SelularJakarta, Selular.ID – Akhir 2014, publik cukup terhenyak dengan keputusan CEO Kompas Gramedia Group (KKG) Agung Adiprasetyo yang merampingkan jumlah media dibawah naungan kelompok media terbesar di Indonesia itu. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 10 media. Tercatat nama-nama besar, seperti Jeep, Chic, Soccer, Forsel dan Fortune, tak lagi bisa dinikmati oleh pembaca. Padahal media-media itu sudah tak asing lagi, karena selain memiliki basis pembaca yang kuat, juga sudah hadir sejak lama. Terkecuali Fortune yang baru berusia empat tahun, namun memiliki kelas tersendiri.

Tumbangnya 10 media di lingkungan KKG membuka kotak Pandora, bahwa tsunami digital tak lagi pandang bulu. KKG yang sebelumnya disebut-sebut cukup kebal krisis, tak lagi kuat menahan laju penurunan pembaca dan pengiklan yang semakin massif dan menggerus pendapatan. Agar tak mengganggu performa KKG, Agung memang tak punya pilihan selain memangkas media yang berkinerja di bawah standar dan umumnya berlisensi demi menghemat struktur keuangan.

Tak dapat dipungkiri, era digital yang bermula sejak masuknya teknologi 3G pada 2006, menjadi titik balik bagi perkembangan media massa di Indonesia. Media online terus meroket pamornya. Namun nasib media cetak baik koran, tabloid atau majalah berada di persimpangan. Media cetak yang sebelumnya punya basis pembaca dan pendapatan yang bagus, semakin sesak nafas. Migrasi pembaca ke smartphone dan tablet menjadi biang keladi turunnya jumlah pembaca secara signifikan dan pada akhirnya mengurangi jumlah pengiklan.

Beberapa media cetak saat ini mungkin masih mampu bertahan. Namun kondisi yang dialami sudah bisa ditebak. Beban biaya termasuk gaji karyawan terus meningkat namun pendapatan dari iklan dan sirkulasi menukik. Untuk bisa survive, pengelola terpaksa harus putar otak. Layaknya pemilik warung tegal yang dihantam harga bahan baku makanan yang tinggi, pengelola media juga terpaksa berakbrobat-ria. Misalnya mengecilkan bentuk dan ukuran, hingga mengurang frekwensi terbit dari bulanan menjadi dua bulanan.

Langkah itu melengkapi jurus sebelumnya, yakni memangkas jumlah halaman dan eksemplar. Jika jurus-jurus itu belum juga berhasil mengurangi tekanan biaya, pilihannya terpaksa pindah kantor ke tempat yang lebih murah, bahkan mengurangi jumlah karyawan agar sesuai dengan skala bisnis yang tak lagi besar, seperti yang dilakukan KKG di atas.

How long can u go? Ini adalah pertanyaan yang dilematis dan terkesan tak punya masa depan. Tampilan, jumlah halaman dan waktu terbit memang bisa di utak-atik, namun mengurangi overhead cost lainnya tak semudah dijalankan. Apalagi jika biaya gaji karyawan yang ada sudah lebih besar dari pada pendapatan yang diraih tiap bulannya. Pilihan yang ditempuh tentu tidak menyenangkan. Namun sesulit apa pun, kebijakan harus tetap diambil, demi menyehatkan kembali perusahaan.

Itu sebabnya, saya tetap angkat topi terhadap langkah yang telah dilakukan Agung Adiprasetyo. Keputusan menutup banyak media di lingkungan KKG, pastilah sudah melewati proses evaluasi panjang demi mempertahankan performa KKG. Meski grup ini pada akhirnya harus kehilangan hingga 750 pekerja, sekaligus membayar jumlah pesangon yang tak sedikit.

Time to Market

Secara apple to apple, keberadaan Selular Media Group (SMG) dengan KKG seperti langit dan bumi. Namun, persoalan yang menghadang tetaplah sama. Saat saya kembali bergabung dengan SMG pada November 2014, grup media ini tengah berada dipersimpangan. Dari sisi produk, format yang pernah saya rintis pertama kali pada tahun 2000 sebagai media life style nyaris tak pernah berubah. Yakni, konsep cover dengan model cantik yang tengah memeragakan ponsel dan kemudian ditiru oleh banyak pesaing.

Jumlah karyawan juga terbilang besar memicu cost operation yang tinggi. Melonjaknya biaya ini tak dibarengi dengan pendapatan iklan tak lagi mewah, begitu juga dengan penjualan majalah yang terus menukik karena orang lebih senang membaca berita-berita tentang ponsel di smartphone, tablet atau desktop.

Seperti bisnis lainnya, inovasi di industri media merupakan kata kunci jika ingin tetap survive. Apalagi, era digital telah memakan korban banyak media cetak. Termasuk para pesaing Selular yang dulu pernah berjaya. Sekedar info, kurun 2012 – 2014 menjadi kuburan bagi empat majalah di bidang telko. Hingga akhirnya di penghujung 2014, Selular menjadi satu-satunya majalah di bidang telekomunikasi yang tetap mampu bertahan hingga kini.

Alhasil, transformasi di berbagai lini, terutama produk pun menjadi mutlak. Time to market harus dilakukan secara cepat agar tidak kehilangan momentum di pasar. Berikut inovasi yang SMG lakukan sejak Desember 2014.

Majalah Selular

Majalah Selular 179 Februari 2015
Majalah Selular 179 Februari 2015

Meski pembaca banyak beralih ke online, majalah Selular tetap diminati pembaca dan menjadi backbone bagi SMG. Namun revitalisasi tetap diperlukan demi menyesuaikan kebutuhan pembaca. Perubahan paling mendasar mencakup STP (segmentation, targeting dan positioning). Majalah ini tak selalu mengarah ke end user, tapi ke industri. Positioning-nya mirip dengan Majalah Info Bank yang hingga saat ini tetap bertahan dan menjadi rujukan bagi pelaku industri perbankan dan jasa keuangan. Dengan menjadi media komunitas/industri, isu yang diangkat pun menjadi lebih luas, tak melulu tentang produk sebagai jualan utama. Perubahan di sisi majalah memperkuat Selular versi print sebagai barometer industri ICT khususnya telekomunikasi. Edisi perubahan dapat dilihat pada Selular edisi Februari 2015, dengan tema “Tahta Samsung Terancam” sebagai laporan utama.

Baca Juga:  Majalah Selular Edisi 204 Maret 2017: Menelisik Fitur Kamera Smartphone

Selular.ID

Selular.IDDemi mengejar ketertinggalan, kami segera melakukan pembenahan. Selain berganti nama menjadi www.selular.id, perubahan paling mencolok terletak pada tampilan yang lebih catchy, rubrikasi dan konten yang semakin bervariasi. Khusus konten, jumlahnya yang ditingkatkan menjadi 20-25 berita per hari. Berita yang ditayangkan juga lebih up to date dan mengedepankan aspek proximity (kedekatan). Artinya, berita yang layak tayang adalah berita hasil liputan langsung reporter di lapangan. Untuk berita-berita saduran, jumlahnya dibatasi. Dengan berita yang berasal dari dalam negeri sendiri, diharapkan dapat membangun kedekatan Selular dengan nara sumber, industri dan juga para pembaca umum. Format baru Selular.ID sudah mulai dinikmati pembaca mulai Januari 2014.

Selain berita yang bersifat localized, Selular.ID juga mulai memproduksi video news. Konten masa depan ini, menjadi pembeda utama (differentiation) Selular dengan para pesaing. Menariknya, tak hanya melulu seputar produk, konten video yang diproduksi juga meluas ke berbagai isu ICT terkini, dengan standar penyajian layaknya industri broadcasting. Selain men-challenge kami untuk lebih kreatif, konten video juga memberikan kesempatan kepada industri untuk memperluas medium berita tak hanya teks dan photo.

