Selular.id – SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, resmi mengakuisisi lisensi spektrum tambahan senilai USD 2,6 miliar atau sekitar Rp 43,38 triliun dari EchoStar Corporation.
Transaksi strategis ini memperkuat ambisi SpaceX dalam mengembangkan layanan komunikasi satelit-ke-ponsel melalui jaringan Starlink, yang berpotensi mengubah lanskap telekomunikasi global.
Menurut laporan Bloomberg yang Selular kutip Senin (10/11/2025), kesepakatan ini mencakup lisensi AWS-3, pita frekuensi yang dapat mendukung komunikasi antara jaringan seluler dan satelit di seluruh wilayah Amerika Serikat.
Transaksi ini tidak dilakukan dengan pembayaran tunai, melainkan EchoStar akan menerima saham SpaceX sebagai imbalan.
Dalam pernyataan resminya, EchoStar menegaskan bahwa bisnis utamanya—termasuk layanan TV satelit dan broadband melalui jaringan Dish—tidak akan terdampak oleh penjualan ini.
Perusahaan mengungkapkan bahwa sebagai akibat dari beberapa transaksi tersebut, mereka mulai menonaktifkan sebagian jaringan 5G-nya yang tidak akan digunakan, yang menyebabkan biaya non-tunai satu kali.
Kolaborasi antara SpaceX dan EchoStar sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi.
Kedua perusahaan sebelumnya telah melakukan transaksi serupa senilai USD 17 miliar, menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam pengembangan infrastruktur komunikasi mutakhir.
Mendorong Layanan Direct-to-Cell
Bagi SpaceX, akuisisi spektrum ini menjadi langkah penting menuju realisasi layanan direct-to-cell, atau komunikasi langsung antara satelit Starlink dan ponsel pengguna tanpa bergantung pada menara seluler tradisional.
Teknologi ini diyakini akan menjadi terobosan besar dalam memperluas akses komunikasi, terutama di daerah terpencil yang sulit dijangkau sinyal operator konvensional.
SpaceX telah bekerja sama dengan sejumlah operator global untuk menguji kemampuan tersebut dan berencana meluncurkan layanan beta pada 2026.
Pengembangan ini sejalan dengan ekspansi konstelasi satelit Starlink yang terus bertambah, seperti yang pernah diungkap dalam laporan sebelumnya tentang 10.000 satelit Starlink yang kini mengelilingi Bumi.
Baca Juga:
Implikasi Global dan Potensi di Indonesia
Meski transaksi ini terjadi di Amerika Serikat, pengaruhnya berpotensi terasa secara global.
Teknologi satelit ke-ponsel yang dikembangkan SpaceX bisa menjadi standar baru komunikasi seluler di masa depan, terutama untuk negara kepulauan seperti Indonesia.
Jika model ini diadopsi, layanan seperti Starlink Direct-to-Cell dapat membantu membuka akses internet di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber atau seluler.
Pengembangan teknologi ini juga mendapat dukungan dari sisi perangkat, seperti yang terlihat dari rencana Android 14 yang akan mendukung komunikasi satelit.
Kolaborasi SpaceX dengan operator global semakin menguatkan posisi perusahaan dalam ekosistem telekomunikasi masa depan.
Beberapa uji coba yang dilakukan sebelumnya, seperti yang diklaim SpaceX menunjukkan performa unggul dalam pengujian, memberikan indikasi positif terhadap kelayakan teknologi ini.
Dengan akuisisi spektrum senilai triliunan rupiah ini, SpaceX semakin mempertegas komitmennya dalam menciptakan infrastruktur komunikasi yang lebih inklusif dan terjangkau, sekaligus memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam revolusi konektivitas global.



