Selasa, 20 Januari 2026
Selular.ID -

Alasan Iran Hobi Padamkan Internet, Starlink Tak Berkutik

BACA JUGA

Selular.ID – Bukan kali pertama pemerintah Iran sengaja memutus akses internet di negaranya tiap kali ada konflik ataupun perang yang terjadi.

Yang menjadi sorotan adalah, ketika ada jaringan berbasis satelit seperti Starlink tersedia secara gratis, Iran kali ini justru menghalaunya agar tidak dapat diakses masyarakat.

Teknologi canggih yang dimiliki Iran nyatanya tak cuma roket yang mencegat rudal Israel saja, namun sampai ada penerapan teknologi yang dapat menghalau jaringan Starlink.

Bagaimana caranya?

Sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022, layanan satelit orbit rendah (LEO) seperti Starlink kerap dipandang sebagai penyelamat konektivitas ketika jaringan darat rusak atau sengaja disensor oleh negara.

Dalam banyak kasus, satelit memungkinkan pengguna tetap terhubung ke internet meski infrastruktur terestrial diblokir.

Namun, menggunakan internet satelit di tengah pemadaman negara bukan tanpa risiko.

Terminal pengguna Starlink berkomunikasi dengan satelit melalui sinyal radio yang dapat dideteksi oleh sistem pengawasan, misalnya dari pesawat atau drone.

Ini berpotensi mengungkap lokasi pengguna dan membuat mereka rentan diidentifikasi aparat.

Mengutip The Conversation, dalam kasus Iran saat ini, pemerintah setempat dilaporkan menggunakan perangkat jammer untuk melemahkan koneksi Starlink.

Artinya, meskipun satelit masih mengorbit dan aktif, sinyalnya sengaja diganggu agar tidak bisa digunakan secara stabil oleh pengguna di darat.

Di luar aspek teknis, hambatan terbesar Starlink di Iran justru bersifat logistik.

Agar layanan ini benar-benar bisa dimanfaatkan secara luas, dibutuhkan distribusi terminal pengguna dalam jumlah besar ke dalam negeri.

Baca juga:

Masalahnya, perangkat-perangkat tersebut hampir pasti akan dianggap sebagai barang ilegal oleh pemerintah Iran.

Kondisi ini membuat adopsi Starlink di Iran sulit dilakukan dalam skala besar.

Bahkan jika koneksi satelit tersedia, jumlah orang yang benar-benar bisa mengaksesnya tetap akan sangat terbatas.

Kenapa ‘hobi’ padamkan internet nasional?

Iran kini memasuki hari ke-10 dari salah satu pemadaman internet paling ekstrem dalam sejarah modern.

Sekitar 92 juta warga negara itu praktis terputus dari seluruh layanan internet.

Bukan cuma akses web yang lumpuh, layanan telepon dan pesan teks pun ikut terganggu.

Dari laporan BBC, tujuan pemerintah Iran memutus konektivitas nasional pada 8 Januari lalu diyakini untuk membungkam perlawanan publik serta mencegah sorotan internasional terhadap tindakan keras aparat terhadap para demonstran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membenarkan langkah tersebut. Ia menyebut pemadaman internet dilakukan sebagai respons atas apa yang ia klaim sebagai “operasi teroris” yang diarahkan dari luar negeri.

Hingga kini, pemerintah belum memberikan kepastian kapan layanan internet akan dipulihkan.

Namun, laporan-laporan terbaru justru mengindikasikan skenario yang lebih mengkhawatirkan: alih-alih sekadar pemadaman sementara, otoritas Iran disebut tengah menyiapkan pembatasan internet secara permanen.

Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, mengatakan bahwa akses internet internasional tidak akan tersedia setidaknya sampai Tahun Baru Iran pada akhir Maret.

Lebih jauh lagi, para pengamat kebebasan internet dari kelompok FilterWatch meyakini pemerintah Iran sedang terburu-buru membangun sistem dan aturan baru untuk memutus Iran dari internet global secara struktural.

“Tidak seharusnya ada ekspektasi bahwa akses internet internasional akan dibuka kembali seperti semula. Dan bahkan jika nanti dibuka, akses pengguna ke internet global tidak akan pernah kembali ke bentuk sebelumnya,” demikian pernyataan FilterWatch, mengutip sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya.

Sejak awal tahun 2026, situasi di Iran memang sedang kembali memanas akibat demonstrasi besar-besaran yang dilakukan para masyarakat anti pemerintah.

Kendati begitu, tim proyek Internet Outage Detection and Analysis menerima laporan gangguan konektivitas di Iran sejak 30 Desember 2025, awal mula pecahnya gelombang protes nasional di sana.

Situasi kemudian memburuk pada 8 Januari kemarin di mana rezim Iran secara efektif mematikan akses internet di penjuru negeri.

Dari hasil pengukuran tim tersebut, hanya sekitar 3 persen koneksi yang masih merespons uji coba akses aktif.

Respons terbatas itu diduga berasal dari akses yang “diizinkan secara khusus” – tampaknya untuk pejabat pemerintah Iran atau layanan negara tertentu yang masuk dalam whitelist.

Di luar konektivitas terbatas tersebut, kelompok-kelompok pembela hak digital melaporkan bahwa akses internet, baik ke luar negeri maupun di dalam negeri, nyaris lumpuh total.

Menurut organisasi hak digital Project Ainita, pemerintah Iran menerapkan pemadaman ini dengan cara mengacaukan transport layer security (TLS) dan sistem nama domain (DNS), dua komponen kunci dalam lalu lintas internet modern.

Tak hanya itu, layanan telepon rumah pun hanya bisa digunakan secara sporadis.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU