Selular.ID – Teknologi baterai solid-state mulai menjadi sorotan industri teknologi global karena dinilai mampu menghadirkan kapasitas lebih besar.
Pengisian lebih cepat, dan tingkat keamanan lebih tinggi dibanding baterai lithium-ion konvensional, termasuk untuk perangkat smartphone.
Perkembangan ini tengah dipercepat oleh produsen baterai, vendor smartphone, hingga perusahaan otomotif yang sama-sama melihat potensi besar dari teknologi penyimpanan daya generasi baru tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, keterbatasan baterai lithium-ion menjadi salah satu tantangan utama industri smartphone.
Peningkatan performa chipset, layar beresolusi tinggi, dan konektivitas 5G mendorong konsumsi daya lebih besar, sementara ruang fisik perangkat semakin terbatas.
Di sinilah baterai solid-state mulai diposisikan sebagai solusi jangka panjang.
Sejumlah produsen besar seperti Samsung, Toyota, dan beberapa pemasok baterai asal China dan Jepang telah mengumumkan riset serta uji coba awal baterai solid-state.
Meski belum sepenuhnya siap untuk produksi massal di smartphone, arah pengembangannya semakin jelas dan terukur.
Apa Itu Baterai Solid-State?
Baterai solid-state adalah teknologi baterai yang menggunakan elektrolit padat sebagai pengganti elektrolit cair atau gel yang umum dipakai pada baterai lithium-ion saat ini.
Elektrolit berfungsi sebagai medium perpindahan ion antara anoda dan katoda saat proses pengisian dan pemakaian daya.
Pada baterai konvensional, elektrolit cair bersifat mudah terbakar dan membutuhkan lapisan pengaman tambahan.
Sementara itu, baterai solid-state menghilangkan cairan tersebut dan menggantinya dengan material padat berbasis keramik, polimer, atau campuran khusus lainnya.
Perubahan struktur ini menjadi fondasi utama berbagai keunggulan teknis yang ditawarkan.
Secara konsep, baterai solid-state bukan teknologi baru. Riset awalnya sudah berlangsung lebih dari satu dekade, namun tantangan produksi, stabilitas material, dan biaya membuat implementasinya tertunda hingga kini.
Perbedaan Utama dengan Baterai Lithium-Ion
Perbedaan paling mendasar antara baterai solid-state dan lithium-ion terletak pada struktur internalnya. Dampaknya terasa langsung pada performa, keamanan, dan efisiensi energi.
Beberapa perbedaan kunci meliputi:
• Keamanan lebih tinggi karena tidak menggunakan cairan mudah terbakar
• Kepadatan energi lebih besar, memungkinkan kapasitas lebih tinggi dalam ukuran sama
• Risiko degradasi lebih rendah, sehingga umur pakai lebih panjang
• Potensi desain lebih fleksibel, mendukung bodi perangkat lebih tipis
Baterai lithium-ion saat ini sudah sangat matang secara teknologi dan biaya produksi. Namun, batas fisiknya mulai terlihat, terutama dalam hal peningkatan kapasitas dan kecepatan pengisian yang aman.
Keunggulan Baterai Solid-State untuk Smartphone
Untuk industri smartphone, baterai solid-state menawarkan beberapa keuntungan strategis.
Salah satunya adalah peningkatan kepadatan energi, yang memungkinkan kapasitas baterai lebih besar tanpa menambah ukuran fisik perangkat.
Selain itu, baterai solid-state berpotensi mendukung pengisian daya lebih cepat dengan suhu operasional yang lebih stabil.
Pada baterai konvensional, pengisian cepat sering kali memicu panas berlebih yang berdampak pada kesehatan baterai jangka panjang.
Dari sisi keamanan, struktur elektrolit padat secara signifikan menurunkan risiko kebocoran, pembengkakan, hingga insiden terbakar.
Faktor ini menjadi krusial mengingat smartphone digunakan sepanjang hari dan sering berada dekat dengan tubuh pengguna.
Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah umur pakai lebih panjang. Dengan degradasi yang lebih lambat, baterai solid-state berpotensi mempertahankan kapasitas optimal lebih lama dibanding baterai lithium-ion.
Tantangan Produksi dan Biaya
Meski menjanjikan, baterai solid-state masih menghadapi tantangan besar sebelum bisa diadopsi secara luas pada smartphone.
Salah satu hambatan utama adalah biaya produksi yang saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding baterai konvensional.
Material elektrolit padat membutuhkan proses manufaktur presisi tinggi dan lingkungan produksi yang ketat.
Selain itu, skala produksi massal masih terbatas, sehingga efisiensi biaya belum tercapai.
Tantangan lain terletak pada stabilitas material. Beberapa jenis elektrolit padat masih rentan terhadap retakan mikro seiring siklus pengisian berulang, yang dapat memengaruhi performa dan keamanan jangka panjang.
Produsen juga perlu menyesuaikan desain internal smartphone, termasuk sistem manajemen daya dan kontrol suhu, agar kompatibel dengan karakteristik baterai solid-state.
Perkembangan Terbaru di Industri
Dalam beberapa tahun terakhir, progres baterai solid-state mulai menunjukkan arah yang lebih konkret.
Sejumlah perusahaan telah mengumumkan prototipe baterai solid-state dengan kepadatan energi yang melampaui baterai lithium-ion komersial saat ini.
Beberapa vendor smartphone dikabarkan telah melakukan uji internal untuk penggunaan terbatas, meski belum ada pengumuman resmi terkait peluncuran massal.
Fokus awal diperkirakan akan menyasar perangkat premium dengan harga tinggi, sebelum akhirnya turun ke segmen yang lebih luas.
Industri otomotif juga berperan besar dalam mendorong pengembangan baterai solid-state.
Investasi besar dari sektor kendaraan listrik membantu mempercepat riset, yang pada akhirnya dapat berdampak positif pada ekosistem perangkat konsumen seperti smartphone dan wearable.
Kapan Baterai Solid-State Hadir di Smartphone?
Untuk pasar smartphone, adopsi baterai solid-state diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa tahun.
Banyak analis industri memproyeksikan implementasi awal dalam skala terbatas mulai terlihat setelah 2027, tergantung kesiapan produksi dan penurunan biaya.
Pada tahap awal, teknologi ini kemungkinan hadir sebagai hybrid solid-state, yakni kombinasi elektrolit padat dan cair, sebelum sepenuhnya beralih ke struktur solid-state murni.
Pendekatan ini memungkinkan produsen menekan risiko sambil tetap meningkatkan performa baterai.
Di sisi lain, produsen smartphone terus mengoptimalkan teknologi baterai lithium-ion yang ada, termasuk dengan material silikon pada anoda dan sistem pengisian daya adaptif, sebagai solusi transisi.
Dampak bagi Pengguna dan Pasar Indonesia
Bagi pengguna di Indonesia, kehadiran baterai solid-state berpotensi membawa perubahan signifikan dalam pengalaman penggunaan smartphone.
Daya tahan lebih lama, pengisian cepat yang lebih aman, dan umur baterai yang panjang menjadi nilai tambah utama.
Namun, pada fase awal, perangkat dengan baterai solid-state kemungkinan akan dibanderol dengan harga lebih tinggi.
Hal ini sejalan dengan karakter teknologi baru yang umumnya debut di segmen premium sebelum menyebar ke kelas menengah.
Dalam jangka panjang, jika skala produksi tercapai dan biaya dapat ditekan, baterai solid-state berpotensi menjadi standar baru industri.
Perkembangan ini juga membuka ruang inovasi desain smartphone yang lebih tipis, ringan, dan efisien, tanpa mengorbankan daya tahan baterai.
Dengan arah riset yang semakin jelas dan dukungan investasi besar, baterai solid-state kini tidak lagi sekadar konsep laboratorium, melainkan kandidat kuat untuk mendefinisikan ulang masa depan perangkat mobile.
Dapatkan respons yang lebih pintar, unggah file dan gambar, dan lainnya.
Masuk Daftar gratis




