Senin, 19 Januari 2026
Selular.ID -

Bubble AI Lebih Parah Dibanding Bubble Dotcom Tahun 2000

BACA JUGA

Selular.id – World Economic Forum (WEF) dalam laporan terbarunya memberikan peringatan keras terkait risiko pecahnya gelembung kecerdasan buatan (AI) yang dampaknya diprediksi lebih parah dibandingkan dengan kasus gelembung dotcom 26 tahun lalu.

Gelembung dotcom 2000 merupakan periode spekulasi berlebihan di pasar saham teknologi, terutama perusahaan internet, yang memuncak pada Maret 2000.

Fenomena ini menyebabkan kenaikan nilai saham secara dramatis di indeks NASDAQ, dari sekitar 1.000 poin pada 1995 menjadi 5.132 poin pada puncaknya.

Dalam dokumen Global Risks Report 2026 yang dirilis pekan ini, WEF menyoroti kerentanan pasar finansial yang kini sangat bergantung pada segelintir perusahaan teknologi raksasa, khususnya yang terkait dengan pengembangan artificial intelligence atau akal imitasi (AI), komputasi kuantum, dan nuklir.

WEF mencatat bahwa belanja modal untuk infrastruktur AI menembus US$1,5 triliun pada 2025, yang mana terus meningkat seiring dengan gembar-gembor investor yang memburu saham-saham teknologi.

Kendati demikian, laporan tersebut menggarisbawahi risiko kesenjangan antara ekspektasi dan realita.

Baca juga:

Menurut WEF, keuntungan investasi dari belanja modal yang masif tersebut masih belum jelas terlihat Lembaga yang bermarkas di Devos, Swiss itu mengungkapkan risiko pecahnya gelembung ini semakin nyata apabila pendapatan perusahaan-perusahaan teknologi tersebut gagal memenuhi ekspektasi pasar yang sudah terlanjur tinggi.

Jika sentimen berbalik arah maka koreksi pasar yang tajam tidak terelakkan.

“Jika terjadi penurunan di pasar saham AS yang sebanding dengan meletusnya gelembung dotcom pada 2000, nilai kekayaan yang tergerus bisa jauh lebih besar mengingat masifnya tingkat eksposur saat ini,” tulis WEF dalam laporan tersebut, yang Selular kutip Senin (19/1/2026).

Kondisi ini diperparah oleh konsentrasi portofolio investor global seperti dana pensiun yang sangat berat di pasar saham Amerika Serikat.

Artinya, jika gelembung teknologi di Wall Street meletus maka dampaknya akan menjalar secara sistemik ke seluruh dunia, menekan nilai kekayaan rumah tangga dan permintaan konsumen secara global.

Selain gelembung aset, WEF juga menyoroti “tembok pembiayaan kembali” (refinancing wall) utang pemerintah dan swasta yang akan jatuh tempo pada periode 2025–2027.

Dengan total utang global yang mencapai US$251 triliun atau 235% dari PDB dunia, ruang gerak fiskal negara-negara maju maupun berkembang menjadi sangat terbatas untuk menahan guncangan jika pasar saham runtuh.

WEF pun memperingatkan bahwa tanpa adanya reformasi struktural dan kebijakan fiskal yang berhati-hati, ekonomi global berisiko terperosok ke dalam periode pertumbuhan rendah yang berkepanjangan.

“Pemerintah perlu menerapkan kehati-hatian fiskal dan memprioritaskan belanja yang lebih efisien, serta memberlakukan reformasi struktural untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan,” jelas laporan tersebut.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU