BerandaFokusMencermati ​Bisnis “Makelar” Jaringan Operator Selular

Mencermati ​Bisnis “Makelar” Jaringan Operator Selular

-

mvnoJakarta, Selular.ID – Di Indonesia bisnis Mobile Virtual Network Operator (MVNO) memang tidak popular dan belum banyak diterapkan. Operator yang memiliki lisensi lebih banyak melakukan bisnisnya dengan cara membangun infrastruktur jaringan dan memasarkannya sendiri melalui layanan-layanan yang ditawarkan kepada pelanggannya.

Pelaku MVNO ini sejatinya bukanlah operator selular murni seperti yang kita bayangkan yang memiliki infrastruktur jaringannya sendiri sepert Telkomsel, XL maupun Indosaat. Layaknya “makelar” mereka hanya menjadi perantara antara pelanggan dan operator yang memiliki jaringan. Model bisnisnya pun terlihat jelas antara penyedia jaringan (network provider) dengan mereka sang penyedia layanan seluler (service provider).

Dalam hal ini MVNO membeli paket layanan, baik voice, SMS maupun layanan data dengan sistem bulk atau beli banyak dari operator pemilik jaringan yang kemudian dijual kepada pelanggan dengan penawaran yang telah diberikan nilai tambah (value added) terlebih dahulu agar dapat menarik minat pelanggan. Dengan demikian operator virtual ini tidak perlu mengeluarkan biaya investasi  yang besar untuk membangun infrastruktur jaringannya.

Sedangkan bagi operator pemilik jaringan sendiri, model bisnis seperti ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai revenue stream tambahan terlebih jika kapasitas jaringan yang dimilikinya cukup banyak dan tidak terpakai (idle) serta pertimbangan biaya-biaya operasional yang bisa ditekan dengan menjualnya melalui MVNO.

Di Indonesia model bisnis seperti ini belum banyak diterapkan. Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata pernah menyampaikan bahwa sepanjang pengetahuannya belum ada model bisnis yang tepat untuk menjalankan bisnis MVNO. Bisa jadi belum populernya MVNO di Indonesia kaena ada kekhawatiran dari operator pemilik jaringan sendiri apakah model bisnis MVNO tidak akan mempengaruhi bisnis wholesale yang dilakukan dari trafik miliknya sendiri.

Namun demikian dengan beragamnya kebutuhan pelanggan, bukan hal yang tidak mungkin terjadi MVNO akan berkembang di Indonesia. Layanan-layanan spesifik yang tidak mampu terfasilitasi oleh operator bisa jadi menjadi celah bagi MVNO.

Jika dilihat dari praktek yang diterapkan oleh MVNO yang sukses menjalankan bisnisnya di negara lain, selain ditentukan oleh penawaran dan nilai tambah yang menarik kunci sukses MVNO juga bisa dipengaruhi kekuatan komunitas.

Sedangkan bicara segmen pasar, bisa menjadi sangat bervariasi tergantung bagaimana si MVNO melihatnya, bisa berbasis geografis atau kawasan, hingga kelompok umur ataupun kelompok pengguna layanan tertentu.

Sebut saja Virgin Atlantic Airlines, salah satu MVNO asal Inggris yang berhasil memanfaatkan pasar yang telah dimilikinya dengan menyediakan layanan telekomunikasi kepada para pelanggan Airline -nya. Tahun 2000, Virgin mengontribusi 13,7 persen pelanggan bagi T-Mobile, sebagai operator penyedia jaringan. Tahun 2001, meningkat menjadi 33,4 persen dan tahun 2002, meningkat lagi menjadi 51,2 persen dan pertengahan tahun 2003 lebih besar lagi.

Artikel Terbaru