Jakarta, Selular.ID – Dalam upaya menjadi orang tua yang bijak di era digital, terutama dengan maraknya penggunaan gadget di masyarakat, orang tua sebaiknya tidak memberikan gadget saat anak belum mencapai usia lima tahun.

Menurut Amanda Margia Wiranata, Psikolog Anak dan Keluarga, anak usia di bawah lima tahun, secara fisik mereka belum siap menerima paparan sinar dalam durasi yang lama.

Dampak negatif gadget bagi anak membatasi motorik halus (karena hanya jari/jempol yang aktif) dan membatasi sosialisasi.

“Gadget sifatnya untuk menenangkan sementara. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa dampaknya baru terlihat sekian tahun kemudian, misalnya sulit fokus di sekolah,” ujar Manda dalam Seminar Peran Orang Tua di Era Digital yang diadakan Standard Chartered Bank Indonesia di Jakarta (15/02/18).

Dikatakan dia, dampak main game di gadget bisa menyebabkan sulitnya anak meregulasi emosi.

Amanda mencotohkan, dalam bermain game, jika kalah, anak bisa dengan mudahnya mengulang kembali. Di kehidupan nyata, ada proses dan perjuangan yang harus dijalani bila mengalami kegagalan.

Baca juga: 60 Game Anak Disusupi Malware Pornografi Adult Swine

Bila kecanduan main game, dapat mengganggu proses sosialisasi. Mereka bisa saja langsung melakukan kekerasan dengan temannya bila ada sesuatu yang tidak berkenan.

Amanda pun memberikan tips bijak menjadi orang tua  di era digital sekarang ini, berikut tipsnya:

  • Anak usia di bawah 5 tahun belum perlu dikenalkan pada gadget.
  • Anak usia awal SD bisa dibatasi, yaitu selama satu jam ketika akhir pekan.
  • Anak kelas  4 hingga 6 SD bisa diberikan jam bermain gadget selama maksimal dua jam ketika akhir pekan.
  • Orang tua harus mulai  memfilter game, film, dan informasi apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Kontrol dilakukan sembari diberikan pengertian mengapa mereka belum waktunya atau belum usianya.
  • Bila anak dititipkan oleh nannies atau kakek dan nenek, sebaiknya aturan dari satu pintu, yaitu orang tua. Aturan tersebut lalu ditransfer ke perwakilan yang menjaga anak di rumah ketika orang tua bekerja. Jangan sampai ada perbedaan peraturan antara Ayah dan Ibu
  • Membangun kedekatan bersama anak. Tidak hanya soal checklist(bertanya sudah makan, mandi atau menyelesaikan pekerjaan rumah, namun orang tua sebaiknya juga menanyakan dan membangun obrolan seperti “Bagaimana tadi di sekolah?”, “Bagaimana perasaanmu hari ini?”, “Ceritakan ke Ibu dong, tadi siang kamu main apa?
  • Beri contoh positif. Contohkan bagaimana caranya bercerita tentang perasaan, tentang keseharian kita. Dengan demikian, maka anak pun dapat terbuka dengan kita.
  • Sebisa mungkin berteman di media sosial dengan anak, namun tidak berlebihan melakukan penelusuran (stalking).
  • Bangun rasa percaya terhadap anak. Bila menemukan kesalahan atau kelalaian mereka saat bermain media sosial, jangan langsung marah berlebihan.