Alex Rusli : Saat Ini Menjaga EBITDA Jauh Lebih Penting

Alex Rusli : Saat Ini Menjaga EBITDA Jauh Lebih Penting

Alex RusliJakarta, Selular.ID – Keputusan Indosat Ooredoo menghentikan layanan e-Commerce Cipika pada akhir Mei lalu cukup mengejutkan industri ICT. Pasalnya, pada awal 2017, Indosat Ooredoo masih optimis dalam mengembangkan bisnis penjualan secara daring.

Bahkan, menurut recana pada akhir Kuartal I 2017 mereka akan memperkenalkan wajah baru Cipika. Tak lagi jualan oleh-oleh, tetapi sudah fokus ke gadget dan elektronik dengan model bisnis yang berubah sama sekali.  Yakni, dari sebelumnya business to consumer (B2C), ke business to business to consumer (B2B2C).

Dirut Indosat Ooredoo Alexander Rusli mengatakan bisnis e-commerce butuh waktu lama untuk bisa survive. Ia lebih memilih tak melanjutkan rencana revitalisasi Cipika karena beban operasional yang terlalu berat dan tak memberikan keuntungan bagi anak usaha Ooredoo itu.

Alex menambahkan, bahwa pihaknya juga akan mengurangi kegiatan, layanan pembayaran digital Dompetku. Layanan e-wallet itu sudah melebur ke PayPro belum lama ini.

“Nantinya satu-satunya bisnis digital yang Indosat masih akan ditekuni adalah IMX, yaitu solusi portal iklan,” jelas Alex.

Alex mengakui, tak mudah menjalankan bisnis digital. Karena model bisnisnya masih bakar uang begini berat, belum ada (model bisnis) yang baru.

Menurutnya, aksi “Bakar Uang” sangat tidak menguntungkan. Karena langsung merusak Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) dari Indosat Ooredoo secara perusahaan.

“Indosat Ooredoo sebagai telco company divaluasi berdasarkan EBITDA multiple. Menjaga EBITDA saat ini jauh lebih penting,” katanya.

Memang, setelah lama diganggu persoalan utang dan operasional, performa Indosat Ooredoo belakangan mulai membaik. Anak perusahaan Qatar Telecom itu membukukan kinerja positif pada 2016.

Perseroan meraih laba bersih Rp 1,1 triliun pada 2016 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 1,3 triliun. Laba bersih itu merupakan hasil dari pencapaian pendapatan yang naik 9 persen menjadi Rp 29,18 triliun pada 2016 dari periode 2015 sebesar Rp 26,76 triliun.
EBITDA tumbuh 12,1% menjadi Rp12,9 triliun ketimbang posisi 2015 sebesar Rp11,5 triliun, dengan marjin EBITDA sebesar 44,1%. Beban biaya mengalami peningkatan sebesar 3,4% menjadi Rp25,2 triliun daripada 2015 sebesar Rp24,4 triliun.

Seperti kita ketahui, EBITDA merupakan salah satu faktor penting bagi pasar dalam melihat kinerja dan prospek suatu perusahaan, selain laba bersih.

Indikator EBITDA menggambarkan aliran kas operasional tanpa memperhitungkan beban non-operasional, sehingga bisa lebih memperlihatkan kinerja operasional perusahaan yang sesungguhnya.

Biaya bunga dan pajak merupakan beban non-operasional, sementara depresiasi dan amortisasi termasuk beban non-kas yang tidak mengeluarkan dana tunai.

URL: http://selular.id/7KEDTw