Jumat, 23 Januari 2026

Borje Ekholm Peringatkan Seruan Kedaulatan Digital Bisa Jadi Bumerang

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – CEO Ericsson, Borje Ekholm, memperingatkan bahwa dorongan Uni Eropa (UE) untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi AS dan mengejar kedaulatan adalah berbahaya dan bisa menjadi boomerang bagi benua tersebut.

Ekhom menyampaikan pandangannya tersebut, ditengah hubungan antara blok ekonomi beranggotakan 27 negara itu dengan AS yang semakin tegang.

Berbicara kepada Bloomberg di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Ekholm mengatakan dia prihatin dengan keseluruhan narasi di Eropa, menambahkan bahwa dia tidak percaya benua itu “memiliki kemampuan untuk menjadi berdaulat saat ini”.

Ericsson dan pesaingnya, Nokia, telah diuntungkan dari pembatasan yang diberlakukan pada Huawei dan ZTE karena masalah keamanan, sebuah dorongan yang awalnya dipimpin oleh AS dan menghasilkan larangan terhadap peralatan vendor China di beberapa pasar, terutama UE yang merupakan sekutu tradisional AS.

Namun, sejalan dengan ledakan AI, seruan agar Eropa juga menjadi independen dari teknologi AS semakin kuat, dengan operator utama di benua itu menyerukan reformasi peraturan untuk menjadikan kedaulatan digital sebagai prioritas strategis utama.

Bloomberg melaporkan bahwa upaya agar Uni Eropa beralih ke pemasok chip dan layanan AI buatan dalam negeri semakin menguat seiring dengan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif pada negara-negara di blok tersebut yang menentang upayanya agar Denmark menyerahkan kendali Greenland.

Baca Juga:

Namun, Ekholm tidak yakin, sembari memperingatkan bahwa membangun alternatif Eropa untuk teknologi buatan AS tidak hanya akan mengakibatkan harga yang lebih tinggi, tetapi juga memperdalam keretakan dengan pemerintahan Presiden Trump.

Ekholm menambahkan bahwa ia berharap “tidak ada reaksi berlebihan dari pihak Eropa. Kita perlu mencari cara untuk bekerja sama”.

Bos Ericsson tersebut mengatakan kepada Bloomberg pada 2024 bahwa perusahaan akan mempertimbangkan untuk memindahkan kantor pusatnya dari Stockholm, Swedia ke AS.

Komentarnya muncul setahun setelah vendor tersebut mendapatkan kontrak RAN ​​terbuka senilai $14 miliar dengan operator terbesar AS, AT&T.

Pada 2025, Ericsson mempertahankan posisi terdepan di AS, terutama di bidang Radio Access Network (RAN) untuk 5G.

Laporan pada awal 2025 menunjukkan potensi pangsa pasar lebih dari 42% karena kesepakatan kuat dengan AT&T, meskipun penurunan pada kuartal ketiga menyebabkan pendapatan di AS turun.

Secara global, Ericsson dan Huawei mendominasi RAN global dengan pangsa pasar hampir dua pertiga, sementara Samsung semakin kuat di Amerika Utara, meskipun angka pangsa pasar AS spesifik untuk tahun 2025 bervariasi menurut laporan dan jangka waktu.

Dengan market share yang terbilang dominan, fokus utama Ericsson pada pasar AS menjadi sangat penting di tengah pergeseran strategis yang pemicunya tak hanya kompetisi dan kemajuan teknologi, namun juga persoalan geopolitik.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU