Minggu, 30 November 2025
Selular.ID -

Sony LYTIA 901 Resmi Masuki Persaingan Sensor 200MP

BACA JUGA

[adrotate banner="10"]

Selular.id – Sony secara resmi meluncurkan sensor kamera ponsel LYTIA 901 beresolusi 200MP, menandai masuknya perusahaan teknologi asal Jepang ini ke dalam persaingan sensor beresolusi ultra-tinggi yang selama ini didominasi Samsung. Sensor berformat besar ini dirancang dengan fokus utama pada teknologi zoom in-sensor, AI remosaicing, dan peningkatan dynamic range yang signifikan.

Kehadiran LYTIA 901 ini menjadi penanda penting dalam evolusi teknologi kamera ponsel, di mana Sony yang dikenal sebagai pemain utama di pasar sensor image kini memperkuat posisinya di segmen high-megapixel. Peluncuran ini sekaligus memperkuat persaingan dengan Samsung yang telah lebih dulu menguasai pasar dengan seri sensor ISOCELL HP2, HP5, dan HP9.

Perbedaan pendekatan antara kedua raksasa teknologi ini terlihat jelas dari strategi pengembangan produk mereka. Sony memilih fokus pada performa single-sensor dengan kemampuan zoom yang diolah langsung di dalam sensor, sementara Samsung lebih mengedepankan fleksibilitas dalam konfigurasi multi-kamera dan desain ultra-kompak.

Perbandingan Spesifikasi Teknis

Dari segi ukuran fisik, Sony LYTIA 901 menawarkan format optik 1/1.12-inch dengan diagonal 14.287mm, menjadikannya sensor terbesar di kelas 200MP. Arsitektur pixel berukuran 0.7μm ini menggunakan filter arrangement Quad-Quad Bayer Coding (QQBC) yang meningkatkan performa penangkapan cahaya dan dynamic range. Pendekatan ini memungkinkan Sony memberikan performa flagship dengan mengandalkan satu sensor utama, mengurangi ketergantungan pada modul telephoto tambahan.

Sebagai perbandingan, Samsung telah merilis beberapa varian sensor 200MP dengan ukuran berbeda-beda. ISOCELL HP2 yang digunakan di Galaxy S25 Ultra memiliki format 1/1.3-inch dengan pixel 0.6μm. Sementara HP5 yang dipakai Vivo Y500 Pro berukuran 1/1.56 inch dengan pixel 0.5μm, dan HP9 yang dioptimalkan untuk kamera telephoto di Vivo X100 Ultra dan Xiaomi 15 Ultra menggunakan format 1/1.4-inch dengan pixel 0.56μm.

[adrotate banner="10"]

Teknologi Pixel Binning dan Zoom

Sony mengimplementasikan struktur QQBC pada LYTIA 901 yang mengelompokkan 16 pixel berwarna sama. Teknologi ini memungkinkan sensor menangkap gambar 12.5MP dalam kondisi cahaya rendah, kemudian beralih ke resolusi penuh melalui proses remosaicing saat melakukan zoom. Sensor juga mendukung binning 2×2 untuk output 50MP.

Yang membedakan adalah integrasi AI-driven remosaicing langsung ke dalam sensor, memungkinkan zoom in-sensor 4x berkualitas tinggi dan perekaman video yang mulus tanpa membebani prosesor image signal (ISP). Pendekatan ini berbeda dengan Samsung yang mengandalkan teknologi Tetra²pixel binning, di mana sensor menggabungkan pixel untuk beroperasi pada 50MP atau 12.5MP tergantung kondisi pencahayaan.

Sensor ISOCELL HP5 dan HP9 dari Samsung juga mendukung zoom in-sensor 2x atau 4x. Ketika dipasangkan dengan lensa telephoto 3x, sensor ini dapat mencapai hybrid zoom hingga 12x. Desain Samsung ini bekerja optimal dalam konfigurasi multi-kamera array dan mendukung berbagai konfigurasi zoom tergantung modul yang digunakan.

Persaingan di segmen sensor 200MP semakin panas dengan kehadiran pemain lain seperti OmniVision yang juga merilis sensor 200MP OVB0D sebagai pesaing langsung Sony LYTIA 901.

Kemampuan HDR dan Reproduksi Warna

Sony mengintegrasikan multiple layers HDR processing pada LYTIA 901, termasuk dukungan untuk DCG-HDR dan Fine12bit ADC untuk meningkatkan kedalaman tonal dan dynamic range bahkan pada zoom 4x. Hybrid Frame HDR (HF-HDR) milik Sony menggabungkan data short-exposure dan high-gain, memungkinkan performa lebih dari 100dB dalam mode additive yang berguna untuk menangkap scene dengan highlight intens dan shadow dalam.

Samsung menghadirkan stack HDR dengan Smart-ISO Pro, staggered HDR, dan dual-slope gain (DSG) terutama pada sensor HP2 dan HP9. HP9 bahkan mencapai color depth 14-bit yang mampu menghasilkan triliunan kombinasi warna. Namun, processing AI in-sensor Sony dinilai memungkinkan remosaicing yang lebih akurat dan real-time tone mapping, memberikan keunggulan dalam skenario seperti document scanning atau pattern recognition.

Performa Frame Rate dan Video

LYTIA 901 Sony mampu merekam pada 10fps dalam format RAW 200MP penuh, 30fps pada 50MP binned, dan 60fps pada 12.5MP. Untuk perekaman video, sensor ini mendukung 8K pada 30fps dan 4K pada 120fps, dengan AI-accelerated remosaicing yang memungkinkan zoom 4x selama perekaman video 4K. Kemampuan ini membuatnya ideal untuk skenario di mana satu sensor harus menangani tugas zoom, wide-angle, dan video tanpa berganti modul.

Samsung mampu menyaingi atau bahkan melampaui kemampuan ini di beberapa area. HP2 mendukung 15fps pada 200MP, sementara HP5 dan HP9 menawarkan hingga 480fps pada Full HD, 120fps pada 4K, dan 30fps pada 8K. Sensor Samsung juga mendukung hingga 90fps pada 12.5MP (HP5/HP9), memberikan keunggulan dalam perekaman video super-slow-motion.

Perkembangan teknologi sensor 200MP ini turut mendorong inovasi di perangkat konsumen, seperti yang terlihat pada Vivo X300 yang mengumumkan teknologi kamera terdepan dengan sensor 200MP kustom.

Posisi Pasar dan Aplikasi

Sony memposisikan LYTIA 901 untuk flagship premium yang bertujuan menyederhanakan hardware kamera. Fokus pada AI processing in-sensor, remosaicing, dan performa large-format cocok untuk perangkat seperti Oppo Find X9 Ultra dan Vivo X300 Ultra. Sensor ini mengurangi kebutuhan multiple rear camera sambil mempertahankan fitur zoom dan video yang kompetitif.

Lini 200MP Samsung mencakup rentang use case yang lebih luas. HP2 menargetkan kamera primary high-end seperti Galaxy S25 Ultra, HP5 dirancang untuk perangkat mid-high range yang seimbang, sementara HP9 menggerakkan modul periscope dan telephoto di flagship multi-kamera. Samsung menekankan fleksibilitas, memungkinkan OEM mengkustomisasi setup zoom berdasarkan ketebalan perangkat dan budget.

Industri smartphone terus mengembangkan teknologi sensor high-resolution, terbukti dengan munculnya rumor bahwa Xiaomi sedang menggarap ponsel dengan sensor 200MP beberapa tahun lalu yang kini mulai terwujud dalam produk nyata.

Persaingan antara Sony dan Samsung di pasar sensor 200MP diprediksi akan semakin intens dalam beberapa tahun ke depan. Kedua perusahaan terus berinovasi untuk memberikan solusi terbaik bagi manufacturer smartphone, dengan pendekatan yang berbeda namun sama-sama mengedepankan kualitas gambar terbaik untuk konsumen.

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU