Selular.id – European Space Agency (ESA), lembaga antariksa yang menaungi misi ilmiah dan teknologi luar angkasa di Eropa, mengonfirmasi terjadinya peretasan pada sebagian sistemnya.
Dari data yang Selular himpun, pelaku mengklaim berhasil mencuri sekitar 200 gigabyte (GB) data yang kemudian diunggah ke forum hacker.
Menurut pernyataan resmi dari ESA, insiden ini terjadi pada beberapa server ilmiah eksternal yang digunakan untuk kolaborasi rekayasa dan penelitian bersama komunitas ilmiah internasional.
ESA menegaskan bahwa sistem inti dan jaringan korporat utama mereka tidak terdampak langsung dalam serangan ini.
Pelaku peretasan menggunakan alias “888” dalam unggahan di forum BreachForums, sebuah situs yang kerap digunakan untuk menjual data curian.
Dalam postingannya, ia mengaku telah memiliki akses ke server selama sekitar satu minggudan berhasil mengekspor lebih dari 200GB data.
Melansir Forbes, Selasa (6/1/2025) beberapa jenis data yang disebutkan termasuk source code dari repositori pribadi, konfigurasi CI/CD, token API, kredensial akses, hingga file infrastructure as code.
Baca juga:
- Wahana Antariksa NASA Cetak Rekor Dekati Matahari
- Misi NASA PhoneSat Kelar, Smartphone Kumpulkan Ratusan Foto Bumi dari Antariksa
Walau tangkapan layar atau screenshot yang dibagikan pelaku menunjukkan struktur dan isi berkas tertentu, ESA belum mengonfirmasi secara independen apakah semua klaim tersebut benar atau data tersebut memang hasil curian.
Pihak ESA mengatakan telah menginisiasi analisis forensik internal dan melakukan langkah pengamanan jangka pendek untuk menjaga sistem yang berpotensi terdampak.
Target Peretasan
Semua pemangku kepentingan terkait juga sudah diberi tahu. Namun, organisasi itu belum merilis rincian lebih lengkap tentang bagaimana pelanggaran itu terjadi atau apakah ada dampak lanjutan terhadap operasi dan kerja sama ilmiah mereka.
“ESA segera memulai analisis keamanan forensik internal, yang saat ini sedang berlangsung, dan telah menerapkan langkah-langkah perbaikan jangka pendek untuk mengamankan perangkat yang berpotensi terpengaruh,” ujar juru bicara ESA.
Menurut pakar keamanan siber, insiden ini menjadi pengingat bahwa organisasi teknologi tinggi sekalipun, termasuk badan antariksa, adalah target menarik bagi peretas, terutama ketika data kolaboratif dan kredensial penting terlibat.
Walau data yang diklaim dicuri tidak berasal dari sistem rahasia atau operasi misi vital, indikasi bahwa kredensial dan source code bisa bocor tetap menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi risiko keamanan di masa depan.
Dengan ekonomi ruang angkasa global yang diperkirakan terus tumbuh pesat, dari layanan satelit hingga infrastruktur teknologi tinggi, insiden ini menyoroti kebutuhan akan keamanan siber yang semakin kuat di industri antariksa.
Adapun, para pakar menyebut, dengan keterlibatan banyak pihak di berbagai negara dalam proyek antariksa, ruang digital kolaboratif bisa menjadi titik lemah jika tidak dilindungi secara menyeluruh.
Meski demikian, hingga saat ini ESA tetap meyakinkan publik bahwa sistem operasi utama dan misi strategis mereka tidak terancam secara langsung oleh peretasan ini.





