Selular.ID I Informasi Gadget, Teknologi dan Telekomunikasi_

Jakarta, Selular.ID – Di penghujung 2016, saya mendapat kiriman foto yang tidak mengenakkan. Bagaimana tidak, foto itu adalah Surat Edaran dari pimpinan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang ditujukan kepada agen-agen, pimpinan toko buku dan mitra bisnis mereka. Secara garis besarnya, isinya mengabarkan “Penghentian Penerbitan” untuk delapan media cetak di lingkungan KKG. Yakni, Kawanku, Sinyal, Chip, Chip Foto Video, What Hifi, Auto Expert, Motor dan Car & Tuning Guide.

Dengan penghentian penerbitan tersebut, para agen, pimpinan toko buku dan mitra bisnis, diminta untuk dapat melunasi segala kewajiban yang belum dibayarkan hingga 31 Januari 2017.

Tumbangnya delapan media cetak itu, semakin memangkas jumlah media yang dimiliki KKG. Pasalnya, pada akhir 2014, CEO KKG (saat itu) Agung Adiprasetyo juga sudah merampingkan sejumlah media dibawah naungan kelompok media terbesar di Indonesia itu.

Tercatat nama-nama besar, seperti Jeep, Chic, Soccer, Forsel dan Fortune, tak lagi bisa dinikmati oleh pembaca. Padahal media-media itu sudah tak asing lagi, karena selain memiliki basis pembaca yang kuat, juga sudah hadir sejak lama.

Langkah likuidasi di lingkungan KKG mempertegas, bahwa tsunami digital semakin melaju jauh, dan terus memangsa media yang cetak yang tersisa. KKG yang sebelumnya disebut-sebut cukup kebal krisis, tak lagi kuat menahan laju penurunan pembaca dan pengiklan yang semakin massif dan menggerus pendapatan.

Agar tak mengganggu performa, CEO KKG Liliek Utami, memang tak punya pilihan selain meneruskan kebijakan Agung yang ia gantikan pada 2015. Putra dari pendiri Harian Kompas Yakoeb Utama itu, mau tak mau harus memangkas jumlah media demi menghemat struktur keuangan.

Tak dapat dipungkiri, era digital yang bermula sejak masuknya teknologi 3G pada 2006, menjadi titik balik bagi perkembangan media massa di Indonesia. Media online terus meroket pamornya. Namun nasib media cetak baik koran, tabloid atau majalah berada di persimpangan. Media cetak yang sebelumnya punya basis pembaca dan pendapatan yang bagus, semakin sesak nafas. Migrasi pembaca ke smartphone dan tablet menjadi biang keladi turunnya jumlah pembaca secara signifikan dan pada akhirnya mengurangi jumlah pengiklan.

Tatanan Baru

Suka tak suka, teknologi digital berdampak pada berubahnya peta media secara drastis. Jika di era konvensional, media cetak menguasai pasar pembaca, namun di jaman digital ini, barisan media online telah sukses mengobrak-abrik kemapanan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Padahal media-media online yang sekarang berada di posisi puncak, rata-rata umurnya belum terlalu lama. Hal ini menunjukkan telah terjadi fenomena yang disebut sebagai “Demokratisasi Media”.

Contoh menarik bisa dilihat dalam kasus Kompas dan Tempo. Hingga kini, Kompas dan Tempo tak mampu menandingi pamor Detikcom sebagai portal berita nomor satu di Indonesia. Mengacu pada Alexa Rank, versi online dari Kompas, bahkan kalah digdaya dibandingkan Tribunnews.com, Liputan6.com. Posisi Kompas.com ditempel ketat oleh Okezone.com, Merdeka.com, bahkan Suara.com, yang nota bene sebelumnya dianggap anak bawang.

Sementara Tempo yang begitu kuat di era kedigdayaan cetak, bahkan tak mampu menandingi media komunitas, yakni Kaskus, yang sukses menyodok di posisi 10 besar media di Indonesia.

Populasi smartphone yang terus melonjak dan tarif data yang semakin terjangkau, menjadi pendorong utama terjadinya perubahan perilaku membaca. Tak dapat dibantah bahwa pengguna internet mobile di Indonesia cenderung meninggalkan media konvensional sebagai sumber informasi dan hiburan.

Mengacu pada survey UC Browser (2015), internet kini menjadi pilihan utama untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Diketahui sebanyak 95,4% netizen di Indonesia mengakses berita dan hiburan dari smartphone, televisi (45,9%), koran/majalah (20,9%), PC (15,3% )dan radio (6,7%).

Temuan menarik lainnya adalah remaja menjadi pengakses internet terbanyak (14-24 thn), cinema (18-24 thn), dan media lain (koran, majalah, TV, radio > 35 thn).

