambar dan data.
Namun, yang lebih menarik adalah kemampuannya mengidentifikasi elemen gambar yang menarik bagi manusia dan memberikan interpretasi terhadap niat artistik. Ini membuka peluang penggunaan AI sebagai alat refleksi bagi fotografer, baik pemula maupun profesional, untuk lebih memahami kekuatan dan area pengembangan dalam karya mereka.
Teknologi serupa juga mulai diintegrasikan dalam perangkat lunak populer, seperti perangkat lunak edit foto di smartphone kelas menengah, meski dengan tingkat kecanggihan yang berbeda.
Meski demikian, Fenech menegaskan bahwa interaksi dengan AI belum bisa menggantikan workshop langsung dengan fotografer profesional atau membaca analisis mendalam dari sumber editorial terpercaya.
ChatGPT dan model AI sejenis berfungsi lebih sebagai “cermin” yang membantu fotografer menemukan dan mendefinisikan apa yang ingin mereka capai melalui fotografi. Perkembangan ini sejalan dengan tren dimana AI menjadi asisten kreatif di berbagai bidang, tidak terkecuali di dunia visual dan konten kreatif untuk gaming.
Eksperimen ini menunjukkan bahwa potensi AI dalam dunia kreatif tidak melulu tentang menggantikan peran manusia atau menciptakan gambar dari nol. Sebaliknya, dengan prompt yang tepat, AI dapat menjadi mitra dialog yang membantu manusia—dalam hal ini fotografer—untuk melihat karyanya dari perspektif baru, mendapatkan konfirmasi atas intuisi artistik, dan menerima saran perbaikan yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.
Perkembangan ini patut diikuti, terutama melihat integrasi AI yang semakin dalam di perangkat dan aplikasi kreatif sehari-hari.




