Indonesia Negara Tertinggi Kelima Disusupi Trojan Perbankan

Indonesia Negara Tertinggi Kelima Disusupi Trojan Perbankan

SHARE

IMG_20170719_174422
Jakarta, Selular.ID – Selain ransomware, ancaman cyber yang menargetkan sektor finansial juga kian marak. Malah, ancaman finansial itu tercatat terjadi jauh lebih sering. Hal itu diungkap David Rajoo, Director, Systems Engineering, Malaysia & Indonesia, Symantec.

“Dengan lebih dari 1,2 juta deteksi tahunan, menjadikan ranah ancaman finansial adalah 2,5 kali lebih besar dari ransomware,” tutur David pada acara media briefing Symantec di Jakarta (19/7/2017).

Padahal angka itu sudah mengalami penurunan sebanyak 36% dari tahun sebelumnya (2015) dalam angka deteksi global untuk malware finansial di tahun 2016. Penurunan itu disebabkan oleh pemblokiran sebelumnya pada mata rantai penyerangan, serta peralihan ke serangan-serangan yang lebih terfokus.

Meski begitu, lanjut David, ancaman finansial tetap menguntungkan para penjahat cyber, sehingga akan tetap populer. Mulai dari trojan finansial yang menyerang perbankan online, serangan ATM, mesin kasir/point of sale (POS), sampai transaksi menipu antarbank.

“Indonesia berada di urutan kelima tertinggi sebagai negara dengan jumlah komputer yang disusupi trojan perbankan, setelah India dan Amerika Serikat,” papar David.

Selain itu, Indonesia juga termasuk 10 besar negara dengan peningkatan deteksi trijan finansial, bersama Jepang, China, India, Filipina, dan Vietnam. Laporan Symantec itu menandakan bahwa para penyerang memperluas ancamannya ke pasar-pasar baru.

“Tahun lalu (2016) ada sebanyak 38% deteksi ancaman keuangan dilancarkan ke perusahaan, dan sebanyak 62% kepada konsumen. Meski serangan itu sulit dilakukan dan membutuhkan persiapan lama, keuntungan yang didapat jauh lebih besar,” terang David.

Untuk itu, perlindungan cyber dibutuhkan perusahaan maupun perseorangan. Mengadopsi pendekatan keamanan berlapis akan mengurangi yerjadinya infeksi. Setidaknya ada tiga tahap yang dimiliki Symantec untuk melindungi jaringan dari malware, yaitu:

1. Mencegah: memblokir serangan atau infeksi, dan mencegah terjadinya kerusakan
2. Menahan: membatasi penyebaran serangan jika infeksi berhasil terjadi
3. Merespon: memiliki proses respon insiden, belajar dari serangan, dan meperbaiki pertahanan.

“Mencegah infeksi sejauh ini merupakan perlindungan terbaik, jadi kita perlu memerhatikan bagaimana infeksi dapat dicegah. Email dan situs yang telah terinfeksi adalah vektor infeksi yang paling umum untuk malware. Mengadopsi sistem pertahanan yang kuat terhadap kedua vektor infeksi tersebut akan membantu mengurangi risiko infeksi,” pungkas David.

URL: http://selular.id/QtUyXc