Perubahan yang signfikan dari Selular.ID termasuk konten video rupanya menjadi daya tarik bagi pembaca. Terbukti hingga artikel ini ditulis dan naik tayang pada minggu kedua Juli 2015, Alexa Rank Selular.ID sudah semakin rendah, yakni 1.107. Meninggalkan para pesaing terdekat yang sudah cukup lama bercokol di segmen ini.

Selular TV

Selular TVEra digital sesungguhnya memberi kesempatan kepada industri media untuk memonetisasi beragam peluang baik dari sisi core maupun non core business, agar dapat menghasilkan revenue lebih banyak dan dari beragam sumber. Itu sebabnya, ide memberdayakan TV digital tak perlu berlama-lama. Apalagi Selular TV yang ditayangkan di Youtube, sebenarnya sudah hadir sejak beberapa tahun lalu.

Berbarengan dengan konten video yang dipasok untuk Selular.ID, Selular TV wajah baru juga ditayangkan. Pemirsa bisa mengakses langsung ke Youtube atau mampir dulu ke laman Selular.ID. Selain video seperti unboxing, review, marketing event dan liputan ekslusif, konten lain yang bisa diakses adalah Bincang Eksekutif yang menampilkan para nara sumber top di bidangnya.

Tabloid Aksesoris

AKSESORIS EDISI 1-kecilMedia cetak sesungguhnya tidak akan mati. Kebutuhannya tetap ada, namun lebih spesifik ke ceruk tertentu (niche market). Dengan prinsip tersebut dan melihat peluang yang ada, sejak Juni 2015, SMG meluncurkan unit baru, yakni Tabloid Aksesoris. Ini adalah tabloid gratis yang terbit di setiap pertengahan bulan, berisi panduan belanja produk-produk aksesoris ponsel. Sebagai media antar pedagang, penyebarannya dilakukan di sentra-sentra ponsel terkemuka, seperti Roximas, Mal Ambasador, ITC Fatmawati, ITC, ITC Cempaka Mas, PGC dan lainnya. Secara bertahap sirkulasi akan terus meluas ke berbagai kota lain di tanah air. Kehadiran Tabloid Aksesoris melengkapi penerbitan khusus di lingkungan SMG, yakni Referensi Selular dan Smartphone yang terbit setahun sekali.

Selular Digital

Majalah digital bisa disebut sebagai sub species dari media online. Sesungguhnya kehadiran majalah versi online ini sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Namun pamornya mulai melejit seiring kehadiran Majalah Detik dan MALE (Mata Lelaki) yang diterbitkan oleh Grup Detikcom. Format yang tak lagi PDF semata, membuat pembaca bisa mengunduh sesuai OS yang dimiliki, bisa iOS atau Android. Selain sesuai dengan ukuran tablet atau smartphone, tampilannya bisa interaktif. Bisa memadukan teks, photo dan video. Hal ini membuat Majalah digital mulai diminati, baik bagi pembaca maupun pemasang iklan. Menyadari masa depan media ada pada tablet, SMG saat ini tengah membangun platform majalah digital, yang menurut rencana akan diterbitkan pada September 2015 mendatang.

Di luar ke lima unit bisnis tersebut, SMG juga terus memperkuat pijakan di berbagai sosial media yang terus happening. Seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Selain berfungsi membangun relationship dengan pembaca, sosial media memiliki peranan penting bagi penyebarluasan promosi yang bersifat real time dan viral yang sangat penting bagi brand atau corporate.

Selain integrasi dengan sosial media, SMG juga mulai mengeksekusi program marketing public relation, dengan menggelar Selular Forum. Event perdana yang melibatkan para praktisi dan media ini, menurut rencana akan digelar pada 5 Agustus 2015. Aktifitas off-air ini menjadi sarana bagi para pelaku industri dalam membahas isu-isu penting di industri ICT. Selular Forum melengkapi program tahunan Selular Award yang telah sukses diselenggarakan hingga tahun ke-12 pada April 2015 lalu.

URL: http://selular.id/cMVBnZ