Kalangan milenial dengan rentang usia bahkan saat ini lebih suka menonton video dibandingkan dengan membaca.  Remaja usia 16-24 lebih banyak menghabiskan waktu mengkonsumsi video online dibandingkan menonton TV. Secara total di Indonesia rata-rata orang menonton video online mencapai 8,1 jam/minggu, tablet 9,3 jam/minggu.

Mengacu pada fenomena tersebut, wajar jika media online kini telah menjelma menjadi medium utama pemberitaan. Kecepatan, konten yang lebih bervariasi, akses yang tak terbatas, serta adanya interaksi dengan media bersangkutan, membuat pamor media online terus meroket.

Riding The Digital Wave

Menyadari bahwa masa depan media terletak di ranah digital, Selular Media Group (SMG) bergerak cepat. Demi memperluas basis pembaca, pada awal 2015, SMG menghadirkan konten digital melalui situs portal Selular.ID. Melalui inovasi dan perombakan yang besar-besaran, Selular merubah logo, tampilan serta konten pada situs portal yang sebelumnya bernama www.selular.co.id menjadi www.selular.id (Selular.ID).

Dengan logo baru yang tegas dan lebih berkarakter, membuat konten-konten yang disajikan oleh Selular.ID lebih mudah untuk dibaca serta diingat oleh pembacanya. Begitu pun format situs yang didesain lebih modern, segar dan dinamis.

Selular.ID menawarkan platform yang bersifat responsif, sehingga tampilannya mampu menyesuaikan layar perangkat yang digunakan, baik dengan menggunakan komputer desktop, laptop, tablet, maupun smartphone. Dengan begitu Selular.ID dapat diakses dimana pun oleh seluruh pengguna dengan perangkat apa pun melalui dunia maya.

Tidak hanya secara tampilan, rubrikasi konten juga lebih kaya dan mengusung lebih banyak berita lokal. Berita yang diangkat di Selular.ID sangat lekat akan konten ter up-date di industri ICT (Information Communication Technology). Melalui portal situs Selular.ID pembaca pun bisa dengan mudah untuk membagi artikel yang disukai ke media sosial yang mereka miliki.

Khusus konten, jumlahnya yang ditingkatkan menjadi rata-rata 30 berita per hari. Berita yang ditayangkan juga lebih up to date, bersifat original, dan mengedepankan aspek proximity (kedekatan).

Artinya, berita yang layak tayang adalah berita hasil liputan langsung reporter di lapangan. Untuk berita-berita saduran, jumlahnya dibatasi. Dengan berita yang berasal dari dalam negeri sendiri, diharapkan dapat membangun kedekatan Selular dengan nara sumber, industri dan juga para pembaca umum.

Selain berita yang bersifat localized, Selular.ID juga mulai memproduksi video news. Konten masa depan ini, menjadi pembeda utama (differentiation) Selular dengan para pesaing. Menariknya, tak hanya melulu seputar produk, konten video yang diproduksi juga meluas ke berbagai isu ICT terkini, dengan standar penyajian layaknya industri broadcasting. Selain men-challenge kami untuk lebih kreatif, konten video juga memberikan kesempatan kepada industri untuk memperluas medium berita tak hanya teks dan photo.

Selain fokus pada konten digital melalui situs portalnya juga juga semakin terdepan untuk meghadirkan beragam konten video melalui Youtube Channel Selular TV. Dengan begitu konten yang disajikan di Selular.ID menjadi lebih menarik dan dinamis untuk dilihat.

Guna memperkuat philosophi rich content, Selular.ID juga memiliki salah satu konten video andalan, yakni Bincang Eksekutif yang menghadirkan para tokoh di dunia ICT. Hingga saat ini, program Bincang Eksekutif merupakan program talk show di industri ICT yang konsisten tayang di Selular.ID dan laman Youtube Channel.

Melalui inovasi yang kami lakukan, pada akhir Desember 2016, Selular.ID memperoleh kado istimewa. Tak tanggung-tanggung, setelah proses revamp selama dua tahun, berdasarkan Alexa Rank Selular.ID kini menempati posisi puncak dalam daftar situs berita telekomunikasi dan ICT ternama di Indonesia. Kini Selular.ID berapa pada posisi dibawah 600 pada Alexa Rank Indonesia.

Guna memperkuat posisi sekaligus memenangkan persaingan, kedepannya Selular.ID akan menambah lebih banyak konten-konten lokal terkini, baik menyangkut kompetisi dan dinamika pasar, pengembangan teknologi, regulasi dan perubahan perilaku masyarakat. Termasuk di dalamnya memperkuat konten video di SelularTV secara lebih lengkap, yang dibutuhkan oleh kalangan industri, pemerintahan, akademisi, lembaga non pemerintah, maupun pembaca umum.