Startup Teknologi Harus Adopsi Microservice, Apa Itu ?

Startup Teknologi Harus Adopsi Microservice, Apa Itu ?

SHARE

startup kudo

Jakarta, Selular.ID – Teknologi digital di dunia terus mengalami perkembangan di berbagai sektor. Hal ini tidak hanya terjadi di negara maju, namun juga di negara berkembang seperti Indonesia. Lembaga riset International Data Corporation (IDC) Indonesia mencatat adanya peningkatan sebesar 8,3 persen dalam pembelanjaan teknologi informasi di Indonesia, yaitu dari Rp 199 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 214,4 triliun pada tahun 2016.

Dengan peningkatan dalam teknologi informasi, tentunya juga berkaitan dengan perkembangan startup di Indonesia. Tren yang terus bergerak di dunia teknologi informasi (TI) menjadi pertimbangan dalam membangun perusahaan startup, yaitu bahasa pemrograman, database, infrastruktur, dan lain-lain. Perkembangan tren ini menuntut para pekerja TI untuk selalu mengikuti hal terbaru yang bisa diimplementasikan dalam startup yang dibangun.

Dalam mengantisipasi perubahan dan perkembangan tren ini, tidak jarang ditemui tantangan yang dapat berdampak langsung kepada kualitas layanan sebuah startup. Oleh karena itu dibutuhkan terbangunnya sebuah kultur dan infrastruktur yang dinamis dalam mengadopsi teknologi baru.

Di dalam membangun sebuah sistem TI dikenal istilah arsitektur monolitik, yaitu sistem ketika aspek fungsional dari sistem tidak dipisahkan dalam komponen-komponen yang lebih kecil. Pada umumnya, di fase awal sebuah startup akan menggunakan arsitektur ini. Hal ini dikarenakan jumlah tim yang masih sedikit dan dituntut untuk menghasilkan produk dengan cepat, dan sistem yang dibuat biasanya masih relatif sederhana.

Tantangan mulai timbul ketika startup mulai berkembang, yaitu dengan tim yang semakin banyak, sistem yang semakin kompleks, dan traffic ke website atau aplikasi yang semakin meningkat. Pada fase inilah biasanya startup mulai memikirkan masalah skalabilitas. Untuk meningkatkan skalabilitas dalam arsitektur monolitik, diperlukan penambahan kapasitas sistem dengan menambah kapasitas server yang terkadang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Selain biaya, sistem monolitik juga memiliki kelemahan dalam proses kolaborasi antar tim. Salah satu contohnya adalah pada saat ada rencana rilis terbaru yang telah disepakati dengan fitur tambahan yang akan dibuat, namun ada salah satu fitur yang mengalami kendala di waktu rilis yang ditentukan. Hal seperti ini dapat menunda rilis secara keseluruhan.

Startup teknologi KUDO dengan pelopor business model O2O (online to offline), selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik pada kemajuan teknologi di Indonesia. Hal ini direalisasikan dengan melakukan proses migrasi dari arsitektur monolitik ke microservice.

Arsitektur microservice memiliki keunggulan utama yang berdampak positif bagi perkembangan dalam sistem teknologi, yaitu language agnostic.

Trio Purnomo, Technology Evangelist KUDO menyampaikan bahwa migrasi ke arsitektur microservice memberikan kemudahan untuk membangun sebuah sistem tanpa bergantung kepada satu bahasa pemrograman yang memiliki dampak positif dalam mengadopsi teknologi baru tanpa mengubah keseluruhan sistem.

Dengan migrasi ini juga turut mempermudah tim Human Capital KUDO dalam mencari talenta-talenta programmer baru. Jika sebelumnya pada arsitektur monolitik suatu sistem dibuat menggunakan satu bahasa pemrograman, dengan microservice dapat di pecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan bagian-bagian kecil ini bisa dibangun dengan beragam bahasa pemrograman. Oleh karena itu, talenta programmer dengan berbagai macam latar belakang bahasa pemrograman dapat bekerja sama membangun KUDO menjadi lebih baik.

Melihat manfaat yang dapat diberikan oleh arsitektur microservice ini, membuat KUDO semakin optimis dalam mengembangkan teknologi dan bisnisnya untuk mencapai misinya untuk memberdayakan 1.000.000 pengusaha digital pada 2018, serta memberi peluang jutaan orang Indonesia untuk berbelanja online.

URL: http://selular.id/O6ikJe