​Tidak Ada Ampun Bagi Mitra Grab yang Lakukan Pelanggaran Ini!

​Tidak Ada Ampun Bagi Mitra Grab yang Lakukan Pelanggaran Ini!

9033

Jakarta, Selular.ID – Kabar jika mitra GrabBike akan kembali melakukan aksi demo terbukti. Hari ini (5/1/2017) kurang lebih 700 mitra GrabBike, melakukan aksi demontransi di kantor pusat Grab, yang terletak di bilangan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.
Menurut Jobing, salah satu mitra GrabBike, poin utama dalam demo kali ini, yakni untuk mempertanyakan masalah tarif. “Kami ingin pihak manajemen menaikan argo yang tadi Rp.1500, menjadi Rp.2500,” tuturnya.

Di luar masalah tarif, Jobing menambahkan, para pendemo juga menuntut agar pihak Grab, kembali mencabut banned/pencekalan terhadap beberapa driver.

“Saat ini ada sekitar 190-an rekan kami yang di banned. Kami minta agar pencekalan itu dicabut,” ucapnya.

Terkait tuntutan para pendemo, Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia, menerangkan, pihaknya akan mengkaji ulang soal tuntuntutan tarif.

“Soal tuntutan argo yang diminta naik dari Rp.1500 menjadi Rp.2500, Grab berjanji akan segera melakukan pengkajian ulang,” jelas Rizki.

Jika masalah tarif Grab berjanji akan melakukan pengkajian kembali, sikap berbeda di ambil perusahaan asal Malaysia itu menyikapi tuntutan pencabutan banned.

Menurut Rizki, pihaknya sulit untuk memenuhi tuntutan pencabutan banned, pasalnya kesalahan driver yang mendapat cekal terbilang sangat merugikan.

Ridzki melanjutkan, pihaknya terpaksa memutuskan kerja sama dengan sekitar 197 mitra, karena mereka melakukan pelanggaran yang terbilang berat.

Baca Juga:  Grab Tunjuk Mantan Kapolri Jadi Komisaris Utama

“Adapun pelanggaran berat tersebut seperti fake order, fake GPS, hingga melakukan tindakan provokasi. Jika aturan tadi dilanggar, kami tidak bisa lagi melanjutan kemitraan,” tuturnya.

Tak lupa Ridzki menjelaskan, fake order yakni, di mana mitranya menggunakan aplikasi tersebut untuk berpura-pura mendapatkan pesanan, padahal tidak. Sementara, kalau fake GPS, berupa aplikasi yang menunjukan driver secara virtual ada di satu tempat, meski ia tak ada disana.

“Karena kecanggihan teknologi yang kami punya, makanya kami bisa melacak drive yang menggunakan aplikasi fake booking dan fake GPS,” imbuhnya.

Sedangkan untuk provokasi, menurut Ridzki, adalah kejadian dimana ada driver yang memaksa, pihak lain menuruti kehendaknya. Bisa juga driver tersebut mengintimidasi penumpang, karena hal tertentu.

“Jika ada driver yang melakukan hal tersebut (provokasi), dengan berat hati kami harus mengnonaktifkan keanggotaannya untuk selamanya,” tegasnya.

Masih menurut Ridzki, jika merujuk besarnya efek yang dirasakan, jika ada mitra yang melakukan pelanggaran berat, pihak terpaksa terpaksa tidak bisa memenuhi tuntutan pencabutan banned.

“Besarnya efek negatif yang diberikan, menjadi keniscayaan Grab untuk menolak tuntutan pencabutan banned,” tegas Ridzki mengakhiri obrolan.

URL: http://selular.id/btfkqx