​Saat Xiaomi Tak Lagi Bertaji (Catatan Akhir Tahun 2016)

XiaomiiJakarta, Selular.ID – Salah satu brand asal Tiongkok yang saat ini masih menjadi TOM (Top of Mind) adalah Xiaomi. Meski umumnya masuk lewat jalur ilegal alias BM (black market), karena tak memiliki prinsipal resmi, tak sulit mencari smartphone yang moncer gara-gara dipersepsikan punya beragam fitur setara iPhone namun dengan harga terjangkau itu. Bahkan seiring menjamurnya e-commerce, banyak distributor “nakal” seolah memiliki surga untuk memasarkan ponsel ilegal, terutama Xiaomi dan iPhone.

Dari penelusuran Selular ke berbagai pusat belanja ponsel di ibu kota, tingkat permintaan konsumen terhadap Xiaomi relatif masih baik, meski diakui para pedagang tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Alhasil, meski tergolong barang ilegal, toko tetap nekat menjual meski harus secara sembunyi-sembunyi. Petugas setiap saat bisa saja merazia. Jika ketahuan urusan bakal berabe, bisa amsiong alias apes. Begitu kata para pedagang.

“Sebenarnya agak takut menjual produk ilegal seperti Xiaomi, tapi karena masih cukup banyak yang mencari saya tetap menjual ponsel tersebut. Agar tidak terlihat terlalu vulgar, biasanya perangkatnya tidak saja pajang di etalase. Jika nanti ada yang membeli baru saya ambil ke distributor,” terang salah seorang pedagang yang buka lapak di Mal Ambassador.

Fakta bahwa pedagang tetap mendapat pasokan Xiaomi yang berasal dari jalur tak resmi, salah satunya terungkap saat Polda Metro Jaya mengamankan dua truk bermuatan handphone ilegal di pintu keluar tol Slipi Jaya Jalan S Parma, Jakarta Barat (7/6/2016).

Saat ditangkap, pengemudi dua truk tak bisa menunjukkan kelengkapan dokumen barang muatannya.  Perinciannya, truk pertama memuat 5.000 handphone, terdiri dari handphone Xiaomi Mi 4i 16 Gb seberat 1 ton, iPhone 5 seberat 1 ton, HP Xiaomi Redmi 2 Pro sekitar 1 ton dan 1 kardus iPhone 6S. Sedangkan truk satunya, berisi 5.000 smartphone yang terdiri dari iPhone 5s seberat 1 ton, handphone Xiaomi Mi3 sekitar 1 ton dan 1 Valet Sporster Titan FXS dengan perkiraan berat 1 ton.

Meski terbilang TOM, masa depan Xiaomi diprediksi sulit untuk bersaing di Indonesia. Pasalnya, selain menghadapi kompetisi yang terbilang keras, aturan TKDN juga semakin menjepit posisi Xiaomi yang sejak awal tidak pernah menyatakan komitmen terhadap aturan baru itu. Apalagi mulai Januari 2017, pemerintah menetapkan ketentuan TKDN sudah harus memenuhi 30%. Sejumlah vendor bahkan sudah hengkang dari pasar Indonesia, seperti yang dialami OnePlus.

Nasib Xiaomi yang tak pasti di pasar Indonesia, sejatinya mirip dengan kondisi yang terjadi di China. Setelah melesat cepat, Xiaomi terus menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Vendor yang dinahkodai oleh Hugo Barra ini anjlok penjualannya dan mulai dilibas lawan-lawannya di pasar China. Padahal mereka sempat memimpin di kandang.

Penelitian dari biro riset IDC menyatakan penjualan Xiaomi di kuartal II 2016 merosot 38% dibandingkan tahun sebelumnya. Xiaomi mengapalkan 10,5 juta unit smartphone di kuartal itu, turun dari tahun lalu yang sejumlah 17,1 juta.  Dengan hasil tersebut, Xiaomi sekarang ada di posisi empat vendor terbesar di China. Posisi pertama sampai ketiga berturut-turut dipegang oleh Huawei, Oppo dan Vivo. Ketiga vendor teratas itu sangat dominan dengan kombinasi market share 47%.