Selular.ID – Pelan namun pasti, penetrasi 5G di India berjalan dengan sangat baik. Meski jaringan 4G terbilang dominan, namun transisi teknologi tak banyak mengalami hambatan.
Tercatat jumlah pengguna 5G di India telah mencapai lebih dari 400 juta. Sebuah angka yang menurut seorang menteri terkemuka merupakan yang tertinggi kedua di dunia setelah China, sekaligus menempatkan India di antara negara-negara pengadopsi tercepat, mengingat layanan pertamanya baru diluncurkan pada akhir 2022.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Menteri Komunikasi dan Pembangunan Wilayah Timur Laut India, Jyotiraditya Scindia, menegaskan bahwa negara tersebut “menetapkan tolok ukur global baru dalam skala, kecepatan, dan transformasi digital” saat ia mengungkapkan pencapaian tersebut.
Jyotiraditya mengutip angka-angka yang menempatkan jumlah pelanggannya di atas pasar utama lainnya termasuk AS (350 juta), Uni Eropa (200 juta), dan Jepang (190 juta). China saat ini memimpin penetrasi 5G dengan lebih dari satu miliar koneksi.
Untuk diketahui, operator selular di India meluncurkan layanan 5G komersial di beberapa wilayah negara pada Oktober 2022, sebelum melakukan ekspansi.
Bharti Airtel dan Reliance Jio adalah yang pertama meluncurkan 5G dan mengklaim telah meraih 50 juta pengguna masing-masing dalam tahun pertama operasinya.
Baca Juga:
- ZTE Kembangkan Talenta Digital Indonesia lewat Program 5G Rising Star, Beasiswa, dan Kompetisi Inovasi 5G
- Cara Mendapatkan Sinyal 5G di Semua HP, Pastikan Perangkat dan Lokasi Mendukung
Sementara pesaing terdekatnya, Vodafone Idea, mulai meluncurkan layanan di kota-kota pertama mereka pada 2025.
Statistik dari otoritas India menunjukkan jumlah stasiun pemancar 5G di seluruh negeri mencapai 518.854 pada akhir 2025. Angka ini meningkat dari sekitar 464.990 pada awal tahun tersebut.
Tingginya penetrasi 5G menunjukkan dampak dari kehadiran 5G terlihat jelas. Pengguna melaporkan tingkat kepuasan yang jauh lebih tinggi terhadap 5G dibandingkan dengan 4G.
Dengan animo pengguna yang tinggi, operator ini berfokus pada menciptakan beragam kasus penggunaan di luar sekadar unduhan yang lebih cepat, mendorong adopsi yang luas, dan menjadikan India sebagai pasar 5G terkemuka.
Tak dapat dipungkiri, kehadiran 5G menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi India yang besar, mendukung tumbuhnya beragam inovasi di berbagai bidang, sekaligus menjembatani kesenjangan digital di negara itu.
Terdapat 6 faktor mengapa adopsi 5G terbilang cepat di India, yaitu:
- Perangkat Terjangkau
Ketersediaan ponsel pintar 5G yang kaya fitur dan ramah anggaran (sekitar $118+) secara signifikan menurunkan hambatan masuk bagi konsumen, mendorong adopsi yang cepat.
- Penyebaran Jaringan Mandiri Strategis (Standalone)
Operator, terutama Jio, membangun jaringan inti 5G baru dari awal (SA), menghindari ketergantungan pada sistem 4G yang lebih lama, yang memungkinkan peluncuran yang lebih cepat dan kinerja yang lebih baik.
- Permintaan Data Tinggi
India sudah memiliki konsumsi data yang tinggi pada 4G, menciptakan basis pengguna yang besar yang siap untuk meningkatkan ke 5G untuk pengalaman yang lebih baik.
- Kolaborasi Pemerintah dan Industri
Visi pemerintah untuk India digital, ditambah dengan upaya industri seperti India Mobile Congress (IMC), mendorong inovasi dan menunjukkan potensi 5G di sektor-sektor seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan manufaktur.
- Ketersediaan Spektrum Pita Tengah
Alokasi spektrum pita tengah (3,5 GHz) yang penting memberikan dasar bagi layanan 5G berkapasitas tinggi yang tersebar luas.
- Lebih dari Sekadar Unduhan Lebih Cepat
Meskipun kecepatan merupakan faktor penting, fokus pada data waktu nyata, latensi rendah untuk aplikasi IoT, AI, AR/VR, dan solusi kota pintar (smart city) menjadikan 5G sebagai teknologi transformatif bagi perekonomian.
5G di Indonesia Berjalan Seperti Keong
Berbeda dengan India, implementasi 5G berjalan lambat laksana keong. Sejak diluncurkan pada pertengahan 2021, penetrasi 5G masih berada di kisaran 4,44%.
Angka itu menunjukkan, penerapan teknologi jaringan 5G di Indonesia sudah jauh tertinggal, tak hanya India namun juga negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Untuk diketahui, pengguna 5G regional diperkirakan mencapai sekitar 620 juta pada 2028, menunjukkan ekspansi yang signifikan di luar pusat perkotaan.
Di Asia Tenggara, Singapura dan Malaysia memimpin dalam penetrasi 5G. Singapura telah mencapai cakupan 5G SA (Standalone) nasional dan tingkat adopsi yang tinggi, sementara Malaysia juga memiliki penggunaan 5G yang signifikan.
Negara-negara lain seperti Thailand dan Filipina juga menunjukkan kemajuan yang substansial. Di sisi lain, Indonesia masih tercecer, meski 5G sudah diluncurkan oleh tiga operator (Telkomsel, Indosat, XLSmart).
Lambatnya adopsi 5G tercermin dari layanan yang hanya ada di beberapa titik di dalam kota. Kota-kota tersebut yakni beberapa wilayah di Jabodetabek, Medan, Solo, Bandung, Surabaya, Makassar, Batam, Denpasar, dan Balikpapan.
Terdapat sejumlah penyebab utama mengapa penggelaran jaringan 5G di Indonesia tak kunjung meluas, yang bisa berdampak pada ekonomi digital Indonesia yang tidak kompetitif dibandingkan negara-negara lain.
Beragam persoalan itu diantaranya adalah, belum adanya spektrum yang dialokasikan khusus jaringan 5G – yang merupakan tugas pemerintah, kualitas infrastruktur yang rendah, capex (belanja modal) operator untuk menggelar sangat tinggi, dan tidaknya adanya insentif yang sebelumnya telah dijanjikan oleh pemerintah.
Ironisnya, meski telah diluncurkan sejak lima tahun lalu, 5G juga masih belum menjadi prioritas Kementerian Komunikasi Digital (Komidigi) saat ini.
Hal itu tercermin dari Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025 – 2029. Dalam Renstra yang dipublikasikan pada 13 Selasa (13/1), kementerian yang dipimpin politisi Golkar Meutia Hafidz itu, menargetkan cakupan 5G di Indonesia tak lebih dari 7% di akhir pemerintahan Presiden Prabowo.
Komdigi sejauh ini selalu mendorong tiga aspek dalam mendorong perluasan 5G, yaitu spektrum frekuensi radio, infrastruktur, dan regulasi.
Faktanya, aspek pertama saja, yaitu ketersediaan frekwensi belum dilaksanakan oleh pemerintah hingga kini.
Rencana lelang 700 Mhz dan 2,6 Ghz yang bakal dialokasikan untuk jaringan 5G telah terdengar lama. Namun eksekusinya, seperti mengutip istilah NATO (No Action Talk Only).
Baca Juga:Â Surge dan FiberHome Rilis Jaringan 5G FWA 1,4 GHz




